Kecanduan Ibu Tiri

Kecanduan Ibu Tiri
Ditengah malam yang pekat


__ADS_3

Rena pun kembali tersenyum lalu menatap Nio dengan mata layunya.


"Kenapa? Apa kamu tidak menginginkannya Antonio?" Tanya Rena sembari mencengkram pelan dagu Nio.


Saat itu Nio masih diam sembari terus membalas tatapan Rena dengan wajah datar.


"Kamu tidak menginginkanku?" Tanya Rena lagi yang mulai terkekeh lirih sembari terus memainkan dagu Nio.


"Apa kamu tidak ingin melakukannya?" Rena terus menggoda Nio.


"Ak,, aku,,, hmm tentu saja aku juga sangat ingin melakukannya, tapi aku......"


"Tapi apa?" Sambar Rena yang dengan cepat memotong ucapan Nio dengan kedua alisnya yang mulai terangkat.


Lagi-lagi Nio jadi terdiam sesaat, membuat Rena akhirnya mulai menghela nafas panjang dan kembali memunculkan senyuman tipis.


"Hmm, sekarang hanya ada dua pilihan untukmu!" Ucap Rena yang mulai mengalungkan kedua tangannya di leher Nio.


"Sentuh aku, atau tinggalkan aku!" Rena lagi-lagi tersenyum begitu tenang.


"Ayo putuskan sekarang!! pilihan ada ditanganmu." Tambah Rena lagi.


Nio pun terdiam sejenak sembari mulai menatap kedua mata Rena dengan tatapan yang semakin dalam. Lalu, tatapan itu perlahan beralih menuju bibir Rena yang nampak begitu mengkilat. Tanpa mengatakan sepatah katapun lagi, Nio pun langsung menyambar cepat bibir mungil itu, mencecapinya serta meelumattinya dengan penuh tuntutan.


Begitu pula dengan Rena yang dengan cepat juga langsung menyambut bibir Nio, ia bahkan tak kalah menuntut saat melumaatti bibir anak tirinya itu. Rena mulai kembali tersenyum disela-sela ciuman mereka, menandakan jika ia amat menikmati hal itu.


Seolah tak puas dengan posisinya saat itu, Rena dengan cepat berpindah posisi, tanpa ragu ia pun langsung saja duduk di atas pangkuan Nio. Nio pun segera menurunkan sedikit sandaran kursi mobilnya, agar mereka bisa sedikit leluasa.


Rena benar-benar terbakar oleh nafsu yang kini seolah melalap seluruh tubuhnya tanpa bisa ia kendalikan lagi. Tangannya bahkan mulai liar membukai satu persatu kancing kemeja Nio tanpa melepaskan sedikitpun tautan bibir mereka.


Nio pun nampak tak mau kalah, kedua tangannya kini mulai meraba punggung Rena untuk membuka resletingnya. Perlahan pundak mulus Rena kembali terlihat, dress yang dikenakannya pun mulai merosot ke pinggangnya.


"Apa kita akan melakukannya disini?" Bisik Nio di sela-sela ciuman panas mereka.


"Disini juga tidak buruk." Jawab Rena yang kembali tersenyum dan kembali menyambar bibir Nio.


Malam kian pekat, udara malam bahkan semakin terasa sejuk, bahkan membuat kaca jendela mobil Nio nampak mulai berembun. Di tengah pekat malam yang sejuk, di dalam mobil yang terhenti di tepi jalan, kedua sejoli yang sedang dimabuk cinta nampak tengah saling memburu untuk menuntaskan hasrat yang terpendam.


Rena terus mengerang nikmat dengan keadaan mata terpejam, saat kepunyaan Nio bergerak keluar masuk pada lubang kenikmatan miliknya. Ditambah pula saat itu permainan lidah Nio juga terasa begitu liar bermain-main di gundukan daging miliknya.


"Ehmmm, aagh." Kepala Rena terdongak merasa kenikmatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


Sensasi saat melakukannya dengan Nio memang sangat berbeda dirasakan oleh Rena, hal itu membuatnya semakin maniak. Tanpa rasa lelah, Rena terus meliuk-liukkan pinggulnya saat duduk di pangkuan Nio. Hal itu pun turut membuat Nio juga tak kuasa menahan erangannya yang sedang merasa nikmat yang sama.

__ADS_1


"Katakan kamu mencintaiku, Rena." Bisik Nio sembari terus menciumi area dada Rena.


"Aaaghh." Namun Rena tak kuasa menahan desahaannya yang keluar begitu saja tanpa bisa ia tahan.


"Katakan Rena, katakan kamu juga mencintaiku." Pinta Nio lagi yang kembali menyambar bibir Rena dengan ganas.


"Ya, ak,, aku,, aaghhh. Aku,, mencintaimu." Jawab Rena akhirnya dengan kedua mata yang terus terpejam merasakan sensasinya.


Mobil itu terus bergoyang-goyang sesuai ritme gerakan mereka, namun mereka sama sekali tak peduli akan hal itu. Beruntung saat itu sudah larut malam, jalanan pun jadi semakin sepi.


