Kecanduan Ibu Tiri

Kecanduan Ibu Tiri
Hidup baru


__ADS_3

Satu Minggu kemudian...


Bak hilang di telan bumi, Nio menghilang begitu saja dari rumah, tidak ada satu orang pun yang tau dimana keberadaannya sekarang, baik itu Rena, teman-teman dekatnya, para pekerja di rumahnya, apalagi Rudy dan Sonia.


Rena pun sudah kembali tinggal di apartement lamanya dan meninggalkan rumah Rudy yang megah, ia lebih memilih untuk menyendiri meratapi hidupnya saat itu.



Sedangkan Rudy, ia yang dihantui perasaan sedih serta bersalah, justru saat ini lebih banyak berdiam diri di rumahnya sangat jauh dari kebiasaannya sebelumnya yang selalu terlihat sibuk dengan urusan pekerjaan, ia benar-benar seperti orang yang sudah tidak punya semangat hidup, terlihat pucat, kehilangan selera makan, bahkan seperti orang yang ling lung.


Sedangkan Sonia, sehari-hari dalam seminggu belakangan sejak kepergian Nio, ia terus menangis dan banyak menghancurkan barang-barang di kamarnya hingga membuat kedua orang tuanya sangat frustasi.


Malam itu, tak terasa waktu kini sudah menunjukkan pukul 01.30 dini hari waktu Qatar, dan Nio nampak masih berdiri termenung di balkon apartemen tempat dimana selama seminggu ini ia tinggali, dengan tatapan sendu ia terus memandangi kemegahan kota Doha di malam hari, kota yang merupakan ibu kota dari negara itu sendiri.


Zayden, teman lama Nio yang kala itu baru pulang dari bekerja, menyadari jika teman lamanya itu masih saja terlihat murung, memilih untuk menghampiri Nio sebelum ia masuk ke kamar.


"Apa kamu sungguh masih memikirkannya?" Tanya Zayden begitu ia berdiri tepat di sisi Nio.


"Ada banyak hal yang masih sulit untukku percaya, banyak hal yang masih mengganggu pikiranku."


"Termasuk wanita yang telah membuatmu patah hati itu?"


Nio pun mengangguk pelan.


"Bro, kamu sedang berada di negara terkaya dunia saat ini, Qatar sama sekali tidak kekurangan wanita cantik, bahkan banyak yang mengatakan, jika produk Qatar tidak pernah gagal." Ungkap Zayden sembari tersenyum tipis.


Mendengar hal itu membuat Nio pun seketika ikut tersenyum tipis sembari mendengus pelan.


"Kenapa kamu hanya tersenyum? Apa kamu sungguh meragukan ucapanku? Kalau tidak percaya, keluarlah dan buktikan sendiri, jangan terus mengurung dirimu di apartement ini. Wanita disini memiliki bentuk hidung yang sangat sempurna, juga memiliki mata yang indah, besar dan tajam."


"Ya, aku tau, aku juga banyak mendengar hal itu. Tapi hal itu belum membuatku berselera."


"Tidak baik terus membuang waktu hanya dengan banyak melamun bro, kau masih muda, tampan, juga nampaknya cukup berbakat dalam bidangmu, kenapa tidak mencari kesibukan dan berhenti meratapi nasib?"


"Mencari kesibukan?"


"Ya, kamu bisa mencari pekerjaan disini, hmm aku tau, kurasa dengan saldo yang ada di rekeningmu saat ini, mungkin masih bisa menghidupimu selama beberapa bulan ke depan saat disini, namun apa kamu sungguh hanya akan seperti ini saja? Come on bro, hidup ini harus bergerak maju!"


Nio pun mulai terdiam, seolah ucapan Zayden mulai masuk ke dalam pikirannya, dan seolah mulai mengubah jalan pikirannya yang buntu kala itu.


"Kamu bisa memulai dengan apa saja yang kamu sukai, disini sangat tidak sulit untuk mencari pekerjaan. Bahkan jika kamu berkenan, kamu bisa saja ikut bekerja denganku, kebetulan kami sedang kekurangan waiters di restoran, ya itupun jika kamu berminat."

__ADS_1


"Kurasa aku berminat." Nio pun seketika kembali melirik ke arah Zayden.


"Hah?! Benarkah kamu bersedia menjadi seorang waiters??"


"Kenapa tidak?"


"Ah baiklah, kamu bisa ikut aku besok, aku akan mempertemukanmu dengan manager restoran."


"Tapi apa kamu yakin aku bisa di terima bekerja disana?"


"Tentu saja, kenapa tidak?" Zayden pun kembali tersenyum.


Nio pun ikut tersenyum dan kembali memandangi pemandangan kota yang begitu gemerlap.


"Tapi, kenapa tiba-tiba kamu setuju untuk bekerja sebagai waiters? Karena jika dilihat dari gaji yang akan kamu terima....."


