
Rena akhirnya bangkit dari duduknya, dengan langkah pelan menuju tangga untuk kembali ke kamarnya. Saat itu Nio hanya terus tersenyum memandangi wanita yang entah kenapa mulai jadi penurut.
Tak lama Aldy dan Rio pun kembali keluar dari kamar tamu, dang langsung melangkah menuju meja makan.
"Nio, dimana ibu tirimu?" Tanya Rio begitu menduduki kursi.
"Ke kamar."
"Kenapa kembali ke kamar? Apa dia sudah selesai sarapan?" Kali ini Aldy pun nampaknya ikut penasaran.
"Dia belum sarapan!" Jawab Nio singkat sembari terus mengunyah dengan tenang nasi goreng miliknya.
"Terus, kenapa gak ikut sarapan bersama kita? Bukankah tadi ibumu yang mengajak kami untuk sarapan bersama?" Tanya Aldy lagi dengan panjang lebar.
"Haaiss!! Kenapa sekarang kalian jadi orang yang banyak tanya?? Kalian bisa diam dan langsung makan saja tidak??"
"Hih,, keliatannya kau benar-benar tidak suka pada ibu tirimu itu ya? Sejak semalam kau selalu saja ketus setiap kami bertanya tentang ibu tirimu yang cantik itu." Ungkap Rio.
Namun belum sempat Nio menjawab, Rena akhirnya nampak muncul kembali menuruni anak tangga dengan sudah memakai pakaian yang berbeda dari sebelum. Kali ini pakaiannya cenderung lebih tertutup dari biasanya, Rena memilih memakai dress selutut, berbahan rajut halus, berwarna abu-abu, tapi setidaknya pakaiannya kali ini berlengan panjang dan memiliki kerah yang kecil, hingga pundak mulus serta bagian dadanya tidak lagi terlihat.
"Nah itu dia." Celetuk Aldy sembari menepuk singkat lengan Rio, sembari pandangannya menuju ke arah tangga dengan sebuah senyuman.
Mendengar hal itu, Nio pun seketika langsung menoleh ke arah belakangnya, karena dia duduk membelakangi tangga.
Nio pun akhirnya kembali tersenyum puas saat mendapat Rena yang telah mengganti pakaiannya.
"Kalian sudah disini?? Hmm, kalau begitu tunggu apalagi, ayo makan lah." Ucap Rena begitu tiba di meja makan.
"Hehehe iya tante, kami pikir tante tidak ikut sarapan bersama kami." jawab Aldy sembari cengengesan.
"Tante ganti baju ya? Karena seingatku tadi baju tante berwarna Kuning." Celetuk Rio.
Rena pun mendadak jadi sedikit kikuk saat mendapat pertanyaan seperti itu, ia pun sontak melirik singkat ke arah Nio yang kala itu juga tengah menatapnya dengan begitu lekat.
"Oh hmm, iy,, iya. Tadi baju tante basah kena tumpahan air." Jawab Rena sedikit terbata karena ia berbohong.
"Owww, hehehe."
"Sudahlah, kalian makan saja!! Masih saja banyak tanya!" Ketus Nio yang kemudian memilih untuk melanjutkan sarapan sembari mulai menahan senyumnya saat melihat bagaimana lucunya ekspresi Rena ketika harus berbohong di depan teman-temannya,
Sarapan berlalu dengan begitu santai, Aldy dan Rio di sepanjang mereka sarapan tadi terus saja bercerita dengan penuh semangat pada Rena yang mencoba menanggapi ocehan mereka dengan ramah.
Hingga tak terasa kini jam sudah menunjukkan pukul 08.45 pagi, Rio dan Aldy akhirnya pamit pulang karena jam 10 nanti mereka ada kelas di kampus.
"Kalau begitu kami pamit pulang dulu ya, tante." Aldy pun langsung menyalami Rena.
"Kenapa buru-buru?" Tanya Rena.
"Iya tante, karena jam 10 nanti kami ada kelas."
"Ohh, ok hati-hati ya," Rena pun mengangguk dengan menampilkan sebuah senyuman sembari membalas jabatan tangan Aldy.
__ADS_1
"Wah tante, tangan tante halus sekali hehehe." Celetuk Aldy tanpa segan saat tangan Rena bersentuhan dengan tangannya,
Mendengar hal itu, Nio pun tak tinggal diam dan sontak langsung melepaskan tautan tangan mereka.
"Heh, apa kau lupa bersikap sopan?!!" Ketus Nio tak senang.
"Hehehe haiss, maaf, aku cuma bercanda." Aldy lagi-lagi hanya bisa cengengesan.
Sementara Rena hanya mampu tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. Ia pun memilih untuk masuk terlebih dulu, meninggalkan Nio bersama dua orang sahabatnya yang masih saja asik berdebat di teras depan rumah.
Rena terus berjalan dengan tenang untuk kembali ke dapur, pagi ini dia belum ada kegiatan hingga membuatnya memilih untuk mengambil aluh tugas bi Inah yang saat itu ingin mencuci piring bekas mereka sarapan.
