Kecanduan Ibu Tiri

Kecanduan Ibu Tiri
Tanggung jawab yang menyenangkan


__ADS_3

Rena pun berteriak geli saat Nio menyapukan tepung terigu ke wajahnya, lalu kembali membalasnya hingga membuat mereka melupakan sejenak niat awal mereka untuk membuat kue ulang tahun dan justru malah berperang saling melempar tepung.


Rena nampaknya begitu bergembira saat itu, hal itu begitu terlihat jelas dari raut wajahnya yang terus sumringah. Begitu pula dengan Nio, ini pertama kali dalam hidupnya, melakukan aktivitas di dapur bersama wanita yang ia cintai, ternyata sangat menyenangkan.


Tak terasa beberapa jam pun berlalu, setelah kembali fokus, akhirnya kue ulang tahun pun berhasil mereka buat.


"Wahh, sangat tidak menyangka akhirnya kita berhasil membuat kue ini." Celetuk Nio yang merasa takjub memandang kue hasil buatan mereka.


"Sementara aku menghias kue ini, lebih baik kamu bersih-bersih dulu, setelah itu kita tiup lilin bersama, ok?"


"Haissh, apa aku benar-benar harus mandi lagi?" Tanya Nio yang terlihat sedikit malas.


"Lihatlah dirimu, sudah seperti adonan kue, apa perlu aku panaskan minyak goreng untuk menggorengmu?"


"Hmm iya, iya." Nio pun tersenyum geli.


"Lalu bagaimana denganmu?" Tanya Nio kemudian.


"Aku akan mandi setelah selesai dengan kue ini," Jawab Rena santai.


"Ah jangan begitu, ayo mandi bersama." Ajak Nio yang kembali melebarkan senyumannya sembari mulai menarik pelan tangan Rena.


"Mandi bersama? Hais tidak, tidak!"


"Kenapa??" Dahi Nio pun nampak mengkerut.


"Nanti yang ada bukan malah mandi, tapi..."


"Tapi apa??" Nio pun kembali tersenyum menggoda.


"Sudahlah, kamu saja mandi duluan." Rena pun menolak pelan tubuh Nio sembari tersenyum malu.


"Tidak mau!! Ayo mandi bersama saja." Nio pun kembali menarik tangan Rena.


"Tapi..."

__ADS_1


"Ayoooo." Nio kali ini nampaknya sedikit memaksa dan terus menarik tangan Rena.


Hingga akhirnya Rena tidak bisa menolak keinginannya lagi dan kemudian hanya bisa pasrah mengikuti langkah Nio yang kala itu terus menarik tangannya menuju ke kamarnya.


Dan benar saja, begitu memasuki toilet dan menutup pintunya, Nio langsung saja memeluk tubuh Rena dari belakang, membuat Rena mulai kembali tersenyum dan menatapnya.


"Jangan bilang kita akan melakukannya lagi." Ucap Rena pelan.


"Tidak, aku hanya ingin memeluk dan menciummu saja." Jawab Nio yang ikut tersenyum sembari mulai mencium bibir Rena.


Awalnya ciuman itu memang terasa lembut, namun lama kelamaan, ciuman yang lembut itu kian berubah menjadi penuh tuntutan. Nio pun memutar tubuh mungil Rena, membuatnya kini jadi berdiri menghadap Nio. Tanpa berkata apapun lagi, Nio kembali melahap bibir Rena, bahkan tidak peduli seberapa banyak tepung yang kala itu menempel di wajah mereka, hal itu tidak membuat gairah Nio pada Rena padam.


Kini perlahan Nio mulai melangkah, membawa Rena ke arah shower kamar mandi dan berdiri di bawahnya. Dengan sebelah tangannya Nio menghidupkan shower, seketika guyuran air yang berjatuhan mulai membasahi tubuh keduanya, namun hal itu tidak membuat ciuman mereka berakhir.


Selang beberapa menit, Nio mulai melepaskan tautan bibir mereka, lalu mulai membuka baju serta celana Rena yang sudah basah, begitu juga dengan Rena yang membantu Nio melepaskan seluruh pakaiannya.


Melihat Rena yang sudah terlihat polos tanpa busana, membuat birahi Nio sebagai lelaki semakin memuncak, kedua tangannya mulai membelas lembut permukaan kulit Rena dari pipi, hingga ke pinggul.


