
Rena lagi-lagi mengangguk pelan.
"Raut wajahmu seketika nampak berubah saat aku mulai membahas orang ini, apa sebaiknya aku berhenti bercerita?" Tanya Rena kemudian.
"Lanjutkan!" Jawab Nio pelan.
"Kamu yakin masih ingin mendengarnya?" Tanya Rena lagi.
"Bagaimana akhirnya kalian bisa menjalin hubungan? Lalu, apa kalian juga....???"
"Iya!" Jawab Rena cepat bahkan sebelum Nio menyelesaikan ucapannya.
Nio pun terdiam seketika, dengan tatapan yang berbeda saat menatap Rena.
"Jika kamu bertanya apakah aku pernah melakukan hubungan ranjang dengannya, jawabannya sudah pasti pernah, bahkan sering! Bahkan dia adalah orang pertama yang mengenalkan aku tentang kenikmatan itu hingga aku jadi tak bisa lepas dari hal itu hingga saat ini." Tambah Rena seolah tanpa ragu.
Nio pun mulai mendengus pelan sembari menundukkan kepalanya, mendadak ia terlihat tertawa pelan, namun sebuah tawa yang terlihat sangat lirih.
"Tapi,,," Ucap Rena yang kemudian terlihat ragu-ragu.
Nio lagi-lagi menatapnya dengan wajah sedikit masam.
"Tapi apa?" Tanyanya.
"Ini tidak seperti yang ada di dalam pikiranmu saat ini, Nio."
"Maksudmu?" Tanya Nio lagi dengan dahi yang nampak mengernyit.
"Hmm mungkin saat mengetahui fakta ini, akan membuatmu jadi berpikir ulang untuk mencintaiku, bahkan mungkin bisa saja kamu langsung ilfeel denganku."
"Fakta apa Rena??"
__ADS_1
"Nio, sebelum menikah dengan ayahmu, aku,,, hmm aku adalah seorang janda! Dan aku melakukan hubungan ranjang pertama kali juga setelah menikah." Ungkap Rena yang awalnya sedikit ragu, namun akhirnya ia tetap melanjutkan ucapannya.
Membuat kedua mata Nio sontak membesar.
"Jadi sebelumnya kamu sudah pernah menikah?? Apa papaku tau soal ini?"
Rena pun menggeleng pelan.
"Tidak?? Bagaimana dia bisa tidak tau??" Nio lagi-lagi nampak terkejut.
"Ya, ini lagi-lagi salahku, aku tidak sepenuhnya jujur dengan papamu, tidak sepenuhnya terbuka tentang masa laluku padanya."
"Tapi kamu memberitahu hal ini padaku???"
"Hmm entahlah, saat denganmu, aku merasa hal yang berbeda, aku bahkan bisa sangat lepas saat menceritakan pengalaman pahitku di masa lalu. Aku juga tidak tau kenapa aku lebih terbuka padamu sekarang, dibanding dengan papamu, suamiku sendiri." Ungkap Rena yang kembali tertunduk lesu.
"Rena, apa lelaki yang kamu ceritakan ini yang menikahimu sebelum papa?"
"Iya, dialah suami pertamaku, kami tidak menjalani proses pacaran, kejadian yang menimpa ibuku, cukup membuatku trauma pada lelaki saat itu, hingga aku memutuskan untuk tidak mau menjalin hubungan dengan siapapun. Tapi lelaki itu, dia terus berusaha meyakinkanku jika tidak semua lelaki seperti ayahku, dia terus mendekatiku dan terus menerus menyiramiku dengan kebahagiaan yang bertubi-tubu saat itu. Akhirnya akupun luluh saat dia memutuskan untuk menikahiku, kami menikah dan,,,," Ucapan Rena mendadak terhenti.
"Dan apa? Apa yang terjadi? Apa lelaki itu berselingkuh setelah kalian menikah?"
"Tidak!" Jawab Rena sembari menggelengkan cepat kepalanya.
"Dia tidak pernah menyelingkuhiku, aku tau dia bahkan sangat mencintaiku saat itu, tapi,,, hubungan yang kami jalani sangat rumit."
"Serumit apa? Apa bisa mengalahkan rumitnya hubungan kita saat ini?" Tanya Nio menyelidik.
"Bahkan bagiku jauh lebih rumit hubunganku yang dulu."
"Apa yang membuatnya rumit??"
__ADS_1
"Setelah menikah, awalnya semuanya terasa normal dan sangat membuatku bahagia. Meskipun pernikahan kami tidak banyak yang tau, karena saat itu kami berada di dalam satu band yang terikat kontrak oleh beberapa cafe yang tidak menginginkan adanya hubungan yang di publikasi oleh masing-masing personil. Hingga pada suatu malam, tepat sebulan pernikahan kami, dia membuat pengakuan mengejutkan padaku. Dia mengatakan jika selama ini dia kurang merasa puas dengan hubungan ranjang kami, dia bahkan mengaku kalau dia memiliki fetish."