"Bi, biar aku saja yang cuci piring-piring ini." Ucap Rena sembari tersenyum ramah.
"Ta,, tapi bu.." Bi Inah nampaknya masih sangat segan.
"Sudah bi, tidak apa-apa,"
"Hmm ya sudah bu, kalau begitu saya langsung pergi ke pasar ya, mau belanja bahan masakan untuk tiga hari."
"Oh ya sudah, tunggu aku ambil uangnya ya."
"Oh enggak perlu bu. Pak Rudi sudah memberikan saya uang setiap bulannya untuk keperluan belanja."
"Oh benarkah? Hmm saya belum tau soal itu, hehehe."
"Mungkin pak Rudi belum kepikiran untuk memberitahu hal itu, bu."
"Ya sudah bu, saya pamit mau siap-siap dulu."
"Iya." Rena pun mengangguk dan kembali tersenyum tipis.
Lalu mulai kembali fokus pada tumpukan piring kotor yang seolah sudah menunggunya di westafel. Berselang beberapa menit, bi Inah nampak kembali keluar dari kamarnya dengan sudah nampak sedikit rapi.
"Bu, kalau begitu saya pergi dulu ya."
"Iya bi, hati-hati ya."
"Iya bu."
"Oh ya bi, bibi ke pasar naik apa?"
"Seperti biasa bu, di antar Eko,"
Eko adalah supir pribadi di rumah itu, yang tak lain ialah adik bi Inah sendiri.
"Oh ya sudah."
Bi Inah pun mulai melangkah pergi menuju pintu utama karena ingin memanggil Eko yang sedang membersihkan mobil di halaman depan rumah. Kebetulan pula saat itu ia berpapasan dengan Nio yang baru saja ingin masuk ke dalam rumah setelah kedua temannya pulang,
"Bi, mau kemana?" Tanya Nio santai.
__ADS_1
"Biasa mas, mau belanja bahan masakan."
"Ohh, ok hati-hati yaa." Nio pun tersenyum singkat dan melanjutkan langkahnya dan berniat ingin kembali masuk ke kamarnya.
"Iya mas hehe." Bi Inah pun ikut berlalu.
Nio terus berjalan santai sembari memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya, ia terus bersiul di sepanjang langkahnya saat melintasi ruang tamu hingga ruang tengah. Tak sengaja, kedua mata tajamnya melirik ke arah dapur, langkahnya pun sontak dibuat terhenti saat mendapati Rena yang kala itu terlihat sedang mencuci piring.
Nio pun lagi-lagi memancarkan senyumannya, lalu kembali melirik singkat ke arah pintu utama yang kala itu sudah di tutup oleh bi Inah. Tanpa pikir panjang, Nio pun perlahan mulai melangkah untuk menghampiri Rena.
"Ehmm." Nio berdehem sembari mulai berdiri menyandar di kulkas yang cukup besar, yang berada tak jauh dari sisi Rena.
Rena pun terkejut dan sontak menoleh ke arahnya,
"Nio??!" Ucapnya saat terkejut.
"Kenapa harus kamu yang mencuci piring? Bukankah itu tugas bi Inah?" Tenya Nio dengan lembut sembari tersenyum tipis.
"Hmm, ti,, tidak apa, lagi pula bi Inah harus ke pasar." Jawab Rena yang kembali gugup sembari memilih kembali fokus pada piring yang tengah ia pegang,
Nio pun kembali diam, ia terus memandangi Rena dengan kagum sembari mengembangkan senyuman. Rena yang menyadari jika Nio terus memperhatikannya, sontak semakin dibuat merasa gugup. Dengan sedikit ragu-ragu, ia pun kembali melirik ke arah Nio.
"Ke,, kenapa?" Tanyanya kemudian.
"Kenapa apanya?"
"Kenapa, melihatiku seperti itu?"
"Hmm, tidak ada. Hanya sedang merasa kagum saja."
"Kagum??" Kedua dahi Rena pun nampak mengkerut.
"Hmm." Jawab Nio sembari mengangguk pelan.
Hal itu membuat Rena pun mendengus, lalu mulai tersenyum tipis.
"Apa yang sedang kamu kagumi?" Tanya Rena yang saat itu hampir menyelesaikan tugasnya.
Saat itu Nio nampak semakin melebarkan senyumannya, lalu mulai melangkah pelan menuju ke belakang Rena, dan tanpa ragu, mulai memeluk tubuh mungil Rena dari belakang.
"Kamu." Jawabnya setengah berbisik.
Rena pun sontak kembali terkejut saat Nio berani memeluknya di dapur.
"Nio!! Apa yang kamu lakukan?!" Tanya Rena yang nampak panik.
"Ini di dapur!! Bagaimana kalau bi Inah melihatnya!"
"Bukankah bi Inah sedang ke pasar?!" Jawab Nio dengan tenang yang justru semakin mengeratkan pelukannya.
Rena pun terdiam sejenak karena baru ingat jika saat itu hanya ada mereka berdua di rumah.
__ADS_1
...Bersambung......