"Kamu sangat mengagumkan, Rena." Ucapnya setengar berbisik.


Nio menyandarkan tubuh Rena ke tembok kamar mandi, mengikat kedua tangan Rena dengan sebelah tangannya yang kokoh dan meletakannya ke atas kepala wanita itu, lalu kembali menciuminya hingga ke leher.


Setelah puas melakukannya, Nio mulai meraih sabun cair, lalu menyapukannya ke seluruh tubuh Rena, aroma sabun cair yang begitu kuat terasa di indera penciuman mereka, menambah gairah Nio semakin tak terkendali, Nio kembali mencium Rena seraya kedua tangannya terus menyapukan sabun cair itu ke punggung Rena.



Kedua nafas mereka mulai beradu dan saling berseteru, Rena bahkan dibuat mulai melenguh dengan keadaan mata yang dibuat terbuka lalu menutup saat sebelah tangan Nio mulai meraba bagian intinya.


"Buk,, bukankah,, ki,, kita hanya akan mandi?" Tanya Rena dengan nafas yang jadi begitu terengah saat Nio terus memainkan bebas tangannya hampir di setiap inci tubuh Rena.


"Ya, bukankah kita memang sedang mandi sekarang?" Jawab Nio pelan.


"Ta,, tapi kenapa??" Rena semakin terengah saat Nio terus memainkan tangannya di bawah sana.


"Kenapa Rena?" Bisik Nio seolah tak tau apa-apa,

__ADS_1


Membuat Rena semakin tak karuan dibuatnya.


"Nio, stop! Sebaiknya kamu hentikan, jangan melanjutkannya." Ucap Rena pelan yang terus melenguh.


"Tapi kenapa Rena? Kupikir kamu menyukainya." Ucap Nio yang seolah tak peduli dan terus memainkan jemarinya sembari terus menciumi area leher Rena.


"Ka,, karena,,, ak,, aku..."


Namun seketika Nio pun menghentikan aksinya dan kembali menatap Rena dengan senyuman hangat.


"Ya aku tau, karena kamu sudah basah Rena, di bawah sini, sudah sangat basah." Bisik Nio lagi sembari kembali meraba singkat bagian inti Rena.


"Baiklah, aku akan berhenti jika kamu yang meminta." Tambah Nio lagi yang terus tersenyum dan seolah ingi menjauh dari tubuh Rena.


Namun Rena yang sudah terlanjut dikuasai api gairah, tentu sudah sangat terlambat untuk menyudahi hal yang bahkan belum berakhir. Dengan cepat Rena mengalungkan kedua tangannya di leher Nio dengan tatapan tak biasa.


"Kamu pikir dengan apa yang sudah kamu lakukan terhadapku, kamu bisa lolos begitu saja dan lepas tanggung jawab?" Tanya Rena.


Nio pun tersenyum sembari memainkan singkat lidahnya,


"Aku tidak mengerti apa maksudmu." Ucap Nio yang terus tersenyum seolah bersikap tidak tau apa-apa.


"Aku minta agar kamu tanggung jawab, sekarang!!" Tegas Rena lagi yang semakin erat mengalungkan tangannya di leher Nio.


Nio dengan senyuman yang semakin melebar, akhirnya kembali bersuara.


"Lalu apa yang harus aku lakukan?"


"Tolong tuntaskan apa yang perlu di tuntaskan!"


"Ah baiklah, dengan sangat senang hati." Jawab Nio yang kembali memeluk pinggang Rena dan lagi lagi langsung menyambar bibirnya begitu saja.


Beberapa menit telah berlalu, suara erangan Rena pun begitu nyaring terdengar, begitu menggema di ruangan itu dan seolah tengah bersahut-sahutan dengan suara rintikan air shower yang deras.


Rena tidak peduli lagi dengan seberapa keras suara desahannya kala itu, mengingat tidak ada siapapun di rumah, membuatnya bebas berekspresi semaunya. Hari itu adalah hari yang benar-benar tidak berbatas bagi mereka, mereka bisa melakukannya dimana pun yang mereka inginkan. Melakukannya di tempat yang baru dan terkesan sedikit ekstrem juga ternyata memiliki kenikmatan tersendiri bagi keduanya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2