Kecanduan Ibu Tiri

Kecanduan Ibu Tiri
Masih enggan


__ADS_3

Rudy kembali meletakkan ponselnya di meja rias setelah beberapa kali mencoba untuk menghubungi Nio, namun sayangnya tidak ada jawaban.


"Tidak di angkat." Celetuk Rudy yang memilih beralih ke lemari untuk memakai pakaian.


"Apa mau aku buatkan teh mas?" Tanya Rena menawari.


"Boleh juga, kita bisa duduk di taman belakang untuk menikmati secangkir teh hangat." Rudy pun tersenyum tipis, lalu mulai beranjak menuju pintu kamarnya.


"Aku tunggu di taman," Ucapnya datar sembari membuka pintu kamar dan keluar begitu saja.


Meninggalkan Rena yang saat itu masih terduduk di tepi ranjang, Rena terdiam memandangi kepergian suaminya yang terkesan sangat cuek, bahkan sejak pulang tadi, tidak sekalipun dia mencium Rena meskipun itu hanya kecupan di kening. Sikap Rudy benar-benar datar, sama sekali tidak menunjukkan adanya rasa rindu pada istrinya.


Rena pun hanya bisa menghela nafas, lalu akhirnya bangkit dari duduknya dan beranjak keluar menuju dapur.


Dengan lesu, Rena terus mengaduk dua cangkir teh yang dibuatnya, lalu menghidangkannya di meja yang ada di teras belakang rumah.


"Ini mas tehnya." Ucap Rena pelan.


"Terima kasih." Rudy pun mulai tersenyum singkat lalu mulai menyeduh teh buatan Rena.


"Ren, ada yang ingin kuberitahukan padamu." Ucap Rudy sembari meletakkan kembali cangkir tehnya ke atas meja.


"Apa itu mas?"


"Dalam beberapa bulan ke depan, kemungkinan aku akan sering pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan."


"Ha?! Benarkah? Apa mas tidak akan pulang?"


"Aku pasti tetap akan pulang, tapi tidak bisa lama, paling hanya sehari dua hari, setelahnya aku akan pergi lagi."


"Hmm, begitu kah?" Rena pun mulai nampak tertunduk sedikit lesu.


"Kamu tidak masalahkan?" Tanya Rudy dengan tenang.


"Kenapa mas tidak membawaku ikut bersama dengan mas Rudy? Setidaknya aku tetap bisa melayani mas dan membantu menyiapkan segala keperluan mas." Ungkap Rena.


Rena berpikir, jika ia bisa ikut dengan suaminya, akan membuatnya lebih gampang menghindari Nio, bahkan melupakannya. Dengan begitu, perasaan cinta yang baru saja tumbuh, bisa segera pupus hingga tidak terjadi lagi hal-hal yang diluar kendali seperti sebelumnya. Karena sejatinya, Rena masih ingin berusaha untuk setia pada suaminya, hanya saja beberapa hari yang lalu, saat kejadian itu, ia benar-benar tidak kuasa meloloskan dirinya dari gejolak yang begitu besar.


"Tidak bisa Rena. aku akan banyak menghabiskan waktu di luar hotel, jika kamu ikut, yang ada kamu akan bosan. Lagi pula, kamu pun tau salah satu alasan kita menikah, agar Nio bisa merasakan lagi kasih sayang seorang ibu, dan tidak terlalu kesepian di rumah ini. Tapi kalau kamu ikut, bukankah itu tidak ada bedanya baginya?" Jelas Rudy.


Rena pun terdiam, padahal niat hatinya ingin ikut tak lain hanyalah agar ia tidak kembali melakukan kesalahan dengan Nio, dan kembali setia pada suaminya. Namun justru Rudy lah yang secara tidak langsung seolah mendorong Rena dan Nio untuk terus terjebak disituasi yang sulit.


"Aku mohon mengerti lah Rena, ini semata-mata untuk kalian, agar kalian bisa hidup nyaman dan terpenuhi segala kebutuhan kalian." Tambah Rudy lagi.


"Hmm baiklah mas, aku tidak akan memaksa jika kehadiranku tidak terlalu dibutuhkan disana."

__ADS_1


"Aku butuh kamu Rena, tapi Nio lebih butuh kamu sebagai ibu barunya. Kamu lupa dengan apa yang telah kamu janjikan padanya? Kamu berjanji akan selalu ada untuknya, Akan selalu mendengar keluh kesahnya, kamu ingat itu?"


"Ya, Nio memang membutuhkan aku lebih dari pada kamu, mas. Tapi andai kamu tau, kalau dia membutuhkan aku bukan sebagai sosok ibu, melainkan....." Gumam Rena lirih dalam hatinya.


"Kenapa kamu diam? Apa kamu masih kurang setuju dengan ucapanku?"


