Kecanduan Ibu Tiri

Kecanduan Ibu Tiri
Tidak bertemu


__ADS_3

"Jika benar begitu, lalu kamu anggap apa aku ini, Rena?" Kini, kedua tangan Nio mulai mencengkram lengan Rena.


"Apa sejauh ini cuma aku saja yang begitu menggebu mencintaimu? Lalu kenapa kamu bersedia melakukan hubungan ranjang denganku? Apa hanya karena sebatas ingin menyalurkan nafsumu saja? Iya?" Nio pun mulai menatap Rena dengan tajam.


Rena, matanya sontak membesar saat Nio mengatakan hal itu padanya, hatinya cukup sakit saat Nio menilainya buruk.


"Jawab aku Rena!!"


"Ini tidak seperti yang kamu pikirkan, bagaimana bisa kamu berfikir begitu buruk padaku? Apa karena aku yang sudah mengkhianati papamu dengan cara tidur denganmu? Apa karena hal itu kamu menilaiku buruk?" Rena pun tak kalah meninggikan suaranya.


"Jika memang karena itu kamu menilaiku buruk, maka kejadian tadi pagi adalah yang terakhir dan kupastikan hal itu tidak akan pernah terulang kembali!!" Tegas Rena yang langsung menolak tubuh Nio.


Membuat cengkraman tangan Nio pada kedua lengannya pun terlepas begitu saja.


"Dan masalah pak Eko, sama sekali tidak ada perasaan apapun padanya!! Dia bercerita jika beberapa bulan lalu ia baru saja ditinggalkan oleh dua anaknya yang kembar karena terjangkit penyakit menular. Itulah sebabnya aku mencoba untuk menghiburnya, tidak lebih." Jelas Rena lagi.


Mendengar hal itu, akhirnya Nio pun terdiam, perasaan cintanya pada Rena yang tak terkendali, membuatnya jadi cemburu buta yang berlebihan hingga mengutarakan hal-hal yang menyakiti hati Rena.


"Sudah cukup, tolong kamu keluar sekarang!!" Rena pun langsung berbalik badan membelakangi Nio.


Ucapan Nio sebelumnya benar-benar telah menyinggung perasaan Rena, padahal tanpa sepengetahuan Nio, Rena pun mulai merasakan adanya benih-benih cinta pada Nio.


Rena pun mulai menangis, membuat Nio seketika tersadar dan menyesali perkataannya pada Rena.


"Rena,, ak,, aku..." Nio bergegas mendekati Rena lalu menyentuh pundaknya.


Namun dengan cepat Rena menepis tangannya, dan mulai mendorong tubuh kokoh itu ke arah pintu kamar.


"Sudah cukup!! Tolong keluar Nio!" Tegasnya.


"Rena, tolong..."


"Keluar!!!" Bentak Rena kembali meninggikan suaranya yang saat itu seolah tak membiarkan Nio untuk menjelaskan apapun lagi.


Membuat Nio seketika terdiam saat melihat kobaran api kemarahan yang terpancar begitu jelas dari sorot mata Rena.


"Keluar!!" Rena kembali mendorong Nio dengan sekuat tenaga.


Tak ada yang bisa Nio lakukan saat itu kecuali akhirnya pasrah saat tubuhnya harus didorong keluar oleh Rena, wanita yang baru saja ia buat menangis.


Rena kembali menutup rapat pintu kamarnya setelah Nio berhasil ia dorong keluar. Nio pun terdiam, menatap nanar pintu kamar Rena yang telah tertutup rapat.


Sementara Rena, ia langsung kembali ke atas ranjangnya, ia berbaring sembari kembali menangis. Seseorang yang baru saja berhasil membuatnya melayang bahagia, seseorang yang baru saja menciptakan benih-benih cinta di hatinya, kini dengan tega menyakiti perasaannya dengan penilaian buruk yang ia lontarkan.

__ADS_1


"Bagaimana bisa kamu menduga aku menyukai pak Eko hanya karena aku sanggup menikah dengan lelaki paruh baya? Padahal sebenarnya, aku juga mulai mencintaimu? Tapi apa aku pantas mengatakan perasaanku ini padamu? Seseorang yang sudah menjadi anak tiriku?" Gumam Rena lirih dalam hati."


2 Hari kemudian...


Dua hari sudah lamanya Nio dan Rena tidak saling bertegur sapa. Selama dua hari itu, Rena terus menghindari Nio, dia bahkan tidak ingin makan satu meja dengan Nio. Rena hanya ingin keluar dari kamarnya jika ia sudah memastikan jika saat itu Nio benar-benar sudah pergi ke kampus. Sementara saat sarapan dan makan malam, ia memilih untuk meminta bi Inah mengantarkan makanan ke kamarnya dengan alasan jika ia sedang tidak enak badan, hal itu memang sengaja ia lakukan hanya agar ia tidak perlu bertemu dengan Nio.


