
Nio pun terkejut sembari langsung menyentuh pipinya yang terasa perih akibat tamparan keras Anya,
"Hei, what's wrong with you?!" Tanya Nio seketika sembari menatapnya dengan kedua mata yang nampak membesar.
"Aku tidak peduli lagi jika setelah ini kamu akan memecatku karena hal ini." Ucap Anya yang juga mulai menatap Nio dengan tatapan yang tidak biasa.
"Anya kamu kenapa? Kenapa menamparku??"
"Kamu yang kenapa?!!" Ketus Anya.
Nio pun seketika terdiam dengan perasaan yang begitu bingung.
"Memangnya apa yang kulakukan?" Tanya Nio yang masih nampak tidak mengerti.
"Kamu mau tau apa yang kamu lakukan? Iya?"
Nio hanya mengangguk pelan.
"Yang kamu lakukan adalah, kamu selalu bersikap manis padaku, selalu perhatian, bersikap lembut serta selalu menomor satukan aku dibanding staff mu yang ada disini. Dan itu, membuatku sebagai wanita merasa special, membuatku merasa jika kamu menyukaiku dan hubungan kita lebih dari sekedar atasan dan seorang sekretaris." Ungkap Anya yang perlahan mulai kembali meneteskan air matanya di hadapan Nio.
Nio pun tercengang dan akhirnya mulai mengerti.
"Dan sekarang, tanpa pemberitahuan apapun sebelumnya, kamu mengirimkan undangan pernikahanmu, apa menurutmu aku akan baik-baik saja setelah melihat undangan itu??!!" Tambah Anya lagi yang mulai memukuli dada Nio.
"Anya, ku mohon tenanglah!" Nio pun menahan kedua tangan Anya yang kala itu terus memukuli dadanya.
"Kenapa kamu begitu kejam padaku? Untuk apa bersikap manis padaku jika sudah punya kekasih?? Untuk apa??!" Tangisan Anya pun pecah.
"Hei tenanglah!!" Tegas Nio kemudian hingga seketika membuat Anya terdiam.
"Ok aku minta maaf jika kebaikanku selama ini kamu salah artikan sebagai bentuk perasaan suka. Tapi sejujurnya, aku bersikap baik dan perhatian padamu, itu karena kamu adalah satu-satunya staff andalanku yang paling berprestasi di kantor ini. Dengan loyalitasmu selama ini terhadap perusahaan, kurasa cukup adil jika aku membalasnya dengan cara mengistimewakanmu. Bersikap baik pada seseorang bukanlah kesalahan!" Jelas Nio dengan nada yang masih terbilang lembut.
Dan di waktu yang sama, Rena yang kala itu tengah di antar oleh seorang staff, tiba di depan pintu ruangan Nio.
"Ini dia ruangan pak Nio bu." Ucap Staff itu sembari mulai mengetuk pintu ruangan Nio.
"Pak Nio, ada....."
"Siapapun dan apapun yang kalian perlu dariku, tolong lakukan itu nanti! Aku sedang tidak ingin di ganggu!!" Tegas Nio dengan cepat bahkan sebelum staff itu menyelesaikan ucapannya.
Nio melakukan itu karena ia tidak ingin staff lain melihat Anya yang sedang menangis dan nantinya akan menjadi salah paham padanya.
Staff wanita itu pun terdiam.
"Kalau begitu biar aku langsung masuk saja." Ucap Rena lembut.
"Aku berjanji jika dia tetap marah dengan kedatanganku, aku tidak akan melibatkanmu." Tambah Rena lagi.
"Baik bu, kalau begitu saya permisi dulu."
Rena pun mengangguk sembari tersenyum, lalu kembali menatap pintu ruangan itu sembari mendengus pelan.
