Kecanduan Ibu Tiri

Kecanduan Ibu Tiri
Dua pilihan


__ADS_3

Hanya terjadi beberapa detik saja, akhirnya Nio melepaskan kembali bibir mereka yang sebelumnya saling bertautan, lalu kembali menatap kedua mata Rena dengan begitu lekat sembari membelai lembut pipinya.


"Tapi,,,, apa kamu sungguh-sungguh dengan ucapanmu barusan?" Tanya Rena dengan suara pelan.


"Ya, tentu saja! Apa kamu meragukannya?"


"Tidak, hanya saja sejak tadi kamu terlihat ragu,"


"Bukan ragu, aku hanya belum siap dengan penolakanmu lagi. Beberapa bulan belakangan ini aku sudah melalui hidup yang sangat berat, dan jika kali ini kamu kembali menolakku, maka aku tidak tau akan jadi apa aku setelahnya, itulah yang aku takutkan." Jelas Nio sembari terus membelai lembut pipi Rena.


"Tapi ku lihat sejauh ini kamu masih baik-baik saja tanpa aku, bahkan sekarang sikapmu jauh terlihat lebih tenang dari sebelumnya dan tidak gampang marah."


"Ya, aku banyak belajar dari semua masalah hidup yang ku hadapi," Jawab Nio sembari tersenyum.


"Aku pikir kamu benar-benar sudah melupakanku, apalagi saat kamu berpura-pura tidak mengenalku di depan Zayden, hatiku cukup merasa sakit saat itu."


"Bukankah aku sudah mengatakan alasan kenapa aku melakukan hal itu?!"


"Hehhee iya, dan sekarang aku senang." Rena pun semakin mengembangkan senyumannya.



Hal itu tentu saja membuat wajahnya jauh terlihat lebih manis, hingga membuat Nio semakin tak kuasa menahan gejolak asmara yang seolah kembali berapi-api. Nio pun perlahan ingin kembali mencium Rena, dan Rena yang menyadari hal itu, tentu saja tidak mungkin menolaknya.


Namun sayang, seketika Nio harus mengurungkan Niatnya kala mendengar ponselnya berdering. Nio pun bergegas meraih ponsel yang berada di dalam saku di balik jasnya.


"Sorry." Ucapnya pelan saat harus menghentikan aksi yang sebenarnya telah dinantikan oleh Rena.


Rena yang pada dasarnya memang sudah cukup mabuk, seketika memasang raut wajah masam kala itu,


"Owh, ini dari Anya." Ucap Nio ketika melihat nama Anya terpajang jelas di layar ponselnya,


"Anya??" Rena pun mulai nampak mengerutkan dahinya.


"Ya, Anya itu Sekretarisku." Jawab Nio dengan tenang sembari tersenyum tipis.


"Kurasa ada hal penting seputar pekerjaan, makanya dia menelpon, hmm aku harus mengangkatnya." Ucap Nio yang seolah ingin menerima panggilan itu,


Namun entah setan jenis apa yang kala itu tengah merasuki Rena, hingga membuatnya seketika berani menahan tangan Nio yang kala itu tengah memegang ponselnya.


"Bolehkah kali ini aku bersikap egois?" Tanya Rena dengan suara yang seolah terdengar begitu menggoda.


Hal itu sontak membuat Nio seketika meliriknya dengan tatapan bingung.


"Pilihanmu ada dua! Angkat telponnya dan menjauh dariku sekarang, atau jauhkan ponsel itu sekarang dan mendekatlah padaku." Tambah Rena lagi sembari terus memainkan jemarinya di bagian dada Nio.


Hal itu sontak membuat Nio seketika mendengus pelan sembari tersenyum.



"Sepertinya kamu benar-benar suka membuat dua pilihan ketika mabuk ya??"

__ADS_1


"Keputusan ada padamu." Jawab Rena dengan tenang sembari terus tersenyum,


"Kamu tentu tau pilihanku." Ucap Nio yang seketika langsung melemparkan ponselnya ke sofa yang tak jauh dari mereka dan membiarkan ponsel itu terus berdering.


Melihat hal itu, membuat Rena pun seketika jadi tersenyum puas sembari menggigit bibir bagian bawahnya, dan hal itu tentu saja membuat Nio semakin tak kuasa menahan diri dan dengan cepat langsung saja menyambar bibir Rena begitu saja.


Rena pun dengan cepat membalas ciuman Nio dengan tak kalah ganas, lalu tanpa pikir panjang mulai melepaskan jas hitam yang kala itu masih melekat di tubuh Nio dan membuangnya ke sembarang arah.


Nio terus membawa Rena melangkah menuju masuk ke dalam kamarnya, dengan sebelah tangannya ia pun menutup pintu itu tanpa sempat menguncinya lagi. Sepanjang langkah mereka menuju ranjang, Rena dengan sangat tak sabar terus membuka satu persatu kancing kemeja Nio. Begitu pula dengan Nio yang tak mau kalah, kedua tangannya mulai meraba punggung Rena dan membuka resleting gaunnya hingga membuat gaun panjang itu seketika merosot jatuh ke lantai.


Tubuh Rena mulai terjatuh ke atas ranjang yang empuk dan tak lama di susul pula dengan tubuh tegap Nio yang seketika menindihnya. Suara lenguhan merdu Rena perlahan mulai terdengar kala Nio dengan bringas mulai membasahi hampir seluruh bagian tubuh mulusnya dengan lidahnya.


