Kecanduan Ibu Tiri

Kecanduan Ibu Tiri
Pertahanan yang runtuh


__ADS_3

"Ehmm!!" Rena seketika mencoba untuk berteriak sembari berusaha mendorong tubuh kokoh Nio dengan kedua tangannya.


Namun apalah daya, bibir mungilnya saat itu tengah di kunci oleh bibir Nio hingga membuat suara teriakannya tidak mampu keluar dari mulutnya.


Sementara Nio, tentu saja ia tau bahwa saat itu Rena tengah berusaha untuk menolaknya, namun hal itu sama sekali tidak membuatnya gentar dan memilih untuk terus melanjutkan aksinya.


"Eehhmm!!!" Namun lagi-lagi Rena masih belum ingin putus asa dan terus saja mencoba untuk berteriak, ya walaupun hasilnya tetap saja sama, suara teriakannya tidak bisa keluar.


Akibatnya, hal itu justru membuat Nio semakin dalam mngulumm bbir yang begitu menggoda itu, ia terus mlumaattnya sembari semakin mengeratkan sebelah tangannya yang melingkar di pinggang ramping Rena. Tubuh Rena semakin terkunci dalam dekapan Nio, membuatnya semakin tak bisa lolos meski telah mencobanya beberapa kali.


Cyumann maut Nio semakin menjadi-jadi, semakin menuntut dengan lydahnya yang juga semakin liar, menembus masuk ke dalam rongga mulut Rena hingga dengan bebas menjelajah di dalamnya,


Dan sialnya, hal itu ternyata mampu membuat gayrah Rena yang sebelumnya sudah ia rasakan, kini mencuat kembali. Benteng pertahanan diri yang sejak tadi seolah ia bangun dengan begitu susah payah, kini seketika diruntuhkan begitu saja oleh gayrahnya sendiri.


Rena pun mulai terbuai, kedua tangan yang sejak tadi terus berusaha ingin mendorong jauh tubuh Nio, kini seolah pasrah bahkan perlahan mulai mremass baju kaos yang kala itu di pakai oleh Nio.


Menyadari jika Rena mulai menerima hal itu, Nio pun akhirnya bisa tersenyum bahagia dalam hatinya. Kedua bibir mereka kini saling berpagutan satu sama lain, bahkan Rena tak kalah ganass saat membalas lmattan yang diberikan oleh Nio.


Hingga entah sudah berapa menit lamanya kedua bibir mereka saling bertautan, kini perlahan Nio pun mulai melepaskan bibirnya dari Rena. Meski begitu, tetap saja sorot matanya yang begitu lekat, seakan tidak lepas menatap lembut ke arah Rena.


Dengan sebelah tangannya, Nio mulai menyentuh pipi Rena yang mulai nampak memerah, lalu membelainya dengan lembut dan penuh kasih sayang.


"Maaf karena melakukannya lagi, aku benar-benar kesulitan mengendalikannya." Ungkap Nio dengan suara setengah berbisik.


Rena membalas tatapan Nio dengan tak kalah lekat, bibirnya bergetar saat mulai merasakan perasaan hangat yang semakin menjalar ke seluruh tubuhnya.

__ADS_1


"Ap,, apa yang harus kulakukan sekarang?"


"Yang harus kamu lakukan saat ini adalah,,,," ucapan Rena sesaat terhenti.


Kedua mata yang sejak tadi begitu lekat menatap mata lelaki tampan itu, kini mulai beralih menatap bibir Nio.


"Kamu harus melanjutkannya!" Tambah Rena dengan suara pelan, yang kemudian langsung saja kembali menyambar bibir Nio.


Rena sudah terlanjur kehilangan kendali atas dirinya sendiri, sudah sangat terlambat baginya untuk meredam perasaan yang sejak tadi sudah begitu meronta-ronta ingin disalurkan, apalagi kalau bukan perasaan ingin bercinta.


Apalah daya Nio yang saat itu juga dibutakan oleh perasaan yang sama, yang juga tengah menguasai isi kepalanya, tentu saja Nio sama sekali tidak menolaknya. Justru Nio langsung menyambut bibir mungil Rena dengan senang hati, bukan hanya sekedar itu, ia bahkan begitu semangat saat membalas Rena, cyuman panas dari keduanya pun kembali terjadi.


Udara semakin dingin, bahkan hujan rintik-rintik kembali turun membasahi bumi hingga menambah suasana malam itu kian romantis bagi Nio serta Rena.