"Tidak mas, aku setuju dan aku mengerti." Rena pun akhirnya menampilkan senyuman manisnya walau senyuman itu hanyalah keterpaksaan.


Tak lama, ponsel Rudy berdering, dengan cepat Rudy meraih ponsel yang ia simpan di saku celananya.


"Ini dari Nio." Celetuknya pelan sembari langsung menjawab panggilan itu.


"Ada apa menelponku pa?" Tanya Nio datar begitu menyadari Rudy telah menjawab panggilannya.


"Dimana kamu? Apa masih belum pulang dari kampus?"


"Sudah pa, aku di rumah. Kenapa?"


"Di rumah? Dimana?" Tanya Rudy yang langsung mengernyitkan dahinya.


"Lebih tepatnya aku baru sampai rumah, sekarang lagi di tangga, mau masuk kamar."


"Oh ya?? Kalau begitu kemarih lah sebentar!"


"Kemari???" Nio pun sontak mengerutkan dahinya.


Mendengar hal itu, kedua mata Nio sontak membulat sempurna.


"Papa sudah pulang??!!" Tanyanya yang nampak terkejut.


"Iya, kemarilah!"


Rudy pun mengakhiri panggilannya begitu saja, Nio melirik singkat ke arah pintu yang menghubungkan antara ruangan tengah dan teras belakang rumah. Nio pun melangkah cepat menuju tempat dimana Rudy dan Rena sejak tadi terduduk.


"Pa??!!" Ucapnya begitu mendapati Rudy yang sudah duduk dengan Rena yang ada di sampingnya.


"Oh Nio, hmm ayo duduklah." Ucap Rudy saat menyambut kedatangan Nio.


Saat itu Nio masih nampak sedikit tegang, apalagi saat itu ia akhirnya bisa kembali bertemu dengan Rena, wanita yang begitu ia rindukan. Nio menatap singkat ke arah Rena, namun nampaknya saat itu Rena masih enggan untuk menatapnya. Rena memilih untuk terus menundukkan pandangannya sembari memegangi secangkir teh miliknya.


"Nio, kenapa diam saja? Ayo duduklah!" Pinta Rudy lagi.


"Oh, hmm ok." Ucapnya yang masih nampak sedikit gugup sembari langsung duduk di samping Rudy.


"Kapan papa pulang?"

__ADS_1


"Belum lama, mungkin sekitar satu jam yang lalu."


"Hmm."


"Nio, papa ingin mengajakmu dan ibu makan malam di luar malam ini." Ungkap Rudy to the point.


"Makan malam di luar?" Nio pun lagi-lagi melirik ke arah Rena yang masih saja tidak ingin menatapnya itu.


"Iya, kamu bisa kan?"


"Bisa-bisa saja, tapi sebaiknya kalian berdua saja yang pergi!" Jawab Nio pelan.


"Kenapa begitu?"


"Papa baru pulang dari luar kota, ku yakin istri papa butuh lebih banyak waktu untuk berduaan dengan papa." Jawab Nio yang mencoba untuk bersikap tenang.


Mendengar hal itu, akhirnya membuat Rena sedikit terpancing hingga mulai melirik ke arah Nio.


"Aaaah tidak begitu, jangan bicara begitu. Dia ibumu sekarang, jadi tolong jangan berusaha untuk menghindar lagi." Pujuk Rudy yang masih tidak mengetahui apapun yang telah terjadi antara Nio dan Rena.


"Lagi pula, beberapa bulan ke depan, papa akan lebih banyak menghabiskan waktu untuk bepergian ke luar kota. Jadi tolong jangan menolak ajakan papa." Tambah Rudy lagi.


Nio pun terdiam sejenak, lalu mulai menghela nafas dalam.


"Hmm ok." Jawab Nio akhirnya.


Mendengar hal itu akhirnya Rudy bisa tersenyum puas.


"Ok, nanti malam kita pergi bersama, ok!"


"Hmm tidak usah, aku pergi dengan mobilku sendiri saja." Jawab Nio.


"Ya sudah, terserahmu saja."


Nio pun hanya mengangguk.


"Apa ada lagi?"


"Hanya itu saja."


"Kalau begitu aku mau kembali ke kamar."


"Apa kamu tidak ingin menikmati senja dengan secangkir teh buatan ibumu?" Tanya Rudy seolah menawarkan,


Lagi-lagi Nio melirik ke arah Rena yang masih saja terlihat acuh tak acuh padanya, perasaan sedih kembali menghampirinya saat Rena menjadi cuek padanya. Namun lagi dan lagi ia pun tidak ingin memaksakan diri pada Rena.

__ADS_1


"Tidak untuk hari ini, pa!" Jawabnya kemudian, yang seketika langsung beranjak pergi begitu saja.


...Bersambung......


__ADS_2