"Aku sama sekali tidak memikirkan gajinya!" Tegas Nio yang langsung memotong ucapan Zayden.


"Benar yang kamu katakan sebelumnya, aku harus mencari kesibukan agar pikiranku tidak terpusat pada masalah yang sedang kuhadapi." Tambahnya lagi.


"Ohh, syukurlah kalau kamu mendengarkan masukanku, semoga kedepannya hidupmu bisa segera keluar dari rasa terpuruk ini dan jadi jauh lebih baik."


"Haish tidak masalah bro, itulah gunanya kita berteman," Jawab Zayden sembari menepuk singkat pundak Nio yang lagi-lagi hanya bisa tersenyum.


"Hmm baiklah, berhubung sudah sangat larut dan badanku sangat lelah karena memasak seharian, maka sudah waktunya aku beristirahat.


"Ya, beristirahatlah dengan nyaman."


"Ok bro, aku masuk ke kamar dulu, good night!" Zayden pun langsung beranjak pergi dengan langkah tenang.


1 bulan kemudian...


Waktu terus bergulir cepat tanpa, hari pun terus berlalu dan terlewat begitu saja, perlahan Nio mulai merasa lebih baik dengan dirinya yang sekarang, yang sudah begitu sibuk menjadi waiters di restoran mewah di salah satu hotel berbintang di tengah kota Doha, meskipun hanya menjadi waiters, namun entah kenapa ia sangat menikmati pekerjaannya itu tanpa ada rasa malu sedikitpun.


Namun sangat berbeda halnya dengan Rudy, yang ternyata sudah seminggu lamanya terbaring lemah di dalam ruangan VVIP di salah satu rumah sakit yang ada di pusat kota. Kesehatan Rudy nampaknya perlahan menjadi drop, mungkin bisa dikatakan akibat imbas dari kejadian yang terjadi di Villa, juga kepergian Nio yang entah kemana tanpa kabar sedikit pun. Bukan hanya itu saja, saat ini ia juga sudah resmi bercerai dengan Rena, tepatnya 2 Minggu yang lalu.


Rudy dengan sisa tenaga yang ia miliki, meminta kepada bi Inah yang kala itu tengah menjaganya, ia meminta tolong pada bi Inah agar bisa memanggilkan Rena ke hadapannya karena ia merasa jika umurnya tidak akan panjang.


Bi Inah dengan rasa kecemasan, akhirnya mematuhi permintaan Rudy, dengan hanya dibekali sebuah alamat apartement yang diberikan Rudy padanya, bi Inah pun akhirnya langsung pergi kesana.


*Tingtong*

__ADS_1


Bell tiba-tiba terdengar berbunyi kala Rena tengah duduk termenung menikmati secangkir teh hangat miliknya. Ia pun seketika tersentak dari lamunannya, lalu melangkah menuju pintu dan mengintip siapa sekiranya yang datang. Kedua mata Rena nampak membulat sempurna kala mendapati bi Inah dengan raut wajah kecemasan sudah berdiri di depan pintu apartementnya.


"Bi Inah?? Kenapa dia bisa kesini?" Tanya Rena seorang diri yang dengan sedikit ragu, akhirnya membuka pintunya.


"Bu Rena??" Bi Inah pun nampak begitu senang saat akhirnya bisa melihat Rena kembali.


"Bi Inah." Rena pun tersenyum lirih dan langsung memeluk bi Inah begitu saja.


"Bi, hal apa yang tiba-tiba membawa bibi datang kemari? Bagaimana bibi bisa tau tempat tinggalku?"


"Bu, pak Rudy bu."


"Ada apa dengan mas Rudy?" Tanya Rena dengan dahinya yang mengkerut.


"Pak Rudy drop lagi dan sekarang sedang mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit bu." Jawab bi Inah dengan raut wajah sendu.


"Hah?!! Benarkah?" Rena pun nampak terkejut.


"Iya bu, semenjak ibu tidak lagi tinggal dirumah, kesehatan pak Rudy memang terus menurun bu."


Rena pun terdiam dengan tatapan yang terlihat cemas namun juga bingung harus berbuat apa mengingat statusnya yang bukan lagi menjadi istri Rudy:


"Bu, bapak ingin bertemu dengan ibu, dia mengatakan jika sepertinya umurnya tidak akan lama lagi, ada hal yang ingin dibicarakan oleh pak Rudy pada ibu."


Rena pun menghela nafasnya, meskipun bercerai karena hal yang tidak baik, namun saat itu sudah tidak ada rasa benci sedikit pun dari Rena pada mantan suaminya itu.


"Hmm baiklah bi, aku akan menemui mas Rudy."


Bi Inah pun langsung mengangguk cepat sembari tersenyum.


"Aku ambil tas ku dulu sebentar."


"Iya bu."


Rena pun kembali keluar dengan sudah membawa tas sandangnya.


"Ayo bi."


"Iya bu."


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2