Sementara Nio, dua hari tidak melihat wajah Rena, benar-benar membuatnya sangat frustasi, namun apalah daya, hingga saat itu juga ia masih belum berhasil membujuk Rena agar mau memaafkannya.


Rena melirik ke arah jam dinding yang tergantung tepat di hadapannya, saat itu jarum jam nampak tengah menunjukkan pukul 15.35 sore. Entah sudah berapa lama Rena terbaring di kamarnya, bahkan sejak pagi tadi ia sama sekali tidak ada keluar kamar. Ia lebih memilih menghabiskan waktu di kamarnya dengan cara menonton film dari sebuah aplikasi streaming.


*Tok,,tok,,tok*


Suara ketukan pintu tiba-tiba terdengar, saat itu Rena hanya melirik singkat ke arah pintu kamarnya, namun tetap membuatnya sama sekali tidak bergeming.


"Itu pasti Nio, hmm untuk apalagi dia datang." Gumam Rena lirih.


Rena pun memilih untuk tetap berada di ranjangnya, dan sama sekali tidak berminat untuk membukakan pintu.


Namun suara ketukan pintu itu kembali terdengar untuk kedua kalinya dan dibarengi pula dengan suara lelaki yang juga sangat familiar.


"Renaa." Panggil seseorang.


Mendengar suara itu, sontak membuat kedua mata Rena membulat sempurna.


*Tok,,tok,,tok*


"Renaa." Panggil Rudy lagi.


Rena pun langsung beranjak dari tempat tidurnya, tanpa pikir panjang langsung melangkah cepat menuju pintu.


*Ceklek*


"Mas??" Ucapnya saat mendapati Rudy yang telah berdiri di hadapannya.


"Kenapa tidak mengabariku kalau mau pulang??! Dan bukankah harusnya,,,," Tanya Rena yang masih nampak terkejut.


"Hmm ya anggap saja ini kejutan, aku harus mendadak pulang karena ada satu dan lain hal." Jawab Rudy yang tersenyum tenang, sembari langsung melangkah memasuki kamarnya.


"Setidaknya aku bisa menyambut kepulanganmu kalau aku tau hal itu, mas."


"Tidak perlu," Jawab Rudy yang langsung menduduki sofa.


Rena pun bergegas menghampiri suaminya, lalu tanpa berkata apapun lagi, langsung duduk dibawah untuk membukakan sepatu pantofel yang membalut kaki Rudy.

__ADS_1


"Apa kamu lelah mas? Mau aku siapkan air hangat?"


"Hmm boleh."


Rena pun tersenyum singkat, setelahnya ia kembali bangkit dan langsung menuju bathup yang ada di kamar mandi.


"Mas, air hangatnya sudah siap."


"Hmm ok, kalau begitu aku mandi dulu."


Rena hanya mengangguk dan memberikan senyuman tipisnya.


Beberapa waktu tidak bertemu, harusnya hari itu adalah hari yang cukup bahagia karena akhirnya ia bisa kembali bertemu dengan suaminya. Namun nyatanya hal itu tidak dirasakan oleh Rena. Begitu pula dengan Rudy yang saat itu nampaknya tidak menunjukkan sikap yang manis pada istrinya, padahal saat itu ia baru saja pulang dari luar kota.


Tak lama, Rudy keluar dengan sudah dalam keadaan jauh lebih segar dari sebelumnya.


"Mas, apa yang ingin mas Rudy makan untuk makan malam ini? Katakan saja, biar aku masakkan."


"Hmm tidak perlu masak untuk makan nanti malam, aku sudah berencana untuk mengajak kalian makan diluar."


"Kalian?" Dahi Rena pun sontak mengkerut.


"Ya, tentu saja kamu dan Antonio."


"Owh." Raut wajah Rena pun seketika berubah.


"Kenapa? Apa ada masalah? Apa Nio ada membuat masalah?"


"Oh ti,, tidak mas, tidak ada." Jawab Rena sembari menggeleng pelan.


"Sungguh?"


"Iya, sungguh." Rena pun akhirnya menampilkan sebuah senyuman keterpaksaan.


"Hmm ok. Lalu dimana anak itu? Apa dia masih belum pulang kuliah?"


"Sepertinya begitu, aku belum ada melihatnya pulang ke rumah ."


"Hmm baiklah, aku telpon dia dulu."


Rudy pun melangkah menuju meja rias, tempat dimana sebelumnya ia meletakkan ponselnya.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2