
Setelah beberapa saat saling berpelukan, akhirnya Nio perlahan melepaskan tautan tubuh mereka saat tak sengaja melirik ke arah jam dinding yang saat itu sudah menunjukkan pukul 21.10 malam.
"Hmm, ada baiknya aku mandi dulu, seharian berada di luar rumah membuatku cukup merasa gerah saat ini." Ungkap Nio lembut.
"Iya, lebih baik memang seperti itu." Jawab Rena sembari mulai menutup hidungnya seolah sedang kebauan.
Melihat hal itu sontak membuat Nio mendengus pelan sembari tersenyum.
"Bukankah untuk bereaksi seperti itu sudah sangat terlambat?? Mengingat sebelumnya kamu memeluk tubuhku dengan begitu erat??" Ejek Nio sembari mengusap singkat ujung kepala Rena.
Rena pun akhirnya kembali terkekeh.
"Ya sudah, mandilah dulu, biar lelahmu hilang."
Nio pun mengangguk patuh dan mulai beranjak dari atas ranjang Rena.
"Kamu tidak berniat untuk mandi bersamaku, Rena?" Tanya Nio dengan senyuman yang menggoda.
Lagi-lagi pertanyaan itu membuat Rena tersenyum geli, namun dengan cepat ia menggelengkan kepalanya.
"Tidak untuk kali ini," jawabnya dengan senyuman lebar.
"Hmm ok, nevermind!" Jawab Nio yang nampak melesu, namun tetap terlihat sebuah senyuman hangat dari wajah tampannya.
"Kamu mandi di kamarmu?" Tanya Rena dengan tenang.
"Iya," Jawab Nio yang kembali meraih tas ranselnya dari atas sofa dan langsung beranjak pergi begitu saja.
"Apa kamu akan kembali ke sini?" Tanya Rena yang masih menampilkan senyumannya yang khas.
"Tergantung!" Jawab Nio santai yang juga menampilkan senyuman tipisnya.
"Tergantung?? Tergantung apa?" Dahi Rena pun mulai nampak sedikit mengkerut.
"Tergantung kamu, kamu ingin aku kembali lagi kesini setelah mandi, atau tidak." Jawab Nio.
Rena pun kembali terkekeh pelan.
"Jadi semua keputusanmu bergantung pada jawabanku??"
"Iya." Jawab Nio mengangguk penuh keyakinan.
"Hmm ok, kalau begitu tolong segeralah kembali setelah mandi!" Ucap Rena yang masih mengutas senyuman.
__ADS_1
"Jadi kamu ingin aku kembali?? Hmm, ok!" Nio pun seketika semakin melebarkan senyumannya, lalu akhirnya beranjak keluar dari kamar Rena membawa rasa senangnya.
Rena pun ikut tersenyum lebar saat memandangi punggung Nio, lalu memilih untuk kembali berbaring di atas ranjangnya untuk lanjut menonton film.
Waktu seolah begitu cepat berlalu, kini tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 22.00 malam, Nio yang sudah merasa lebih segara dari sebelumnya, akhirnya kembali masuk ke kamar Rena. Namun sayang, saat itu Rena nampaknya sudah tertidur lelap di atas ranjang dalam keadaan tv yang terus menyala.
Melihat hal itu, Nio pun hanya mengutas sebuah senyuman tipis sembari terus melangkah dengan tenang ke arahnya.
"Kamu tidur Rena?" Tanyanya lembut saat mulai duduk di tepi ranjang.
Namun tentu saja tidak ada jawaban dari Rena, karena saat itu ia benar-benar sudah tertidur dengan begitu lelapnya. Nio pun mulai mengusap lembut ujung kepala Rena dengan sebuah senyuman tipis yang seolah tak lekang dari wajahnya.
"Tidurlah, kamu kelihatannya sangat lelah hari ini." Ucap Nio lembut, yang kemudian mengecup lembut pipi Rena.
Tak ingin mengganggu Rena yang sudah terlelap, Nio pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamarnya, entah kenapa instingnya saat itu seolah memintanya untuk tidur di kamarnya sendiri.
Nio mulai terbaring dengan tenang di atas ranjangnya dengan sebelah tangannya ia letakkan di bawah kepalanya seolah tangan itu ia jadikan sebagai bantal. Sorot matanya juga mulai menatap kosong ke arah langit-langit kamar, dengan segala macam pikiran yang saat itu memenuhi isi kepalanya, membuatnya jadi melamun sejenak, hingga akhirnya tanpa sadar ia juga mulai terbuai masuk ke alam mimpi.
Sisi lain di sebuah cafe...
Aldy dan beberapa teman yang lainnya termasuk Rio, nampak tengah berkumpul di sebuah cafe kekinian tempat dimana anak muda sering nongkrong. Mereka terlihat tengah sibuk mempersiapkan sesuatu untuk seseorang yang ternyata sedang berulang tahun, siapa lagi kalau bukan Nio. Ya, mereka berencana untuk memberi kejutan pada Nio setelah mengerjainya seharian dengan cara mendiaminya. Tapi sepertinya Nio sendiri bahkan melupakan moment yang cukup penting itu hingga ia sama sekali tidak menyadari hal itu.