"Fetish?? Apa semacam kelainan seksual?"
"Ya." Rena pun mengangguk pelan.
"Dia mengatakan, jika dia akan merasa sangat bergairah dan puas jika sebelum melakukan hubungan ranjang, dia terlebih dulu berhasil membuat pasangannya jadi menangis kesakitan." Tambah Rena lagi.
"What???" Lagi dan lagi, Nio nampak begitu terkejut serta terheran-heran.
"Saat itu, karena aku sudah terlanjur sangat mencintainya, juga sudah terlanjur begitu menyukai *3**, aku pun rela melakukan apa saja demi membuatnya merasa puas dan bergairah saat melakukannya dengan ku. Awalnya dia menolak dengan alasan tidak tega menyakitiku, tapi aku yang dengan bodohnya memaksanya untuk melakukan hal itu."
"Astaga Rena,, are you crazy???" Nio pun mendengus.
"Entah mana yang lebih tepatnya, antara gila atau bodoh, atau bahkan dua-duanya, aku juga tidak tau. Namun sejak saat itu, sebelum kami melakukan hubungan ranjang, dia pun mulai menyiksaku, dia menamparku berkali-kali, memukulku, menendangku, bahkan menghinaku habis-habisan, aku yang tidak tahan rasa sakitnya akhirnya mulai menangis. Dan benar saja, melihatku menangis dia seolah terlihat begitu nafsu padaku, dia bahkan semakin gila memukuliku, membuatku semakin menangis dan itu membuat gairahnya berada di puncak. Setelahnya, baru dia akan mulai menjamahku, menciumiku dengan begitu nafsu, bahkan dia menyapu seluruh air mataku dengan bibirnya."
"Adakah orang gila semacam itu? Tidakkah itu terdengar seperti psikopat??"
"Entahlah, itu berlangsung terus menerus selama lebih kurang 3 bulan lamanya. Awalnya aku berusaha tegar dan masih menikmati hubungan ranjang kami, karena rasa cintaku. Tapi lama kelamaan, aku tidak tahan lagi, tubuhku seakan terus menjerit setiap kali dia sedang menyalurkan fetishnya. Semakin aku menangis, dia semakin menggilaiku, hal itu kadang membuatnya hilang kendali saat memukuliku agar aku semakin menangis. Aku tidak kuat, meskipun setiap selesai berhubungan dia selalu minta maaf, tapi tetap saja hal itu tidak membuat tubuhku kembali baik-baik saja, tidak membuat memar di kulitku seketika menghilang."
"Rena, kamu sungguh bodoh sekali!" Nio yang tak tahan mendengar Rena diperlakukan tidak baik oleh mantan suaminya terdahulu pun seketika kembali memeluknya.
"Kenapa kamu sangat bodoh hingga harus menunggu sampai tiga bulan dalam keadaan seperti itu? Lelaki seperti itu bisa saja membunuhmu saat hilang kendali ketika menghajarmu!" Ucap Nio lirih yang merasa sangat tidak tega, juga merasa kesal pada lelaki itu disaat yang bersamaan.
"Aku juga tidak tau kenapa dulu aku bisa sebodoh itu, demi membuatnya agar bisa lebih bergairah denganku, aku bahkan rela mengorbankan diriku, mengorbankan tubuhku untuk terus menerus dipukuli dengan cara yang sangat tidak manusiawi,"
Nio pun kembali mengeratkan pelukannya.
"Kalau sebelumnya aku kabur dari rumah dan menjadi kesalahan terbesar yang membuatku menyesal seumur hidup, namun saat itu keputusanku untuk kabur dari rumah dan kabur darinya adalah pilihan terbaik yang pernah aku pilih, dan aku tidak menyesal saat berhasil lepas darinya." Ungkap Rena lagi,
"Syukurlah, andai kita dipertemukan jauh lebih awal sebelum kamu bertemu dengan papa, mungkin akulah orang pertama yang akan menyelamatkan hidupmu Rena." Ungkap Nio dengan begitu lembut.
__ADS_1
"Tapi meski terlambat, aku sangat senang bisa mengenalmu Nio, kamu definisi lelaki yang nyaris sempurna di mataku. Bukankah akan sangat beruntung siapa saja wanita yang akan menjadi istrimu kelak?" Jawab Rena dengan lembut yang perlahan mulai melepaskan tautan tubuh mereka.
Bersambung....