Kecanduan Ibu Tiri

Kecanduan Ibu Tiri
Hari H


__ADS_3

Satu Minggu kemudian...


Rena nampak berdiri di depan cermin sembari memandangi pantulan dirinya yang kala itu terlihat sudah begitu cantik saat mengenakan gaun berwarna putih yang panjangnya hingga menyeret ke lantai. Gaun putih yang tak lain ialah gaun pengantin, gaun pengantin yang dikenakan oleh Rena untuk ketiga kalinya. Hari itu Rena nampak sangat gugup hingga membuatnya harus menghela nafas panjang beberapa kali.


Tak lama, Zayden pun nampak masuk ke kamar tempat dimana Rena berada, sebuah kamar hotel yang dipesan oleh Nio sekaligus hotel yang sama tempatnya melakukan acara pernikahan.


"Apa kamu sudah siap Na?" Tanya Zayden begitu memasuki kamar itu.


"Wahh, lihatlah betapa cantiknya dirimu Na." Puji Zayden yang nampak sedikit terkejut saat memandangi penampilan adiknya kala itu.


"Benarkah?" Tanya Rena yang hanya terlihat tersenyum tipis.


"Sekarang aku mengerti, kenapa sahabatku itu bisa begitu mencintaimu." Tambah Zayden lagi yang terus menatap kagum ke arah sang adik.


"Aku sangat gugup sekarang!" Ucap Rena tiba-tiba.


"Hei, tenanglah, ayo pegang tanganku!" Zayden pun mengulurkan tangannya.


Rena pun langsung meraih tangan Zayden, membuat lelaki itu kembali tersenyum dan mulai menggenggam erat tangan adiknya.


"Aku akan segera membawamu keluar, apa kamu siap?!" Tanya Zayden kemudian.


Rena pun nampak kembali menghela nafas panjang, lalu akhirnya ia pun mengangguk.


"Ya, kurasa aku siap."


"Ah baiklah, ayo."


Rena pun mulai melangkah sembari terus menggandeng tangan Zayden, yang merupakan satu-satunya walinya tersisa kala itu. Suasana di atas rooftop hotel kala itu mulai ramai, meskipun mereka tidak terlalu banyak mengundang orang.


Kala itu Nio nampak sudah berdiri seolah menantikan kehadiran Rena dengan sudah terlihat begitu tampan serta gagah saat memakai jas hitam berdasi kupu-kupu.


Perlahan Rena pun mulai nampak muncul, nampak seluruh pasang mata kala itu terus memandanginya disepanjang langkahnya menuju ke arah Nio. Di sepanjang jalan tempat Rena melintas, sudah bertabur banyak kelopak bunga mawar putih, dekorasi pernikahan mereka kala itu juga bernuansa putih bahkan ada banyak bunga mawar putih yang tersusun dimana-mana.


Rena semakin merasa gugup kala mendapati Nio yang berdiri di hadapannya dengan sebuah senyuman yang tidak biasa. Kala itu kedua mata Nio bahkan nampak berkaca-kaca kala memandangi Rena yang terus melangkah ke arahnya dengan sudah memakai gaun pengantin.


"Benarkah ini? Apa aku sungguh tidak sedang bermimpi saat ini?" Gumam Nio dalam hati sembari terus tersenyum haru karena benar-benar tidak menyangka jika mimpinya untuk menikahi Rena benar-benar terwujud.


"Sekarang, kuserahkan adikku sepenuhnya padamu, bro! Tolong jaga dia!" Ucap Zayden sembari menyerahkan tangan Rena pada Nio.


Nio pun meraih tangan Rena dan menggenggamnya erat.


"Pasti, kamu bisa mempercayaiku dalam hal ini." Jawab Nio sembari tersenyum dan kembali memandangi Rena yang kala itu terlihat begitu cantik dimatanya.


"Kamu terlihat sangat pantas dengan gaun itu, sangat cantik." Puji Nio pada wanita yang dalam hitungan beberapa saat lagi akan resmi menjadi istrinya.


"Terima kasih, kamu pun sama, jauh 10 kali lebih tampan dari biasanya." Jawab Rena pelan.


Nio pun semakin tersenyum lebar.


Dan akhirnya apa yang dicita-citakan Nio selama ini berhasil jadi kenyataan. Rena, wanita yang selama ini begitu ia cintai, ia kagumi serta ia gilai, kini telah resmi menjadi istrinya. Sebuah senyuman simpul pun nampak terus menghiasi wajah tampannya kala itu saat berhasil menyematkan sebuah cincin pernikahan di jari manis Rena.


"Kau milikku sekarang!" Ucap Nio pelan pada Rena yang seketika membuat Rena tersenyum dan tersipu malu.


