
Mendengar pertanyaan itu, membuat Nio jadi terdiam sejenak.
"Andai kalian tau bagaimana sultnya aku menahan diri saat berhadapan dengannya." gumam Nio dalam hati.
Menyadari Nio yang hanya terdiam bak patung, cukup membuat Rio dan Aldy jadi saling pandang satu sama lain.
"Hei Nio!" panggil Aldy sembari menepuk pundak Nio.
Hal itu pun seketika membuat Nio tersentak dari lamunan.
"Astaga! mengagetkan saja!!" ketus Nio.
"Hei, kau kenapa ha??! ditanya kenapa malah diam saja?' Tanya Aldy yang masih nampak penasaran.
"hmm tidak ada, sudahlah lupakan saja soal itu!! Ayo kita lanjut ngobrol di kamarku saja!" Nio pun akhirnya melanjutkan langkahnya dengan menaiki anak tangga dengan cepat dan meninggalkan kedua sahabatnya yang masih berdiri di dekat tangga itu.
"Huh! ada apa dengannya? kenapa sikapnya jadi mendadak aneh??" Tanya Aldy yang kembali menatap Rio.
Namun seolah tak ingin terlalu over thinking, Rio pun hanya mengangkat singkat kedua pundaknya.
"Hmm sudahlah, mungkin efek demam atau mungkin juga karena efek obat yang dia minum hehehe" jawab Rio yang akhirnya ikut menyusul langkah Nio lebih dulu.
"Hmm, bisa jadi" celetuk Aldy yang juga langsung mengikuti langkah kedua temannya.
Dengan lesu, Nio melangkah masuk ke kamarnya dan langsung duduk di tepi ranjangnya. Tak lama, di susul pula dengan kedua sahabatnya yang tanpa segan juga ikut masuk begitu saja ke kamar bernuansa hitam putih itu dan langsung menduduki sebuah sofa panjang yang berada di salah satu sisi kamarnya.
"Sebenarnya mau apa kalian datang kemari ha?!!" Tanya Nio seolah tak semangat.
"haaish, pertanyaan macam apa itu hahaha bukankah biasanya juga kau yang selalu mengundang kami untuk datang ke rumahmu??" jawab Aldy.
"Benar! bahkan kau selalu senang saat kami datang saat kau sedang sakit seperti ini."
"Hmm yaa, tapi sekarang keadaannya kan sudah berbeda!"
"Ohh atau jangan-jangan karena ada ibu tirimu di rumah ini ya? Ohh atau kau takut kami akan menggoda ibu tirimu yang cantik dan seksi itu?? ha? hahaha" Tanya Aldy yang kemudian langsung terkekeh.
"Iya! tepat sekali!! aku sudah sangat paham bagaimana otak-otak kalian!" Jawab Nio jujur.
"Hahaha memangnya otak kami bagaimana? apa yang ada di dalam otak kami itu, adalah hal yang lumrah di pikirkan oleh lelaki dewasa yang normal hahaha." Aldy pun kembali terkekeh.
"Gimana pendapatmu Yo? benarkan apa yang aku katakan barusan?" Tanya Aldy yang kali ini mengarah pada Rio.
__ADS_1
"Hmm ya, kali ini aku setuju dengan ucapan Aldy hehehe. Lagi pula lelaki gila mana yang tidak terpesona dengan seorang wanita muda yang cantik dan seksi seperti ibu tirimu??"
"haiss, hentikan pembahasan mesum kalian!! meskipun dia masih sangat muda untuk menjadi ibuku, tapi setidaknya kalian harus tetap menghargai dan menghormatinya sebagai istri papaku!" Tegas Nio yang nampak tak senang.
"Hehehe iya, iya maaf. saking mudanya kadang kami suka lupa kalau dia ibu tirimu sekarang hehehe." Rio pun hanya bisa cengengesan.
Begitu pula dengan Aldy.
"Hmm terserah kalian saja lah! aku mau istirahat." Nio pun sontak langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjangnya dan seolah tak ingin lagi memperdulikan kedua teman yang sudah sangat akrab dengannya itu.
Namun saat baru beberapa saat Nio terbaring, tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu.
*Toktoktok*
"Siapa itu?" Tanya Aldy pada Nio.
