
"Nio, demi tuhan bukannya aku tidak suka dengan harapanmu itu!"
"Tapi melihat reaksimu yang seperti itu, sudah cukup untuk menjelaskan semuanya, Rena."
"Tidak, bu,, bukan begitu maksudku. Aku hanya..."
"Hanya apa??"
"Sejujurnya, aku sangat senang dengan harapanmu itu, dan jika di tanya dari lubuk hatiku yang terdalam, maka akupun sangat menginginkan hal itu."
Saat itu Nio pun masih diam dengan tatapan yang begitu lekat namun terkesan sendu saat menatap wanita pujaannya itu.
"Tapi disaat yang sama, aku juga merasa sedih dan bingung. Aku sedih karena pada kenyataannya, hal itu sangat kecil kemungkinan untuk terjadi, bahkan mungkin tidak akan pernah bisa terjadi, mengingat statusku yang saat ini sudah menjadi istri dari papamu. Aku bingung, karena aku benar-benar tidak tau harus berbuat apa saat ini. Aku mencintaimu dan ingin selalu berada di sisimu, tapi di sisi yang lain, aku juga tidak tega terus-terusan mengikatmu di hubungan yang seperti ini terus menerus, hubungan yang tidak memiliki arah tujuan dan tidak memiliki kepastian di masa depan." Ungkap Rena dengan nada lembut dan lirih.
Lagi-lagi Nio kembali mendengus pelan sembari tersenyum lirih, bukan hanya Rena, bahkan Nio kali itu pun juga tidak tau harus mengatakan apa lagi.
"Tapi Nio, untuk saat ini, bisa tidak kita jangan membahas hal itu dulu? Bisa tidak kita jalani saja apa yang ada di depan mata saat ini? Just let it flow." Rena pun mulai meraih kedua tangan Nio dan terus menatapnya dengan begitu lekat dan seolah penuh harap.
Nio pun menghela nafas sedikit dalam, dan akhirnya memaksakan untuk tersenyum di hadapan Rena, demi semuanya agar tetap baik-baik saja.
"Hmm, ok." Ucapnya pelan.
Rena pun akhirnya mulai tersenyum meski masih hatinya masih diliputi oleh perasaan yang tak menentu saat itu.
"Maaf ya, maaf karena sudah merusak suasana dengan mengatakan harapanku padamu."
"Tidak, kamu sama sekali tidak salah Nio." Rena pun menggelengkan cepat kepalanya,
"Dan maaf juga, jika harapanku itu sudah membuatmu sedih dan bingung. Aku benar-benar tidak bermaksud seperti itu, aku hanya sedang berusaha untuk mengutarakan keinginanku pada tuhan, itu saja. Dan masalah di kabulkan atau tidak, itu urusan tuhan." Ungkap Nio lagi.
"Bukan kamu yang salah, mungkin aku yang masih terlali sensitif dengan hal itu." Jawab Rena yang mulai menunduk lesu.
Nio yang tidak ingin mereka larut dalam situasi yang canggung seperti itu, akhirnya kembali menghela nafas dan menarik tubuh Rena untuk masuk ke dalam dekapannya.
"Hmm sudah ya sudah! Tidak perlu di perpanjang lagi, aku tidak mau kita kembali bertentangan hanya karena hal ini. Abaikan saja apapun yang menjadi harapanku tadi, itu biarlah menjadi urusanku dengan tuhan." Ucap Nio pelan sembari terus mengusap-usap lembut punggung Rena.
Rena yang masih diam pun langsung membalas pelukan hangat Nio dengan sangat erat. Berada di dalam pelukan lelaki yang begitu ia cintai, benar-benar mampu membuatnya merasa jauh lebih tenang dari sebelumnya, di tambah lagi dengan sikap dan kata-kata Nio yang juga mampu menenangkan hatinya, sungguh Rena benar-benar semakin tak bisa lagi lepas dari jeratan cinta Nio.
__ADS_1
"Terima kasih banyak sudah memelukku sekarang, aku jadi jauh merasa lebih tenang dan merasa lebih baik saat ini." Ungkap Rena pelan.
"Aku akan terus memelukmu seperti ini, kapanpun kamu merasa tertekan dan sedih."
Untuk menghibur Rena agar bisa kembali ceria seperti sebelumnya, Nio pun memutuskan untuk mengajaknya berjalan-jalan ke puncak, yang kebetulan untuk tiba disana hanya memerlukan waktu dua jam dari rumahnya,
"Ke puncak? Sekarang??" Tanya Rena yang masih sedikit kaget.