"Tinggal kuenya saja yang belum, bukankah untuk urusan itu Sonia yang berjanji untuk membawanya?" Ungkap Rio.
"Ah iya benar, lalu dimana dia? Kenapa belum muncul juga jam segini?" Tanya Aldy yang mulai kembali melirik ke arah jam tangannya.
Saat itu jam terlihat sudah menunjukkan pukul 23.00 malam, hanya tersisa satu jam saja lagi untuk menuju jam 12 dimana mereka akan mengejutkan Nio tepat di jam 12 malam.
Tak lama beberapa orang wanita datang bergabung sembari membawa kotak yang cukup besar.
"Hei semuanya." Sapa salah satu wanita yang diketahui adalah teman Sonia.
"Eh hai Ria, dimana Sonia??" Tanya Rio.
"Sonia akan sedikit terlambat, tapi dia sudah menitipkan kue ini." Jawab Ria sembari memberikan kotak yang ia bawa.
Aldy pun meraih kotak itu lalu membukanya untuk lebih memastikan, terlihat sebuah bolu black forest yang terlihat begitu nikmat sudah berada di dalam kotak itu dengan bertuliskan "Happy birthday Antonio" dan di tengahnya juga ada dua buah lilin yang membentuk angka 26 tahun.
"Ok good, sudah tidak ada masalah lagi sekarang." Ucap Aldy tersenyum sembari menutup kembali kotak kue itu.
"Kita berangkat sekarang?" Tanya Rio sembari mulai bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Ayo!!"
"Ayo kita berangkat ke rumah Nio sekarang, tolong jangan ada yang ketinggalan." Ajak Rio pada teman-teman mereka yang lainnya.
Mereka pun pergi berombongan dengan menggunakan beberapa mobil menuju ke rumah Nio, tanpa Nio tau, tanpa Nio sadari, mereka telah menyiapkan acara kejutan ulang tahun ini demi membuatnya setidaknya bisa sedikit merasa senang dan terhibur.
Satpam yang berjaga di pos yang ada di gerbang rumah Nio tiba-tiba terkejut saat mendapati ada beberapa mobil yang ingin masuk ke dalam pekarangan rumah Nio saat waktu sudah begitu larut.
Satpam itu pun langsung bergegas menghampiri salah satu mobil yang berada paling dekat denga gerbang untuk mulai mengintrogasi.
"Selamat malam pak." Sapa Aldy dengan sebuah senyuman yang begitu ramah.
Satpam itu pun akhirnya ikut tersenyum karena ia sudah cukup mengenal sosok Aldy dan Rio yang sudah sangat sering berkunjung ke rumah itu.
"Oh astaga mas Aldy ternyata,"
"Hehehe iya pak, kami datang untuk memberi kejutan pada Nio yang beberapa menit lagi, akan berulang tahun." Jelas Aldy dengan tenang.
"Oh benarkah? Ah baiklah kalau begitu, silahkan masuk mas." Satpam yang percaya pun langsung membukakan pintu gerbang itu tanpa adanya rasa ragu sedikit pun.
Aldy dan teman-temannya pun memarkirkan mobil mereka tak jauh dari teras rumah Nio, lalu Rio yang sebelumnya sudah menyimpan nomor telepon bi Inah, langsung menghubungi bi Inah. Saat itu bi Inah tentu saja sudah tertidur pulas, namun deringan suara telpon yang begitu nyaring sontak membuatnya tersentak.
"Halo, siapa ini?" Tanya Bi Inah tanpa membuka matanya.
"Bi Inah, ini aku Rio,"
"Rio??" Tanya bi Inah yang belum sepenuhnya sadar.
"Iya bi, aku Rio, teman kuliah Nio, masa bibi tidak menandai suaraku." Jawab Rio yang sedikit protes.
Bi Inah pun sontak membuka matanya, lalu mulai bangkit dari duduknya.
"Oh astaga, mas Rio??"
"Hehe iya bi."
"Kenapa mas? Kenapa tumben sekali menelpon bibi malam-malam begini?"
"Bi, bisakah bibi membuka pintu? Aku dan teman-teman yang lain sudah berada di depan rumah, kami ingin memberi kejutan pada Nio yang beberapa menit lagi berulang tahun." Pinta Rio.
Mendengar hal itu sontak membuat bi Inah terperanjat karena ia juga melupakan moment ulang tahun Nio.
"Oh ya ampun, ah iya benar, mas Nio ulang tahun besok. Astaga bibi lupa." Keluh bi Inah yang kemudian langsung bergegas keluar dari kamarnya untuk menuju pintu.
__ADS_1
...Bersambung......