Tanpa basa basi, keduanya kembali melanjutkan hal yang sempat tertunda. Rena bahkan sudah tidak malu-malu lagi melingkarkan kedua tangannya di leher Nio, sembari terus memainkan lydaahnya untuk memasuki rongga mulut Nio.


Nio mendorong tubuh mungil itu dengan pelan, perlahan membawanya ke arah ranjang yang telah di tata begitu rapi oleh bi Inah untuk siapapun tamu yang menginap.


Rena pasrah saat tubuhnya dijatuhkan begitu saja ke atas ranjang, dengan di susul pula oleh tubuh tegap Nio yang berbaring di atasnya. Suara unik Rena kini sayup-sayup terdengar kala bibir Nio mulai berpindah menuju leher indahnya, kedua mata Rena mulai terpejam merasakan betapa nkmatnya saat lydah nakal itu mulai membasahi permukaan kulit lehernya.


Tanpa segan, Nio mulai membuka ikatan tali yang sejak tadi melingkar di pinggang Rena, membuat kimono yang ia kenakan bisa dengan mudah di lepaskan begitu saja. Nio pun semakin menggila saat melihat tubuh putih mulus Rena yang hanya tertutupi oleh bra dan penutup bagian bawah.


Gundukan daging milik Rena yang masih terlihat begitu kokoh seolah terus memanggil minta di sentuh oleh lydahnya. Hanya dengan sebalah tangan, Nio sudah mampu membuat pengait pada bra Rena terlepas, membuangnya ke segala arah, dan tanpa pikir panjang mulai mendaratkan bibirnya di salah satu gunung kembar yang indah dan kokoh.


"Aaghhh!" Rena kembali mengalunkan suara-suara indah yang membuat Nio semakin liar,

__ADS_1


Saat Nio mulai mngulum serta mngiisapnya sangat dalam layaknya bayi kecil yang begitu kehausan. Rena sangat menikmati prilaku itu, bahkan kedua tangannya kini berpindah ke kepala Nio dan perlahan menekannya agar Nio bisa lebih dalam lagi mnguluum area coklat ke merehan milik Rena.


Nio melirik singkat ke arah wajah Rena yang kala itu tengah sangat menikmati perlakuan liarnya. Ia pun mulai tersenyum tipis dan memindahkan bibirnya ke arah telinga Rena.


"Apa kamu masih tidak berminat padaku?" Bisik Nio pelan sambil membaasahi area telinga Rena dengan lydahnya.


Hal itu membuat Rena kembali menggeliat karena semakin trngsang,


"Tolong jawab aku! apa kamu masih tidak tertarik padaku?"


"To,, tolong, jangan ta,, tanyakan hal itu lagi!!" Jawab Rena dengan terbata-bata.


"Aku tidak bisa menahannya lagi, aku begitu menginginkannya sekarang, apa itu bisa terwujud?" Bisik Nio lagi.


"Lakukan saja! Lakukan semaumu!"


Mendengar jawaban itu, membuat senyuman manis Nio kembali terpancar, Rena bisa melihat hal itu dan merasa semakin tak bisa lepas dari jerat mautnya lagi. Dengan cepat, Nio langsung membuka baju kaos yang masih ia kenakan, membuat perut kotak-kotak serta otot tangannya semakin jelas terlihat dan bagi Rena itu membuat Nio terlihat sangat seksi dan semakin menggoda.


Nio kembali menyambar bibir Rena, lalu berpindah ke leher, puas dengan leher, kini ia turun lagi menuju dada, dan kembali menguasai kedua gundukan daging itu secara bergantian. Tak menunggu lama, kain yang membungkus bagian inti milik keduanya kini sudah terlepas sempurna dan berhambur ke sembarang arah.


Rena sudah tidak memikirkan apapun lagi, yang ia inginkan saat itu hanyalah hsratt dan gayrahhnya terpenuhi. Kali ini terasa sangat luar biasa baginya, sangat berbeda saat ia brciinta dengan suaminya, yaitu ayah Nio sendiri. Kini ia seolah mendapat partner ranjang yang pas, yang bisa benar-benar membuatnya melayang-layang, sangat jauh berbeda saat dengan suaminya, yang kebanyakan Rena lah yang menguasai ranjang.


Suara jeritan syahdu Rena seketika terdengar saat kepunyaan Nio akhirnya berhasil memasuki lubang surgawi miliknya. Kedua insan yang sama-sama telah kehilangan akal sehatnya, kini tengah saling beradu di atas ranjang layaknya dua ekor singa yang saling memangsa.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2