Dengan nafas yang begitu terengah-engah, tubuh Rena akhirnya terkulai lesu di atas pangkuan Nio. Saat itu Nio pun kembali tersenyum sembari terus menciumi pundak Rena yang basah karena keringat.


"Mck, kamu membuatku lagi-lagi kecewa." Celetuk Rena yang kembali menatap Nio sembari berdecit.


"Kenapa?"


"Lagi-lagi kamu harus menariknya keluar disaat sedang nikmat-nikmatnya."


Nio pun mendengus sembari kembali tersenyum.


"Aku tidak punya pilihan." Jawabnya lesu.


"Sediakanlah k0nd0m mulai saat ini," Celetuk Rena yang kembali tersenyum dan kemudian langsung kembali duduk di kursinya.


Saat itu Nio hanya tersenyum sembari terus memandangi Rena yang nampak seribu kali lebih nakal dari biasanya.


"Kamu terlalu banyak minum, lain kali jangan di ulangi lagi." Jawab Nio lembut sembari mengusap-usap kepala wanita pujaannya itu.


"Mau bagaimana, dia terus menubaku minuman."


"Maksudmu istri Mr. Feng?"


"Iya, Mei Ling terus mengajakku untuk meladeninya minum."


Nio pun lagi-lagi tersenyum.


"Beruntung kamu pulang denganku." Celetuk Nio yang beralih untuk meraih pakaiannya.


"Memangnya kenapa?" Rena dengan matanya yang masih nampak meredup kembali menatap Nio dengan dahinya yang berkerut.


"Bayangkan jika saat kamu sedang bergairah seperti tadi, dan yang ada di dekatmu hanyalah supir taksi. Bagaimana?"


"Hmm kamu ingin berpikir buruk lagi tentangku?" Rena pun kembali memukul-mukul lengan Nio.

__ADS_1


"Tidak, aku kan bertanya bukan menuduh."


"Tentu saja hal itu tidak akan terjadi!! Justru karena yang ada didekatku saat ini adalah kamu, makanya hal itu bisa terjadi. Kalau bukan kamu, tentu saja aku tidak mau." Ungkap Rena terus terang.


"Benarkah?"


"Tentu saja!"


Nio pun akhirnya mulai mengembangkan senyumannya. Mereka memakai kembali pakaian masing-masing, saat itu Nio kembali melirik ke arah Rena yang rambutnya terlihat sangat berantakan.


Nio pun mendengus pelan, lagi-lagi ia tersenyum sembari mulai merapikan rambut Rena dengan kedua tangannya.


"Kenapa?"


"Rambutmu, rambutnya sangat berantakan." Jawab Nio sembari terus tersenyum.


"Jelas ini karena ulahmu." Rena pun mencolek singkat hidung mancung Nio.


"Ulahku? Jelas-jelas kali ini kamu yang justru memperkosaku." Jawab Nio yang terkekeh seolah tidak terima.


"Ya, anggap saja aku memang memperkosamu, tapi kamu juga tak kalah menikmatinya. Jadi kurasa ini cukup adil."


"Kalau kamu yang melakukannya, aku bahkan rela diperkosa seumur hidupku." Nio pun tersenyum dan kembali mencium bibir Rena.


Kedua bibir mereka kembali bertautan dalam waktu yang cukup lama.


"Kita pulang sekarang!" Ucap Rena disela-sela ciuman yang mulai semakin menuntut itu.


"Sekarang? Kamu yakin?" Tanya Nio yang juga masih terus melumatti bibir Rena.


"Ya, sekarang! Aku ingin suasana baru." Jawab Rena dengan nafas yang kembali sedikit terengah.


Nio pun melepaskan tautan bibir mereka, Lalu langsung kembali melajukan mobilnya menuju rumah mereka yang sudah tidak terlalu jauh lagi. Sepanjang jalan Rena terus menggoda Nio dengan cara menciumi leher serta menggigiti daun telinganya.


"Rena jangan, itu membuatku tidak fokus." Ucap Nio yang terkekeh geli.


"Cepatlah, kenapa kamu mengemudikan mobil ini sangat lambat." Gumam Rena dengan nada manja.


"Kepalaku juga terasa melayang-layang sekarang, jadi aku tidak mau ngebut karena kamu bersamaku dan aku tidak mau membuatmu celaka seperti yang kamu katakan tadi."


"Haaiss, kamu nampaknya masih dendam dengan ucapanku tadi ya." Rengek Rena yang kembali menyandarkan tubuhnya dengan manja ke pundak kokoh Nio.


"Tidak," jawab Nio yang lagi-lagi hanya kembali tersenyum.

__ADS_1


...Bersambung......


Yang mau kisah ini terus berlanjut, jangan lupa utk terus dukung author dengan cara like dan komen di setiap bab mengenai alur ceritanya ya readers tercinta. Karena author bakal lebih senang kalau di komen mengenai alur cerita dari bab tsb. Bantu vote dan follow akun author juga ya, biar gak ketinggalan karya baru Author hehehe. Thx luff❤️


__ADS_2