"Haiss, begitu kah sikapnya pada seluruh karyawannya? Kenapa jutek sekali." Gumam Rena dalam hati sembari terus tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
Tanpa ragu dan pikir panjang, Rena pun langsung masuk saja ke dalam ruangan itu tanpa mengetuk pintunya lagi. Dengan senyuman yang begitu mengembang ia terus melangkah sedikit mengendap-endap, kebetulan begitu masuk ke dalam ruangan itu tidak akan langsung mendapatkan meja kerja, melainkan lemari kabinet yang telah tersusun banyak file yang di arsipkan yang kala itu seolah menjadi penyekat bagi meja kerja Nio.
Namun langkah Rena seketika terhenti sejenak kala mendengar suara wanita yang menangis.
"Jadi benar, jika sikap manismu selama ini padaku tidak mengartikan apapun?!" Tanya Anya lagi yang terdengar begitu lirih.
*Deggg*
Mendengar hal itu, jantung hanya seketika berdegub cepat, dengan perasaan tidak menentu.
"Apa-apaan ini?!!" Ketus Rena dalam hati yang seketika merasa kesal hingga kembali melajukan langkahnya menuju meja kerja Nio. Dan sial, kedua mata Rena seketika nampak semakin membulat sempurna kala mendapati Nio dan Anya yang sedang berdiri berhadapan, sembari kala itu kedua tangan Nio nampak memegang tangan Anya yang sedang menangis.
"Hoh, jadi inikah alasanmu tidak ingin diganggu Antonio?!" Tanya Rena yang seketika membuat Nio terkejut.
"Rena?!"
Anya pun ikut menolah ke arah Rena dengan tatapan yang tidak biasa. Nio pun bergegas melepaskan tangan Anya dan langsung melangkah untuk menghampiri Rena.
"Sayang, kapan kamu tiba? Bukankah kamu mengatakan baru saja mau take off?" Tanya Nio yang ingin memegang tangan Rena. Namun dengan cepat Rena justru menyerahkan kotak bekal yang ia bawa ke tangan Nio.
"Entah kenapa alam yang seakan mendorongku untuk memberi kejutan padamu pagi ini, ternyata untuk memberitahukan hal ini." Ucap Rena yang kedua matanya juga nampak berkaca.
"Oh tidak sayang, kamu salah paham."
"Lanjutkan lah, maaf jika sudah mengganggu waktu kalian, Aku pergi!" Ucap Rena yang seketika langsung pergi begitu saja.
__ADS_1
"Oh ****!!" Seru Nio pelan.
Nio dengan cepat langsung meletakkan kotak bekal itu ke atas meja kerjanya, dan langsung meraih ponselnya. Kala itu Anya masih berada di sana dan terus memandanginya dengan tatapan sendu.
"Maaf Anya, aku harus pergi!" Ucap Nio yang seketika langsung mengejar Rena tanpa memperdulikan Anya.
"Jadi dia wanita beruntung itu?" Tanya Anya lirih.
Rena terus melangkah cepat menuju lift yang kala itu kebetulan tengah terbuka, tak lama Nio pun nampak mencul mengejarnya sesaat setelah pintu lift baru saja tertutup.
"Aggh sial!" Ketus Nio lagi yang tanpa pikir panjang, langsung berlari menuju tangga.
Nio benar-benar tidak ingin Rena salah paham, ia tidak ingin berpisah lagi dengan Rena apalagi jika Rena harus membatalkan pernikahan mereka yang hanya tinggal menghitung hari saja.
Rena terus menangis di dalam lift yang kebetulan saat itu hanya ada dia sendiri di dalamnya.
"Ternyata lelaki yang benar-benar setia itu tidak ada, ternyata aku salah menilaimu Nio!" Gumam Rena lirih.
*Tingg*
Pintu lift terbuka di loby, Rena pun langsung melangkah cepat keluar dari lift itu untuk mengarah ke pintu samping yang langsung terhubung ke parkiran mobil. Nio pun tiba tepar waktu sesaat sebelum Rena masuk ke mobilnya.
"Tolong jangan!" Ucap Nio yang dengan cepat menahan tangan Rena ketika ingin membuka pintu mobilnya.
Kala itu Nio nampak begitu terengah karena baru saja menuruni tangga dari lantai 7.
"Tolong lepaskan! Aku mau pulang!"