"Iya, belum terlalu siang kalau kita pergi sekarang." Jawab Nio dengan tenang.
"Apa tidak jauh?"
"Hanya lebih kurang dua jam."
"Kamu yakin?"
"Yakin! Ayo bersiap la, kamu tidak perlu berdandan karena kamu sudah terlihat sangat cantik meski tanpa polesan make up sedikit pun, kamu hanya harus mengganti pakaian saja dengan yang sedikit lebih tebal karena udara disana sudah pasti sangat sejuk," Jelas Nio singkat.
"Hmm baiklah," Rena menghela nafas singkat, ia pun kembali tersenyum lalu mulai bangkit dari duduknya.
"Tentu saja aku juga akan ganti baju?"
"Lalu tunggu apa lagi?? Bukankah kita harus bergegas?" Tanya Rena yang kemudian langsung beranjak pergi menuju tangga.
Nio pun mendengus pelan dan kembali tersenyum.
"Bukankah tadi aku yang mengajaknya pergi? Kenapa jadi dia yang mengatur?" Gumam Nio sembari tersenyum geli.
Nio pun akhirnya ikut bangkit dari duduknya, lalu ikut beranjak menuju kamarnya utk ganti baju. Setengah jam berlalu, Kini Nio dan Rena sudah berada di dalam mobil jeep dan siap untuk berangkat menuju puncak.
Perjalanan pun di mulai, lagi-lagi kedua mata Rena seolah dibuat tak berkedip saat memandangi sisi kiri dan kanan jalan yang nampak begitu menenangkan hatinya, bagaimana tidak sepanjang jalan matanya terus disuguhi oleh banyak pemandangan indah.
Di sisi kiri di suguhkan dengan hijaunya tanaman padi di sawah yang membentang luas bak permadani, di sisi kanan di suguhi pula dengan banyaknya kebun bunga matahari, yang dimana saat itu bunga matahari sedang bermekaran dengan begitu besarnya,
"Jika jalanannya terus seperti ini, aku bahkan rela bila harus menempuh perjalanan terus menerus." Celetuk Rena pelan sembari terus memandangi kagum ke arah sisi kiri dan kanannya,
Nio pun kembali tersenyum kala mendengar celetukan itu.
__ADS_1
"Kamu akan lebih terpesona dengan pemandangan alamnya ketika kita sudah mulai menanjak nanti."
"Apakah masih jauh?"
"Hmm mungkin sekitar 45 menit lagi."
"Ah aku benar-benar sangat bersemangat dan tidak sabar." Ungkap Rena yang semakin melebarkan senyumannya.
"Nikmati saja perjalanannya, nanti juga tiba-tiba sudah sampai."
Tanpa berkata apapun lagi, hanya terus mengukir sebuah senyuman, Rena kembali menoleh ke arah jendela mobilnya.
Saat itu kebetulan di daerah puncak sedang berkabut, dan sedikit mendung, tidak ada cahaya matahari yang menghangatkan, hingga membuat udara saat itu terasa begitu sejuk meskipun saat itu jam sudah menunjukkan pukul 11.00 siang.
Dan benar saja, dengan kecepatan mobil yang terbilang cukup laju karena jalanan yang lengang, membuat mereka bisa tiba di puncak bahkan lima menit lebih awal dari perkiraan Nio sebelumnya, ya hanya memerlukan waktu 40 menit saja.
"Apa kita sudah sampai?" Tanya Rena ketika Nio menghentikan mobilnya.
"Ya, turun la!" Jawab Nio pelan yang saat itu langsung keluar dari mobilnya begitu saja.
Rena pun bergegas keluar dari mobilnya dan menghampiri Nio,
"Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu."
"Apa itu?" Tanya Rena sembari tersenyum.
"Untuk mengetahuinya, aku harus menutup matamu terlebih dulu."
"Hahaha haruskah?" Tanya Rena yang terkekeh pelan.
"Tentu saja, anggap saja ini kejutan."
"Bukankah kamu yang berulang tahun hari ini, lalu kenapa malah aku yang mendapat kejutan?"
"Tidak masalah siapapun yang berulang tahun, yang jelas aku ingin selalu memberimu kejutan." Jawab Nio yang kembali tersenyum dan akhirnya mulai menutup kedua mata Rena dengan kedua tangannya.
...Bersambung......
__ADS_1