Kecanduan Ibu Tiri

Kecanduan Ibu Tiri
Makan malam


__ADS_3

Malam hari...


Rena mengantarkan sebuah dress yang akan ia pinjamkan pada Sonia ke kamar tamu, tempat dimana Sonia akan berganti pakaian dan bersiap.


"Semoga ini cocok untukmu Sonia, dress ini belum pernah tante pakai sama sekali, bahkan labelnya pun belum dilepas."


"Ya ampun tante, apa tidak apa-apa meminjamkanku baju yang baru??"


"Tidak apa-apa Sonia, kalau memang cocok, kamu bisa mengambilnya untukmu, anggap saja sebagai hadiah."


"Benarkah tante??" Sonia nampak begitu sumringah saat memandangi sebuah dress berwarna hitam berlengan pendek itu.


"Hmm." Rena pun mengangguk sembari tersenyum tipis.


Sonia pun bergegas mengganti bajunya, lalu langsung duduk di depan meja rias.


"Sini, biar tante bantu menata rambutmu." Ucap Rena yang langsung mengambil sebuah sisir.


"Ah tante, aku jadi sangat tidak enak hati diperlakukan begitu baik seperti ini."


"Tidak apa," Rena lagi-lagi tersenyum tipis dan mulai menyisir pelan rambut Sonia.


"Oh ya Sonia, tadi kamu mengatakan jika kamu dan Nio minum berdua, apa dia banyak bercerita tentang masalah yang tengah ia hadapi?" Tanya Rena yang seolah tengah ingin mengorek informasi.


"Dia cukup banyak bercerita, tapi sepertinya masih ada sebagian yang berusaha ia tutupi."


"Owwhh." Rena pun mengangguk singkat.


"Tapi aku cukup senang, karena hari ini banyak menghabiskan waktu berdua dengan Nio tante hehehe. Bahkan kami hampir...."


"Hampir apa??" Tanya Rena yang mendadak mulai nampak sedikit tegang.


"Haish sebenarnya aku malu mengatakannya pada tante,,,"


"Katakan saja, anggap saja tante sebagai teman curhatmu."


"Tadi kami hampir saja berciuman tante hehehe."


"Apa??!!" Kedua mata Rena sontak membulat sempurna.


"Owhh, mak,, maksud tante, kenapa hampir??" Tanya Rena lagi yang sontak langsung mengubah raut wajahnya agar tidak menimbulkan rasa curiga pada Sonia.


"Hmm iya, Nio langsung menghentikannya sesaat setelah bibir kamu bersentuhan."


*Deggg*


Jantung Rena benar-benar berdetak tak menentu saat itu, rasa panas di hatinya kembali menjadi-jadi seolah sedang terbakar api cemburu yang begitu membara.


"Katanya hal itu dilakukannya demi menjagaku, dia tidak mau semakin membuatku terluka nantinya jika hal itu hingga terjadi. Hmm aku juga tidak terlalu mengerti maksudnya, tapi yang ku tangkap dari ucapannya adalah, dia masih cukup peduli padaku tante hehehe."


Rena pun terdiam, tangannya mendadak bergetar, rasa sesak di dadanya sudah tidak bisa lagi ia tahan.


"Hmm maaf Sonia, sepertinya ada hal yang tante lupakan, tante harus kembali ke kamar." Ucap Rena yang kemudian langsung pergi begitu saja. Sepanjang langkahnya Rena kembali meneteskan air matanya, namun cepat-cepat menyeka air mata itu karena tidak ingin ada yang melihatnya.


"Benar-benar tidak bisa dipercaya!!" Gumam Rena lirih dalam hati.


Rena kembali ke kamarnha dengan memasang wajah sendu, namun tetap saja Rudy sama sekali tidak peka untuk menyadari hal itu.

__ADS_1


"Bagaimana Rena, sudah kamu berikan pada Sonia?" Tanya Rudy sembari memasang kancing pada baju kemejanya.


"Sudah mas." Jawab Rena pelan,


"Lalu bagaimana dengan Nio? Apa dia sudah siap?"


"Aku tidak tau mas."


"Bolehkah aku meminta tolong padamu untuk mengeceknya?"


"Ta,, tapi mas..."


"Pleasee..."


"Ba,, baik mas." Jawab Rena akhirnya yang dengan sangat berat hati kembali keluar dari kamarnya.


Dengan sedikit ragu-ragu, Rena akhirnya menghela nafas dan mulai mengetuk pintu kamar Nio. Dan tidak perlu menunggu lama, Nio nampak membuka pintu kamar itu dalam keadaan sudah nampak rapi dengan memakai baju kaos polos berwarna putih yang dilapisi kemeja polos berwarna hitam,


"Rena???"


"Papamu menyuruhku untuk mengecekmu, syukurlah jika kamu sudah siap!" Ucap Rena datar yang kemudian ingin langsung pergi.


Namun Nio dengan cepat langsung menarik tangannya.


"Rena aku ingin bicara."


"Lepaskan aku Nio!" Tegas Rena.


