Kecanduan Ibu Tiri

Kecanduan Ibu Tiri
Perasaan Hambar


__ADS_3

Rena pun seketika langsung mengusap-usap wajahnya, betapa malunya ia saat itu di hadapan Nio saat melihat seberapa banyak tanda kepemilikan di tubuh Nio.


"Haaiss, kenapa aku sama sekali tidak sadar saat melakukan itu padanya ya??" Keluh Rena yang saat itu wajahnya masih saja terlihat merah padam.


"Astagaa, semakin diingat-ingat, semakin frustasi pula aku jadinya." Gerutu Rena lagi yang akhirnya ikut keluar dari kamar Nio.


Rena bergegas kembali ke kamarnya, dengan sedikit panik ia pun langsung terduduk di depan meja riasnya sembari memandangi lagi beberapa tanda merah di area lehernya.


"Bisa gawat kalau mas Rudy sampai melihat hal ini." Gumam Rena pelan.


"Aaaaaghh, tapi bagaimana caraku menutupinyaa." Keluh Rena yang justrus nampak semakin panik tak menentu.


"Hmm ok Rena, ok. Tenangkan dirimu, narik nafas dalam-dalam, lalu keluarkan lewat mulut, hmm ok rileks." Ucap Rena yang seolah tengah berusaha untuk menenangkan dirinya.


"Apa aku tutup pakai syal??" Pikir Rena kemudian.


"Ah tidak, tidak! Mas Rudy pasti akan semakin curiga kalau melihatku memakai syal dirumah." Rena pun sontak menggelengkan cepat kepalanya.


Sejak tadi Rena memang terus bergerutu dan berbicara sendiri layaknya orang gila.


"Oh ya, aku tau!! Foundation, ya foundation sepertinya lebih bisa di andalkan untuk menutupi tanda merah ini." Ucapnya yang mendadak mulai tersenyum meski tipis.


Rena dengan sigap langsung meraih foundation miliknya, lalu bergegas mengoleskannya ke area leher yang memerah. Rena bahkan nampak begitu lihai saat mengaplikasikan foundation itu ke kulitnya hingga membuat kulit lehernya kini menjadi terlihat bersih, seolah tidak ada tanda-tanda merah lagi.


Rena akhirnya bisa tersenyum puas serta merasa lega sesaat setelah memastikan jika tidak ada tanda merah lagi yang terlihat di lehernya.


"Nah, begini baru benar, sama sekali tidak ada tanda merah lagi yang keliatan." Gumam Rena yang kembali memandangi hampir seluruh bagian pada lehernya dari cermin dengan senyuman yang akhirnya terlihat sedikit merekah.


Rena akhirnya bangkit dari duduknya, lalu langsung keluar dari kamar untuk menuju meja makan, karena saat itu ia mulai merasa lapar. Kebetulan, saat Rena beberapa langkah menuruni anak tangga, Rudy pun nampak mulai menapaki anak tangga untuk menuju ke lantai dua.


Hal itu pun sontak membuat Rena seketika menghentikan langkahnya dengan perasaan yang sedikit gugup.


"Mas??!" Ucapnya.


Rudy pun menoleh singkat ke arahnya, lalu terus melanjutkan langkahnya untuk menghampiri Rena.

__ADS_1


"Kamu, kenapa tidak mengangkat telponku?" Tanya Rudy yang saat itu wajahnya nampak sedikit sembab.


"Owhh itu, hmm ak,,, aku baru ingin menghubungimu kembali mas." Jawab Rena berbohong yang kebetulan saat itu ia tengah membawa ponselnya.


"Mas tidur dimana mas? Terus tadi kenapa menelponku? Ada apa?"


"Aku tidur di hotel yang tidak terlalu jauh dari club itu bersama Joan, Mr. Feng benar-benar membuat kami mabuk semalam."


"Owwhh." Rena pun hanya mengangguk pelan tanpa ada sedikit pun rasa curiga apalagi rasa kesal.


"Lalu kenapa tadi menelponku? Apa terjadi sesuatu?"


"Oh sebenarnya tadi aku ingin meminta Nio untuk menjemputku di hotel, tapi nomornya tidak aktif, makanya aku menelponmu, maksudnya mau menanyakan keberadaan Nio."