"Hmm, paling juga bi Inah." Jawab Nio santai tanpa berniat untuk bangkit dari atas ranjang empuknya.
*Toktoktok*
Sekali lagi pintu kamar Nio di ketuk.
"Nio, ini ibu," ucap seseorang yang tentu saja sudah diketahui siapa gerangan sang pemilik suara lembut itu.
"wah, ternyata itu ibumu, biar kubuka ya," Ucap Aldy penuh semangat.
Aldy pun bergegas bangkit dari duduknya dan langsung melangkah cepat menuju pintu. Namun sayangnya hal itu tidak dibiarkan terjadi begitu saja oleh Nio yang juga dengan cepat langsung bangkit dari atas ranjang dan langsung menahan Aldy.
"Tidak perlu! biar aku saja." Tegas Nio saat menarik pundak Aldy dan kemudian dengan cepat menyalip langkahnya.
"Haaiss, segitu takutnya kau??" Celetuk Aldy yang terpaksa menghentikan langkahnya.
Namun saat itu Nio memilih tetap diam seolah tidak berminat untuk menjawabnya, karena kali ini ia hanya berfokus pada seseorang yang tengah berada di balik pintu kamarnya saat itu.
*Ceklek*
Dengan cepat Nio membuka pintu kamarnya, dan benar saja, sebuah senyuman tipis milik Rena telah menyambutnya saat itu. saat itu Rena masih dengan pakaian yang sama, terlihat berdiri dengan memegang sebuah nampan berisikan beberapa cemilan yang baru di masaknya.
"ka,, kamu?? eh hmm, maksudku ibu, iya ibu." Ucap Nio gugup.
"Maaf ya mengganggu waktu kalian, ibu hanya ingin mengantarkan cemilan saja," Ungkap Rena yang nampak sedikit segan.
__ADS_1
Namun belum sempat Nio menjawab, tiba-tiba saja Aldy keluar dan dengan sangat ramah menyambut Rena.
"Ya ampun tante, ternyata selain cantik, tante juga sangat...." Aldy dengan senyumannya yang lebar mulai memandangi Rena dari ujung kaki hingga rambut.
"Juga sangat apa Aldy?" tanya Rena polos.
"juga sangat.... sek..."
Nio yang menyadari hal itu seketika langsung berdehem demi membuyarkan tatapan mesum temannya.
"Ehemm!!"
"Ba,, baik! hmm ya tante, juga sangat baik!" ucap Aldy saat tersentak.
"Oh hehehe kamu nampaknya terlalu memuji, ini bukan lah apa-apa." jawab Rena ramah.
Tak lama bik Inah pun datang dengan juga membawa sebuah nampan berisikan tiga gelas juss jeruk.
"Ini mas minumannya, silahkan dinikmati hehehe."
"Terima kasih banyak, bi." Jawab Nio sembari meraih nampan yang di bawa bi Inah.
"Sama-sama mas Nio, kalau begitu bibi permisi."
"Iyaa." Nio pun mengangguk pelan.
"Mari bu, saya permisi duluan." ucap bi Inah pada Rena."
Rena pun hanya mengangguk pelan sembari menampilkan senyuman ramahnya.
"Bawa minuman ini ke dalam!" Ucap Nio santai sembari menyerahkan nampan yang ia pegang pada Aldy.
"Ta,, tapi Nioo..."
"Sudah, ayo lah!" Nio tak peduli apapun alasan Aldy untuk bertahan lebih lama lagi di hadapan Rena, ia tetap saja menolak pelan tubuh Aldy agar masuk kembali ke dalam kamarnya.
"ya sudah, kalau begitu ibu juga mau masuk ke dalam kamar, ini makanannya, ambil lah!" rena pun bergegas menyerahkan nampan yang ia bawa pada Nio.
"Iya. Te,, terima kasih, bu." jawab Nio ragu-ragu.
Rena hanya tersenyum singkat dan langsung beranjak pergi begitu saja, meninggalkan Nio yang saat itu masih terpaku memandanginya.
__ADS_1
"Hei Nio, apalagi yang kau lihat?? ayo bawa cemilannya kesini!" rengek Rio yang seketika menyadarkan Nio.
Bersambung....