"Rena please, sebentar saja, kita perlu bicara." Pujuk Nio yang terus berusaha untuk menarik Rena agar masuk ke dalam kamarnya.


Namun Rena yang sebelumnya sudah di kuasai api amarah, sama sekali tidak berminat untuk berbicara lagi pada Nio.


"Aku mohon, masuklah sebentar." Pujuk Nio yang seolah tanpa putus asa.


Namun hal itu bukan malah membuat Rena luluh, justru sebaliknya, ia dibuat makin bertambah murka dan seketika langsung menampar keras pipi Nio sebagai luapan emosinya.


*Praaakkk*


Nio pun seketika tercengang dengan kedua matanya yang jadi membulat saat menatap Rena.


"JANGAN PERNAH BERANI LAGI UNTUK MENYENTUHKU!!!" Ketus Rena yang menatap tajam ke arah Nio, yang kemudian langsung berlalu pergi begitu saja.


Nio terdiam, sembari memegangi pipinya yang terasa pedas akibat tamparan keras dari Rena.


"Ada apa dengannya? Kenapa dia nampak begitu murka? Apa dia masih marah dengan kejadian tadi??" Tanya Nio dalam hati.


Rena kembali masuk ke dalam kamar dengan membawa wajahnya yang sedikit memerah.


"Bagaimana Rena, apa dia sudah siap?"


"Su,, sudah, Nio sudah siap mas."


"Ah baiklah, lalu bagaimana denganmu? Kamu sudah siap?"


Rena pun hanya mengangguk.


"Ya sudah, kita berangkat sekarang??"

__ADS_1


Lagi-lagi Rena hanya mengangguk.


Rudy dan Rena kembali keluar dari kamar dan memilih untuk menunggu di ruang tengah, tak lama Sonia pun nampak keluar dari kamar tamu dengan sudah berpenampilan anggun dan terlihat begitu cantik.


"Pilihanmu tidak salah Rena, dress itu pantas di pakai oleh Sonia." Celetuk Rudy sembari tersenyum memandangi Sonia.


Rena pun hanya diam dan berusaha untuk mengutas senyuman di hadapan mereka. Berlagak seolah baik-baik saja disaat perasaan sedang di gempur rasa sakit, benar-benar sangat tidak mengenakkan.


"Terima kasih banyak tante, aku suka sekali dress ini, ini terlihat cantik."


"Syukurlah kalau kamu suka." Lagi-lagi Rena hanya menampilkan senyum kepalsuan.


"Oh ya dimana Nio? Bukankah dia sudah siap, lalu kenapa belum turun juga?" Tanya Rudy.


Namun seketika senyuman Sonia nampak semakin berkembang saat melihat Nio yang mulai menuruni anak tangga.


"Ahh itu dia." Ucap Sonia.


Rudy pun sontak melirik ke arah tangga, namun lain halnya dengan Rena yang memilih acuh, ia bahkan tidak berniat untuk menoleh ke arah Nio.


Nio pun seketika nampak terkejut saat mendapat sosok Sonia ada di rumahnya.


"Sonia???"


"Hei Nio," sapa Sonia sembari tersenyum manis.


"Kenapa kamu bisa ada disini?? Ada apa??" Tanya Nio yang masih nampak terkejut dan bingung.


"Aku datang untuk mengembalikan ini." Jawab Sonia yang langsung membuka tasnya dan mengambil sebuah kartu debit di dalamnya.


"Kamu meninggalkan kartu ATM mu saat selesai membayar minuman kita, lalu kasir itu mendatangiku dan menitipkan kartu ini padaku karena ia melihat kita bersama sebelumnya."


"Oh astagaa, terima kasih banyak Sonia. Tapi seharusnya kamu tidak perlu repot-repot kemari hanya untuk mengantarkan kartu ATM ku, kamu bisa menelponku."


"Aku sudah menelponmu berkali-kali, tapi sekalipun tidak kamu angkat, jadi tidak ada pilihan lain."


"Oh ya??" Nio pun bergegas meraih ponselnya dari dalam saku celananya,


"Oh astaga, ternyata sejak tadi ponselnya dalam mode silent."


"Hmm bukan salahku kan??"


Nio pun hanya tersenyum tipis.


"Sekai lagi terima kasih Sonia, tapi maaf karena aku harus pergi bersama keluargaku sekarang."


"Iya aku tau." Jawab Sonia dengan tenang.


"Sonia akan ikut makan malam bersama dengan kita." Ungkap Rudy kemudian.


Mendengar hal itu, lagi-lagi membuat Nio pun jadi terkejut.


"Hah??!!"


"Apa kamu terkejut Nio?? Hehehe sama aku juga masih tidak menyangka jika di ajak makan malam oleh papamu." Ungkap Sonia.


Nio pun terdiam dan memandangi wajah papanya yang kala itu hanya tersenyum tipis, lalu beralih menatap ke ara Rena yang saat itu justru terlihat mengalihkan pandangan darinya dan benar-benar bersikap acuh.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2