"Biarkan aku mengantarmu!"
"Tidak perlu! Urus saja wanita yang sedang kamu buat menangis itu!"
"Tolong, biarkan aku mengantarmu pulang! Aku akan jelaskan semuanya!" Tegas Nio.
Rena pun akhirnya terdiam sembari menghela nafas kasar. Lalu dengan cepat Nio pun menarik tangannya menuju pintu mobil yang satunya, dan mendudukkannya di sisi kemudi.
Nio pun melajukan mobil itu tanpa menghiraukan lagi tentang urusan pekerjaannya pagi itu.
"Sayang kamu salah paham!"
Rena hanya diam seolah tak berminat mendengarkan ucapan Nio kala itu.
Saat itu Rena masih diam.
"Dia kecewa karena melihat undangan pernikahan kita karena menganggap hubungan kami lebih dari sekedar atasan dan sekretaris."
"Hoh, jadi dia adalah Anya?!" Rena pun mendengus pelan.
"Iya, dia orangnya!"
"Wah, bukankah dia terlihat sangat cantik dan menarik? Bagaimana kamu tidak memiliki rasa apapun terhadap wanita seperti itu? Bahkan kakinya jauh lebih jenjang dari pada kakiku." Rena pun tersenyum lirih.
"Tolong jangan bicara seperti itu, dimataku hanya kamu yang terindah! Tidak ada yang bisa menggantikan hal itu."
"Pembohong!" Lagi-lagi Rena mendengus.
"Hei, jika aku melihat wanita hanya dari kecantikan, maka mungkin sejak dulu aku sudah melupakanmu dan tidak berharap apapun lagi padamu! Bahkan mungkin aku sudah berganti-ganti pacar, jika hal itu benar." Tegas Nio.
Hal itu pun sontak membuat Rena seketika terdiam.
Hingga mereka tiba di apartement Rena, Rena nampaknya masih sangat kesal dan belum sepenuhnya percaya pada penjelasan Nio, hingga hal itu membuatnya langsung saja melangkah lebih dulu untuk menuju unitnya.
Nio yang seolah tidak putus asa, terus saja mengikuti langkah calon istrinya itu.
"Kamu sungguh masih marah padaku sayang?" Tanya Nio lagi.
Rena masih terus diam sembari membuka pintu.
"Kembalilah ke kantormu! Dan kembalikan kunci mobilku!" Tegas Rena yang langsung mengambil alih kunci mobilnya dari tangan Nio.
Lalu ia pun langsung masuk, dan ingin segera menutup pintunya. Tapi apalah daya Rena bila dibandingkan dengan tenaga Nio yang jauh lebih kuat darinya. Nio dengan cepat menahan pintu itu dan memaksa ikut masuk ke dalamnya. Membuat Rena lagi-lagi harus mendengus kesal seolah tidak menyangka dengan perlakuan Nio itu.
"Hei!! Siapa yang menyuruhmu masuk??!!" Ketus Rena.
"Diriku sendiri!" Jawab Nio dengan tenang sembari langsung terduduk begitu di sofa.
"Siapa yang menyuruhmu duduk?"
"Aku sendiri!"
__ADS_1
"Haiss!! Kenapa kamu melakukan ini?! Pergilah kembali ke kantormu!! Aku tidak ingin melihatmu disini!"
"Tidak mau!"
"Kubilang pergi!!" Tegas Rena sembari mulai mengecakkan kedua tangannya di pinggang.
Nio tidak menjawab dan justru melakukan hal yang diluar dugaan Rena. Nio dengan tenang langsung membuka jasnya, lalu membuka dari serta kemeja yang kala itu tengah ia gunakan, hingga hanya menyisakan kaos hitam polos yang tipis.
"Hei! Apa yang kamu lakukan?!"
"Aku tidak akan kembali ke kantor jika kamu masih seperti ini."
"Hei, kamu sadar tidak? Aku seperti ini karena ulahmu!!"
"Aku tidak melakukan apapun yang melenceng sayang."