"Owwh maaf ya mas, tadi saat mas menelpon aku lagi mandi." Jawab Rena yang lagi-lagi harus berbohong.


"Hmm ya tidak apa, lagian aku sudah terlanjur pulang naik taksi."


"Kenapa tidak meminta pak Eko untuk menjemput?"


"Hmm ya sudah, apa mau aku siapkan air hangat untuk mandi mas?"


"Ya, kedengarannya ide bagus, karena kepalaku sekarang terasa sangat pusing." Keluh Rudy yang terus mengusap-usap tengkuknya.


"Ya sudah, ayo mas." Rena pun mulai menampilkan sebuah senyuman hangat lalu langsung menggandeng tangan suaminya untuk menuju kembali ke kamar.


Rena, meskipun di belakang Rudy ia telah berkhianat, namun hingga saat itu ia masih saja terus melayani suaminya dengan sepenuh hati tanpa adanya rasa keterpaksaan.


"Mas air hangatnya sudah siap," ucap Rena saat baru keluar dari toilet.


"Hmm ya, terima kasih banyak Ren."


"Iya mas," Rena pun kembali tersenyum.


"Mas, aku yakin perasaan mas Rudy saat ini sama tidak enaknya sepertiku, akibat mabuk semalam. Apa mau aku buatkan sup ayam?"

__ADS_1


"Tentu saja, sepertinya akan sangat enak bila memakan sup ayam yang hangat dan sedikit pedas saat dalam keadaan hangover begini." Rudy pun ikut tersenyum.


"Ya sudah, kalau begitu mas mandi lah dulu, biar aku masak di dapur."


"Ok." Rudy pun akhirnya kembali melangkah untuk menuju toilet.


Kebetulan dari posisi sebelumnya, Rudy harus melewati Rena jika ingin menuju toilet, ia pun menghentikan langkahnya saat di depan Rena, dan langsung mencium singkat kening istrinya itu, lalu tanpa berkata apapun lagi, ia pun langsung beranjak memasuki kamar mandi.


Rena pun terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis tanpa makna, dan langsung beranjak keluar dari kamar.


Semakin hari, entah kenapa Rena semakin merasa jika hubungannya dengan Rudy terasa semakin hambar. Padahal, mereka belum lama menikah. Semua itu terjadi karena cuenya sikap Rudy padanya, dan di tambah pula kehadiran Nio yang mulai mengusik jiwanya, juga cukup mempengaruhi perasaannya saat ini.


Namun meski begitu, Rena pada dasarnya adalah wanita yang baik, itulah sebabnya hingga saat ini ia masih tetap melayani Rudy dengan tulus.


Setibanya di dapur, Rena pun dengan lihai memulai aktivitas masaknya. Bukan hanya urusan ranjang, urusan masak memasak juga Rena tentu bisa jadi juaranya, mengingat hasil masakannya yang tidak pernah mengecewakan.


Satu jam berlalu, saat itu Rudy sudah nampak terduduk di meja makan, menantikan makanan enak yang sedang di masak oleh Rena.


"Apa masih belum masak juga? Aku sangat lapar."


"Sedikit lagi mas, aku ingin memastikan kalau daging ayamnya benar-benar empuk."


"Hmmm." Rudy pun nampak melesu, karena ia memang sama sekali belum memakan sarapan apapun karena tidak selera.


"Kalau mas benar-benar sudah sangat lapar, mas bisa makan dulu makanan yang dimasak oleh Bi Inah tadi pagi." Ucap Rena dengan tenang.


"Hmm tidak, perutku masih terasa sangat tidak enak akibat kebanyakan minum alkohol semalam. Aku benar-benar tidak selera makan apapun selain makan sup buatanmu."


"Ya udah, ini sebentar lagi juga selesai, sabar ya mas." Rena pun menoleh singkat ke arah suaminya sembari tersenyum manis.


Beberapa menit menunggu, akhirnya Rena pun menghidangkan semangkuk sup ayam panas ke hadapan Rudy. Saat itu juga, Rudy langsung menghirup aroma beserta uap panas yang dihasilkan oleh sup itu.


"Aaaahh nyamannyaa." Celetuk Rudy seolah menghela nafas lega.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2