Sore hari yang begitu indah, kini perlahan mulai beranjak gelap, pesta dansa pun dimulai, ada banyak pasangan yang ikut serta di lantai dansa yang sudah disediakan, termasuk pasangan baru Zayden dan Meichan yang seolah tidak mau kalah.


Namun tentu saja kedua pengantin yang menjadi peran utama dalam acara itu, juga turut serta di lantai dansa. Rena dengan senyumannya yang khas, mulai mengalungkan kedua tangannya di leher Nio, sedangkan Nio, kedua tangannya nampak melingkar sempurna di pinggang ramping Rena.


"Apa kamu senang?" Tanya Nio sembari terus berdansa dengan tenang.


"Aku sangat senang."


"Bagaimana denganmu?"


"Mungkin saat ini aku menjadi orang yang paling bahagia di dunia, karena akhirnya bisa menikah dengan wanita yang paling aku cintai."


Perkataan itu pun lagi-lagi membuat Rena tersenyum manis.

__ADS_1


"I love you so much!" Ucap Nio kemudian yang terus memandangi Rena dengan begitu lekat.


"I love you more, my husband." Jawab Rena.


Itu pertama kalinya Rena memanggil Nio dengan sebutan suami, membuat Nio semakin tak kuasa menahan rasa bahagianya dan kemudian langsung saja mengecup lembut bibir mungil istrinya.



Seolah tidak memikirkan orang-orang yang ada di sekelilingnya, Nio terus mencecap lembut bibir Rena, mulai meellumatnya dengan lembut hingga mulai membuat Rena memejamkan kedua matanya.


Beberapa saat berlalu dan Nio pun perlahan mulai melepaskan tautan bibir mereka.


"Apa kamu mulai bergairah?" Tanya Nio dengan cara berbisik.


Rena pun kembali tersenyum.


"Ehe." Jawab Rena kemudian.


"Haruskah kita pergi sekarang?"


"Pergi?? Kemana?" Tanya Rena yang sontak mengerutkan dahinya kala menatap Nio.


"Tentu saja pergi ke kamar."


"Ta,, tapi bagaimana dengan pestanya?"


"Pestanya akan segera berakhir, kita juga sudah menyapa seluruh tamu yang datang. Lalu apa lagi?"


"Ta,, tapi."


"Ah ayolah, aku ingin segera memakanmu, para tamu pasti akan mengerti." Bisik Nio yang kemudian mulai menggigit pelan daun telinga Rena.


Hal itu sontak membuat Rena merinding, bulu kuduknya seketika berdiri tegak dengan gejolak yang seolah mulai dibangunkan.


"Baiklah!" Rena pun seketika langsung menarik Nio pergi, mereka melangkah cepat menuju lift,


*Tingg*


Pintu lift pun terbuka dan dengan cepat Nio langsung mengakhiri ciumann panas mereka, Rena pun terkekeh sembari keluar dari lift, lalu di susul dengan Nio yang juga ikut tertawa sembari terus menggeletiki perut Rena.


"Aawww, geli!" Ucap Rena yang terus berlari menuju kamarnya.


Begitu tiba di kamar, Nio kembali menyambar bibir Rena, dengan cepat mulai menurunkan resleting pada gaunnya yang ada di punggung.


"Cepat lepaskan ini, kamu sudah tidak membutuhkannya lagi sekarang." Bisik Nio sembari mulai menurunkan lengan gaun itu hingga membuatnya seketika merosot hingga ke lantai.


Rena tentu saja bersikap tidak kalah ganas, dengan sangat tidak sabar ia langsung menbuka dasi Nio dan membuangnya ke sembarang arah, lalu disusul dengan jas dan kemeja.


Nio menggendong tubuh mungil itu bahkan tanpa melepaskan tautan bibir mereka menuju ranjang, dan mereka pun bergulat habis-habisan di atasnya bagaikan kedua hewan buas yang saling memburu, saling memangsa untuk mendapatkan kenikmatan serta kepuasaan.


"Huh,, huh,, huh.." Keduanya nampak begitu terengah saat telah mencapai puncak dan terbaring lemas di atas ranjang.


"Kamu benar-benar mengerikan sayang." Celetuk Nio sembari tersenyum.


"Mengerikan??" Rena pun terkekeh.


"Ya, benar-benar mirip seperti hewan pemangsa."


"Apa kamu takut?"


"Takut?? Tentu saja tidak!" Jawab Nio mendengus pelan sembari tersenyum.


"Jika kamu mengganas seperti harimau, maka aku akan menjadi singa, kita akan saling memangsa seterusnya." Tambah Nio lagi.


"Hahaha perumpamaan macam apa itu? Kenapa malah menyamakan kita seperti hewan buas." Rena pun kembali terkekeh.


"Apa kamu tidaj merasa jika kita memang benar-benar sangat buas ketika di ranjang?"