"Tapi kamu bahkan memegang kedua tangan wanita itu!!" Seru Rena yang nampaknya masih terbakar api cemburu.
"Ya, aku memegangnya karena dia terus mengamuk memukuli dadaku! Jadi aku harus memegang tangannya demi membuatnya kembali tenang. Hanya itu saja!"
"Siapa yang percaya?!"
"Oh ok, kamu perlu bukti?! Ok, kalau begitu akan ku tunjukkan!" Nio dengan cepat langsung meraih ponselnya untuk mengakses rekaman cctv dari dalam ruangannya lalu menunjukkannya oada Rena. Menyaksikan bagaimana dari awal hal itu terjadi, akhirnya Rena pun terdiam dan mulai melunak.
"Bagaimana sekarang? Apa ini bisa membuatmu percaya padaku?"
Rena pun akhirnya menyerahkan kembali ponselnya pada Nio.
"Ok, anggap saja masalahnya selesai!" Ucap Rena datar yang terus berusaha untuk menahan senyuman malunya.
"Hah?! Hanya begitu saja??"
"Lalu apa lagi yang kamu harapkan? Sudahlah, kembali lah ke kantormu!"
"Setelah apa yang kamu tuduhkan pada calon suamimu ini tidak benar, apa reaksimu hanya begitu?"
"Lalu bagaimana lagi?" Tanya Rena dengan tenang sembari mulai duduk di sofa yang ada di hadapan Nio.
"Setidaknya minta maaf atau lalukan sesuatu agar membuatku tidak terlalu kecewa atas tuduhanmu ini."
"Ho, begitu kah? Jadi,, kamu ingin aku melakukan sesuatu?"
"Hmm."
"Oh, melakukan apa yang kira-kira akan membuatmu tidak kecewa ha?" Rena pun kembali bangkit dan perlahan mulai mendekati Nio.
"Apa saja." Jawab Nio dengan tenang.
"Hmm baiklah, biarkan aku memikirkannya sebentar." Ucap Rena dengan nada yang sedikit menggoda sembari semakin dekat pada Nio.
Melihat bagaimana terlihat seksinya wajah serta ekspresi Rena kala itu, membuat Nio perlahan mulai bergejolak, namun saat itu ia masih berusaha untuk tenang tanpa reaksi apapun seolah ingin melihat hal apa yang akan dilakukan Rena padanya.
"Ah aku mulai memikirkan sesuatu,"
"Oh ya? Apa itu?" Tanya Nio masih berusaha bersikap tenang meskipun kala itu ia terlihat terus menelan ludahnya sendiri. Apalagi saat melihat belahan dada Rena yang menyumbul keluar dari kerah bajunya.
"Hmm, bagaimana jika dengan ini?" Rena tanpa ragu, mulai duduk di atas pangkuan Nio dan menghadap ke arahnya, lalu mulai membelai kedua pipi Nio.
"Bukankah kamu mengatakan begitu merindukan aku Antonio?" Tanya Rena yang perlahan mulai menciumi pipi serta leher Nio bahkan hingga daun telinganya.
Hal itu sontak membuat kedua mata Nio begitu membulat sempurna, karena prilaku Rena kala itu semakin membuatnya susah mengendalikan gejolaknya.
"Apa kamu sedang menggodaku saat ini?"
"Ya, bukankah kamu menyukai saat aku bertingkah nakal seperti ini Antonio?" Bisik Rena yang terus menciumi Nio.
Nio pun akhirnya mendorong pelan tubuh Rena, membuat aksi Rena seketika terhenti.
"Kamu tidak menginginkannya?" Tanya Rena pelan.
"Kata siapa aku tidak menginginkannya?" Tanya Nio yang dengan cepat langsung menyambar bibir Rena.
Mereka pun kembali bergulat di atas sofa dengan sangat ganas, perasaan rindu yang menggebu membuat keduanya tak terkendali dan kembali tenggelam dalam lautan kenikmatan yang bahkan terasa hingga ke ubun-ubun.
__ADS_1
...Bersambung......