
Nio bergegas berdiri di belakang Rena, lalu tanpa berkata apapun langsung menutup kedua mata Rena hanya dengan menggunakan kedua tangannya. Hal itu seketika membuat Rena kembali tertawa tipis dan seolah pasrah.
"Ayo berjalan lah!" Ucap Nio pelan.
"Tapi ke arah mana, aku tidak tau." Jawab Rena dengan nada manja.
"Jalan saja lurus ke depan, aku yang akan memberi petunjuk."
Rena pun kembali tersenyum, lalu dengan perlahan mulai melangkahkan kakinya sembari kedua tangannya seolah terus meraba-raba ke sekitarnya.
Beberapa menit berlalu, Rena dan Nio juga sudah beberapa meter berjalan menyusuri pepohonan cemara yang tumbuh di sekitar mereka. Akhirnya tibalah mereka di depan sebuah bangunan bergaya estetik yang berada di atas puncak.
"Tunggu sebentar." Celetuk Nio sembari sebelah tangannya mulai merogoh saku celananya.
"Apa sudah sampai?" Tanya Rena yang saat itu kedua matanya masih tertutup oleh sebelah tangan Nio.
"Sudah, tapi kamu belum boleh membuka matamu!"
"Hah, kenapa begitu?"
"Memang harus begitu."
Rena lagi-lagi hanya tersenyum dan memilih patuh.
Nio yang telah memegang sebuah kunci villa itu, dengan sebelah tangannya mulai membuka pintu villa itu.
*Ceklek*
Mendengar suara pintu yang terbuka, sontak membuat Rena mulai mengerutkan dahinya.
"Nio, apa kita sedang berada di depan sebuah rumah? Atau..."
"Atau apa?" Tanya Nio santai sembari tersenyum.
"Atau penginapan??? Ah tapi tidak mungkin penginapan, tidak terdengar suara orang sama sekali."
Saat itu Nio hanya terus tersenyum dan memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Rena.
"Ayo, langkahkan kakimu lagi." Ucapnya lembut.
"Apa kita akan masuk sekarang?"
"Sudahlah, turuti saja permintaanku."
Rena pun kembali melangkahkan kakinya dengan sedikit hati-hati, kedua tangannya juga kembali meraba di area yang ada di depannya,
"Kamu bisa berhenti sekarang!"
Rena pun seketika menghentikan langkahnya,
"Ok, kamu akan mendapat jawabanmu sekarang." Bisik Nio yang kembali tersenyum lalu perlahan melepaskan tangannya yang sejak tadi menutupi kedua mata Rena.
__ADS_1
Kedua mata Rena pun seketika membulat sempurna pertama kali melihat apa yang ada di hadapannya. Sebuah ruangan dengan desain estetik yang unik, dengan sebuah jendela kaca yang langsung menampilkan pemandangan pepohonan cemara yang begitu asri.
"Hah?!! Tempat apa ini Nio? Indah sekali" Tanya Rena yang nampak tercengang, namun terlihat begitu terpukau.
"Ini adalah Villa yang diberikan papa sebagai kado ulang tahunku beberapa tahun lalu. Villa ini menurutku digunakannya untuk menyogokku agar aku tidak selalu bersikap dingin padanya, tapi tentu saja itu tidak berhasil."
"Hah?! Ja,, jadi ini Villamu?"
"Ya, anggap saja begitu, sebenarnya aku bahkan hampir lupa kalau memiliki Villa ini, karena hanya dua kali aku berkunjung ke Villa ini."
"Kedua kali sama sekarang?"
"Oh tidak, ini ketiga kalinya."
"Ohh." Rena pun mengangguk singkat.
"Kamu suka tempat ini Rena?" Tanya Nio yang kembali menatap lekat ke arah Rena.
"Suka, tempat ini terlihat begitu tenang, nyaman dan asri." Jawab Rena yang perlahan mulai melangkahkan kakinya ke arah jendela.
"Apa aku boleh membuka kacanya?" Tanya Rena.
"Sure!" Jawab Nio yang saat itu berdiri di sisi Rena.
Rena pun tersenyum dan langsung membuka kaca jendela itu, membuat hawa dingin sontak langsung masuk ke dalam ruangan itu, seketika memberi hawa sejuk yang langsung terasa di permukaan kulit mereka.
"Oh sejuknyaa." Celetuk Rena dengan pelan sembari kembali tersenyum.
"Ya, tempat ini memang selalu sejuk kapanpun aku berkunjung kesini." Jawab Nio pelan.
"Apa kamu kesini dengan papamu?"
"Tidak," Nio pun seketika mendengus pelan sembari tersenyum lirih.
"Orang sibuk macam dia, mana mungkin punya waktu untuk mengunjungi Villa ini bersamaku."
