Kecanduan Ibu Tiri

Kecanduan Ibu Tiri
Kado terindah


__ADS_3

Rena pun lagi-lagi kembali tertunduk malu, karena lagi dan lagi ia selalu saja salah paham dengan Nio. Menjalin hubungan yang sangat ekstrem dan tidak mudah, membuat Rena jadi begitu sensitif terhadap apapun yang menyangkut dirinya maupun Nio.


"Percayalah Rena, cuma kamu saja yang aku mau, bahkan jika kamu mampu menghadirkan seribu Sonia ke hadapanku, itu tidak akan mampu mengubah apapun, terutama isi hatiku!!" Ungkap Nio lagi yang kembali menegakkan pandangan Rena.


Nio benar-benar definisi lelaki yang sangat dibutuhkan oleh Rena, bagaimana tidak, bahkan ia selalu mampu meredakan amarah Rena dengan penjelasannya yang begitu logis dan nada lembut yang bisa menyentuh hati wanita itu. Seolah-olah, Nio bisa menjadi air yang menyejukkan, disaat Rena tengah dikuasai oleh api kemarahan.


"Terima kasih." Ucap Rena pelan,


Mendengar hal itu, sontak membuat Nio tersenyum bingung dengan dahi yang sedikit mengkerut.


"Terima kasih?? Aku menjelaskan panjang lebar tentang isi hatiku, lalu kenapa kamu malah menjawabnya dengan kata terima kasih.


"Ya, terima kasih sudah menjadi air, disaat aku menjadi api." Ucap Rena.


Nio pun terdiam sejenak.


"Kamu, benar-benar bisa meredakan amarahku dengan caramu, bisa meluluhkan hatiku, dan mampu menenangkan hatiku yang sebelumnya merasa begitu tak menentu. Mungkin itu alasannya, kenapa meski aku sudah berjuang mati-matian untuk menghindari perasaan ini, tapi tetap tidak bisa, aku tetap saja mencintaimu." Tambah Rena lagi.


Ungkapan Rena saat itu, akhirnya membuat Nio tersenyum hangat, karena merasa cukup senang saat mendengar Rena mengungkapkan hal itu dengan terlihat sangat tulus.


"Bukankah harusnya aku yang berterima kasih, sejak ada kamu di hidupku, hidupku terasa lebih normal dari sebelumnya. Kehidupan yang dulunya terasa monoton, sepi, membosankan, seketika jadi terasa berwarna saat kamu datang mengisi hatiku. Juga terima kasih, kamu bersedia untuk menjalani hubungan yang tak biasa ini bersamaku."


Rena pun ikut tersenyum saat mendengar ungkapan Nio. Lalu Nio mulai memeluk erat tubuh mungil Rena, seolah tak ingin melepaskannya saat itu.


"Haaissh, aku benar-benar ingin memelukmu seperti itu terus dalam waktu yang lama." Celetuk Nio yang kembali membuat nada bicaranya jadi terkesan terdengar manja.


"Tidak bisa lama-lama karena kamu harus beristirahat!" Jawab Rena yang terus tersenyum sembari mengusap-usap punggung Nio.

__ADS_1


"Aku bahkan lebih ingin terus memelukmu seperti ini semalaman dari pada beristirahat."


"Itu berlebihan!" Rena pun semakin tersenyum.


"Harusnya kamu tidak perlu menyuruh Sonia menginap disini, ataupun jika menyuruhnya menginap, harusnya kamu menyuruhnya tidur di kamar tamu saja, kenapa dia harus tidur bersamamu?"


"Sudah terlanjur, tidak perlu disesali." Jawab Rena dengan tenang.


"Haaissh!! Lalu bagaimana denganku? Aku jadi tidak bisa bersamamu malam ini, bukankah sebelumnya aku sudah di tinggal tidur olehmu, lalu sekarang aku tetap harus tidur sendiri?"


"Jadi kamu kembali ke kamarku tadi?"


"Tentu saja! Tapi saat melihatmu tertidur dengan begitu pulas, aku tidak tega untuk mengganggumu, itulah sebabnya dengan berat hati aku kembali ke kamarku, dan tak lama acara kejutan itu pun terjadi."


"Hmm sepertinya semesta memang sudah mengaturnya, karena jika aku tetap bangun, maka kamu tidak akan berada di kamarmu saat teman-temanmu datang mengetuk pintu itu."