__ADS_1


"Kamu saja! Aku tidak!" Jawab Rena mengelak sembari terus tersenyum.


"Hah?! Tidak katamu? Tidak??" Nio pun kembali menggelitik perut Rena.


"Aww hahaha geli sayang."


Mereka pun terus bercanda di sepanjang malam.


"Oh ya, akhir-akhir ini kita sangat sibuk menyiapkan pernikahan, hingga membuatku belum sempat menanyakan ini sebelumnya." Ucap Rena yang kala itu mulai menyandarkan kepalanya pada dada bidang Nio.


"Menanyakan apa sayang?" Tanya Nio dengan tenang.


"Anya, bagaimana hubunganmu dengan Anya setelah kejadian siang itu?"


"Awalnya aku tidak berniat untuk memecatnya hanya karena urusan pribadi, tapi ternyata dia sendiri yang memutuskan untuk mengundurkan diri."


"Hah?! Benarkah?"


"Hmm." Nio pun mengangguk.


"Mungkin saja dia merasa malu padaku karena kejadian itu." Tambah Nio lagi.


"Hmm, pantas saja aku tidak ada melihatnya datang ke acara pernikahan kita."


"Jika sudah begitu, mana mungkin dia sanggup datang ke pernikahan kita, lagi pula sejak saat itu aku sudah tidak tau lagi bagaimana kabarnya." Jawab Nio yang nampak terus bersikap begitu tenang kala itu.


"Lalu,, bagaimana dengan kabar Sonia? Apa kamu tidak mengundangnya?"


"Terakhir yang ku dengar dari Aldy, dia sangat frustasi sejak kejadian itu dan mencoba beberapa kali bunuh diri saat orang tuanya bertugas ke luar kota. Akhirnya karena khawatir meninggalkannya sendiri di rumah, kedua orang tuanya pun membawanya ikut pindah ke luar kota."


"Wah, kamu sepertinya begitu detail saat menceritakan kabar tentang Sonia, apa kamu masih...."


"Hmm jangan mulai!!" Tegas Nio yang langsung menyeka ucapan Rena.


"Tolong jangan memulai untuk membahas hal yang sebenarnya kamu benci sayang! Aku tidak ingin merusak suasana malam pertama kita."


"Malam pertama?? Bukankah kita bahkan sudah sering melakukannya?"


"Ya tetap saja ini namanya malam pertama, mengingat ini pertama kalinya kita melakukannya sebagai suami istri."


Rena pun akhirnya tersenyum lalu kembali memeluk hangat tubuh suaminya.


"Aku sangat mencintaimu, ku harap kamu bisa seterusnya bersikap seperti ini padaku." Ucap Rena pelan.


"Kita akan selamanya seperti ini, sepuluh tahun, dua puluh tahun, tiga puluh tahun, dan seterusnya tidak akan pernah berubah."


"Kamu berjanji?" Rena pun kembali menatap Nio.


"Aku janji sayang! Kamu bisa pegang kata-kataku dalam hal itu."


Rena pun kembali tersenyum dan mengecup singkat bibir Nio.


"Apa kamu masih kuat sayang?" Bisik Nio.


"Kamu bertanya hal itu, apa kamu mulai meragukanku?" Rena pun menaikkan sebelah alisnya.


"Hmm mari kita buktikan!" Ucap Nio yang kembali melahap bibir Rena.


Mereka kembali bergumul di atas ranjang, bahkan tidak hanya melakukannya diranjang, mereka mulai berpindah-pindah posisi untuk merasakan sensasi yang berbeda mulai dari sofa hingga meja rias, tak luput dari mereka.


Rena benar-benar menemukan partner ranjang yang pantas kali ini, ia yang begitu gila akan ****, bahkan bisa dibuat takluk oleh Nio yang juga ternyata begitu perkasa dalam hal itu. Resmi menjadi suami istri dalam ikatan pernikahan, membuat keduanya jadi tak terbatas dalam melakukan aksi ranjang bahkan dengan gaya apapun, dan dimanapun. Keduanya benar-benar larut dalam lautan kenikmatan yang sungguh memabukkan,. Kini Nio sudah merasa jika hidupnya begitu sempurna saat Rena resmi menjadi istrinya wanita yang begitu ia cintai setengah mati dan dia tidak menginginkan apapun lagi saat ini, begitu pula sebaliknya dengan Rena.


...-TAMAT-...


Hai, baca juga karya terbaru Author ya guys, berjudul "HUBUNGAN TOXIC" berkisah tentang dua orang yang saling mencintai tapi selalu menyakiti saat mereka bersama. Juga bagaimana seorang wanita polos perlahan mulai menghancurkan masa depannya sendiri dengan mengikuti fetish gila yang dimiliki pasangannya.


__ADS_1


Mampir ya guys, jgn lupa like dan masukkan ke daftar favorit hehehe


__ADS_2