Apalagi saat Nio memainkan kedua gundukan daging miliknya yang kala itu masih nampak begitu kokoh tertegak, sungguh membuat Rena seakan mulai melayang di udara.


"Apa pintunya sudah dikunci?" Tanya Rena di sela-sela ciuman maut mereka.


"Siapa yang peduli dengan pintunya, tidak ada siapapun disini!!" Jawab Nio yang terus saja mencumbu Rena tanpa jeda sembari terus menjamah tubuh wanita yang begitu ia rindukan itu.


"Ah baiklah, kamu menang soal itu."


Saat itu, kedua insan itu benar-benar bertarung layaknya hewan buas yang saling memangsa satu sama lain. Nio yang selama ini cukup lama memendam gejolaknya, kali ini membuatnya benar-benar menumpahkan segalanya di atas ranjang yang seketika nampak jadi berantakan.


Rena semakin merasa terbang tinggi, saat bagian inti Nio mulai memasuki lubang surgawinya. Suara lenguhan pun semakin santer terdengar menggema di ruangan sepetak itu.


"Aaaaghh astaga!!" Gumam Rena kala Nio terus menjalankan aksi keperkasaannya.


"Kenapa sayang?" Bisik Nio yang kemudian kembali membasahi daun telinga.


Nio pun tersenyum mendengarnya dan nampak semakin melajukan gerakannya.


"Katakan, bahwa aku satu-satunya yang melakukan ini lagi setelah kita berpisah." Ucap Nio setengah berbisik.


"Ya, ka,,, kamu satu-satunya!" Jawab Rena dengan nafasnya yang mulai terengah.


"Sungguh??"


"Sungguh, kamu yang terakhir melakukannya, tidak asa yang lain lagi, hanya kamu."


Nio yang merasa sangat puas dengan jawaban Rena, akhirnya kembali menyambar bibirnya sembari terus melajukan gerakannya hingga akhirnya mereka pun mencapai puncak bersama.


"Kamu benar-benar membuatku gila karena kecanduan akan dirimu Rena, kamu sangat luar biasa," Ucap Nio dengan nafas yang begitu terengah sesaat setelah mereka tiba pada puncak kenikmatan.


Rena hanya bisa tersenyum sembari terus mengatur nafasnya yang masih tidak beraturan.


"Aku tidak ingin berpisah denganmu lagi, benar-benar tidak ingin." Nio pun seketika memeluk tubuh Rena.


"Asal kamu berjanji akan terus bersikap seperti sekarang dan tidak gampang salah paham denganku, maka kita akan terus bersama."


"Aku akan terus mencoba untuk jadi yang terbaik untukmu, Rena."


Rena pun hanya mengangguk sembari tersenyum, lalu mulai menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka, dan kemudian mulai menyandarkan kepalanya di dada bidang Nio.

__ADS_1


"Terima kasih." Ucap Rena lembut.


"Terima kasih untuk apa?"


"Untuk menuruti keegoisanku, dan rela mengabaikan Sekretarismu. Bahkan belum lama aku masih mendengar suara ponselmu yang masih saja terus berdering.


Nio pun kembali mendengus pelan sembari tersenyum.


"Itu hanya sebagian kecil dari bukti cintaku padamu." Jawab Nio akhirnya.


Namun tiba-tiba saja Rena mengangkat kepalanya dan kembali menatap Nio dengan tatapan berbeda.


"Tunggu, kamu tadi membahas tentang kamu satu-satunya yang menyentuhku."


"Ehe, lalu?" Tanya Nio dengan tenang.


"Ya lalu bagaimana denganmu? Apa selama kita jauh kamu ada menyentuh wanita lain?"


"Tidak ada!" Jawab Nio dengan cepat.


"Jujur saja! Tidak perlu ada yang di tutup-tutupi.


"Iya, aku sudah jujur, memang tidak ada!"


"Mustahil!!" Ucap Rena yang nampak seolah masih kurang yakin.


"Demi tuhan! Sejauh ini tidak ada satu wanita pun yang bisa membuatku jatuh hati, apalagi sampai membuatku jadi merasa candu seperti dirimu."


"Hmm tapi,, bukankah ada banyak wanita cantik di Qatar?!"


"Ya, memang banyak, tapi tidak ada yang seperti kamu!"


"Haaiss, entah aku harus percaya gombalan mu ini atau tidak, benar-benar sulit dibedakan!"


"Astaga!! Harus dengan apalagi aku harus membuktikan jika hanya kamu, benar-benar hanya kamu wanita yang membuatku berselera."


"Hmm ok, anggap saja aku percaya." Rena pun akhrinya tersenyum dan kembali menyandarkan kepalanya di dada Nio.


Namun tiba-tiba saja Nio mulai memikirkan sesuatu yang lebih serius.


"Rena." Panggilnya lembut.


"Ya?!" Jawab Rena pelan, tanpa menatap wajahnya.


"Apa kamu sungguh masih mencintaiku?"


"Aku masih sangat mencintaimu!"


"Kalau begitu, menikahlah denganku!" Ucap Nio tanpa basa-basi.


Hal itu pun sontak membuat Rena seketika menatap wajahnya dengan raut wajah yang terlihat sedikit terkejut.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2