"Hmm ya, anggap saja seperti itu, jadi kali ini lagi-lagi kamu kumaafkan." Jawab Nio yang kembali tersenyum kecut.


"Sekarang katakan, apa kamu sudah memikirkan tentang kadomu? Karena aku akan merasa sangat tidak enak hati jika tidak membelikanmu hadiah." Tanya Rena lagi.


Nio pun terus tersenyum, namun bukan langsung menjawab, Nio justru malah menanyakan keberadaan Sonia.


"Dimana Sonia sekarang?"


"Di kamarku, dan kemungkinan sekarang dia sudah tidur. Kenapa tiba-tiba malah bertanya tentang Sonia?" Lagi-lagi dahi Rena nampak sedikit mengkerut.


"Hmm kalau begitu, sepertinya sekarang aku sudah tau apa yang aku inginkan sebagai kado," ungkap Nio yang kembali menampilkan senyuman yang penuh makna.

__ADS_1


"Apa itu?" Tanya Rena.


"Kamu!" Jawab Nio yang kemudian langsung kembali melahap bibir Rena begitu saja.


Perlahan tapi pasti, ciuman Nio mulai menuntut, membuat Rena perlahan mulai menutup kedua matanya sembari membuka lebar mulutnya seolah memberi kebebasan pada lidah Nio untuk berpetualang di dalam rongga mulutnya.


Nio semakin liar, kedua tangannya bahkan juga ikut menjelajahi tubuh Rena sesukanya. Rena sama sekali tidak menolak perlakuan nakal sang anak tiri, bahkan seolah pasrah dan membiarkan Nio menguasai dirinya kala itu.


Nio semakin tak terkendali, dengan cepat ia mulai mengangkat tubuh Rena dan mendudukannya di atas meja kerja sang ayah. Kembali menciuminya penuh gairah, dari mulai bibir, pipi, dagu, rahang, bahkan hingga leher tidak luput dari serangan bibirnya.


Rena mulai melenguh dengan deru nafas yang tak terkendali, saat kedua tangan Nio mulai menyentuh dan memainkan kedua gundukan daging miliknya.


"Kita akan melakukannya lagi??" Tanya Rena dengan nafas yang mulai terengah.


"Kenapa tidak? Aku sedang meminta kadoku." Jawab Nio di sela-sela ciuman dahsyatnya,


Rena pun tersenyum dan kembali membalas ciuman Nio dengan tak kalah ganas.


Perlahan tapi pasti, baju piyama berbahan satin yang kala itu tengah di pakai oleh Rena, satu persatu kancingnya telah terlepas, dan kini mulai merosot hingga ke pinggangnya, menampilkan pundak serta dadanya yang putih mulus, dengan kedua gundukan daging yang begitu kokoh berdiri dan seolah mengejek di balik bra berwarna navy yang kala itu tengah di pakainya.


Deru nafas dari keduanya yang semakin terengah terus beradu seolah saling memburu, semakin tak terkendali, Rena yang awalnya terduduk, kini sudah berubah posisi menjadi terbaring diatas meja.


Rena bahkan terus menggigiti tangannya sendiri agar suara lenguhannya tidak keluar nyaring saat Nio kembali memainkan lidahnya pada bagian intinya di bawah sana. Permainan itu benar-benar membuatnya dikuasai ilusi yang membuatnya seolah terbang melayang jauh, terasa begitu nikmat, kenikmatan yang begitu susah untuk di ungkapkan, tapi berhasil membuatnya menggila saat itu.


Setelah merasa puas bermainkan lidahnya ke hampir seluruh tubuh Rena hingga membuat Rena seolah melayang-layang, kini saatnya bagi Nio memanjakan kepunyaannya dengan cara memasukkannya ke bagian inti Rena, bagian ternikmat dari permainan itu sendiri.


Rena semakin tak terkendal, hingga kedua tangannya semakin liar bahkan berhasil menjatuhkan beberapa benda yang terpajang di atas meja. Namun hal itu tidak membuat keduanya panik, mereka justru seolah tak peduli pada benda-benda yang berjatuhan dan memilih fokus pada kenikmatan yang kala itu tengah mereka rasakan.

__ADS_1


"Oogghh!" Lenguhan Rena sesekali lolos begitu saja dari mulutnya saat Nio mempercepat ritme gerakannya dan membuatnya semakin tak terkendali hingga tak bisa menahan suara alunan merdunya.


...Bersambung......


__ADS_2