"Lalu? Apa kamu sendiri?"
"Pertama kali datang kesini aku sendiri, dengan hanya bermodalkan alamat yang diberikan papa melalui pesan. Dan yang kedua bersama teman-temanku, saat itu kami mengadakan acara barbeque'an disini." Jelas Nio dengan tenang.
"Ohh." Lagi-lagi Rena hanya mengangguk pelan.
"Dan yang ketiga, ini yang paling special, aku kesini bersama wanita yang kucintai, yaitu kamu." Nio pun kembali tersenyum dan menatap Rena.
Membuat Rena ikut tersenyum, ia tersipu malu dengan pipi yang sedikit memerah.
"Hmm, tapi aneh, kamu mengatakan hanya dua kali mengunjungi Villa ini, tapi kenapa Villa ini nampak sangat bersih? apa ada seseorang yang ditugaskan untuk merawat Villa ini?"
"Tentu saja, jika tidak maka mungkin saja sekarang Villa ini sudah berubah menjadi sarang laba-laba."
"Oh ya? Lalu dimana orangnya? apa dia tinggal disini?" Rena pun seketika mulai menoleh kesana dan kemari.
__ADS_1
"Oh tidak, dia tidak tinggal disini, dia hanya datang setiap hari untuk membersihkan Villa ini agar tetap terawat dan bersih. Beberapa puluh meter dari Villa ini ada pemukiman warga, disanalah rumah orang yang bertugas membersihkan Villa ini."
"Ohh begitu, pantas saja." Rena pun kembali mengangguk.
"Mau berkeliling??" Tanya Nio menawari.
"Hah?! Apakah boleh?"
"Tentu saja, aku yang mengajakmu kesini, kenapa tidak boleh?"
"Ahh aku mau kalau begitu."
Nio pun sontak melebarkan senyumannya dan langsung mengajak Rena berkeliling bangunan Villa yang memiliki dua lantai itu. Di lantai dua ada sebuah balkon yang menyajikan sisi lain pemandangan, masih dengan latar banyak pohon cemara, namun menariknya, ada sebuah sungai kecil yang berarus cukup deras, dengan air yang begitu jernih yang mengalir di bawah balkon itu.
"Hah?! Sebuah sungai? Ada sebuah sungai juga?" Tanya Rena yang nampak kembali terkejut dan seolah kembali terkesima saat memandangi pemandangan balkon yang justru lebih menarik dari pemandangan sebelumnya.
"Hanya sebuah sungai kecil."
"Astaga,, tempat ini benar-benar indah, bagaimana bisa kamu mengabaikan tempat sebagus ini Nio??" Ungkap Rena yang terus memandang kagum ke arah sungai dan sekitarnya.
"Jika aku jadi kamu, mungkin aku akan berkunjung setiap minggu ke tempat ini, meski untuk sekedar menenangkan pikiran."
"Mulai sekarang, kamu bisa berkunjung kapanpun kamu mau ke tempat ini jika kamu mau, tidak ada larangan." Jawab Nio santai.
"Ah hehehe tidak perlu begitu, aku hanya sedang mengumpamakan jika aku menjadi kamu."
"Hmm tetap saja, kamu tetap bisa datang kapanpun yang kamu mau, tinggal katakan saja padaku."
"Hehe terima kasih Nio."
Rena pun seketika langsung memeluk hangat pinggang Nio. Beberapa menit berlalu, Nio pun kembali mengajak Rena untuk kembali berkeliling, kali ini menuju ke sebuah kamar.
"Jadi ini adalah kamar tidur jika menginap disini?? Tanya Rena saat berdiri di depan pintu kamar itu saat Nio membuka pintu itu.
"Ya, hanya ada tiga kamar di Villa ini, dan kamar ini adalah kamar utamanya."
"Hmm benar-benar terlihat sangat nyaman, bahkan suara aliran sungai juga masih terdengar dari kamar ini, benar-benar menenangkan sekali."
"Apa kamu berminat untuk mencoba tidur disini Rena?" Tanya Nio pelan sembari mulai memeluk Rena dari belakang.
"Hmm ya, tentu saja. Nanti kalau ada kesempatan, aku akan menumpang tidur disini." Jawab Rena yang kembali tersenyum.
"Maksudku, malam ini, bersamaku." Ucap Nio lagi dengan setengah berbisik.
Mendengar hal itu membuat Rena sontak menoleh ke arah Nio dengan senyuman yang sedikit berbeda.
"Hah?! Malam ini?!"
"Hmm." Jawab Nio sembari mengangguk pelan.
"Maksudmu malam ini kita akan menginap disini?"
"Hanya jika kamu berminat!"
__ADS_1
...Bersambung......