Kecanduan Ibu Tiri

Kecanduan Ibu Tiri
Pesta Pernikahan


__ADS_3

Kini tibalah saat yang begitu dinantikan oleh kedua sejoli yang tengah jatuh cinta, saat dimana Zayden akhirnya telah resmi menikahi Meichan, wanita yang hanya beberapa bulan menjalin hubungan dengannya. Acara pernikahan mereka terbilang cukup mewah dan dilangsungkan di sebuah hotel berbintang di tengah kota Shanghai, mengingat keluarga Meichan yang juga merupakan keluarga yang cukup mapan di kota itu. Senyum tawa dari Zayden nampak begitu nyata hari itu, membuat seluruh pasang mata yang kala itu menyaksikan moment manis itu juga ikut tersenyum manis sembari terus bertepuk tangan.


Tak ketinggalan pula Rena yang hari itu nampak begitu anggun dengan memakai long dress berlengan panjang yang begitu pas mengikuti lekuk tubuhnya. Ia juga nampak tersenyum tersenyum haru sembari sesekali juga nampak meneteskan air matanya karena merasa ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh kakaknya.


"Yeahh, aku sudah menjadi seorang suami sekarang!!!" Teriak Zayden yang nampak senang sembari menunjukkan sebuah cincin pernikahan yang sudah melingkar di jari manisnya.


Nio yang menyaksikan hal itu tentunya juga terus bertepuk tangan dan ikut merasa bahagia tentunya. Sama halnya dengan Rena dan tamu lainnya, hari itu Nio juga nampak begitu rupawan dengan berbalut setelan jas berwarna hitam yang membuat penampilan formalnya kala itu jadi terlihat semakin sempurna terutama di mata kaum hawa.


Ini pertama kalinya Rena melihat bagaimana tampan dan machonya Nio ketika menggunakan jas, sungguh sebuah penampilan yang benar-benar membuat Rena terpikat meskipun saat itu ia sama sekali tidak menunjukkan hal itu.


Setelah dinyatakan resmi menjadi suami istri, kini Zayden bersama Meichan pun mulai nampak bergabung ke pesta untuk menyambut satu persatu tamu mereka yang sudah hadir.


"Selamat Zayden, semoga kau dan istrimu selalu dilimpahkan kebahagiaan dalam hubungan kalian." Ucap Rena yang seketika langsung memeluk hangat tubuh Zayden saat Zayden menghampirinya.


"Terima kasih Na, doa yang sama juga untukmu, semoga kamu segera menemukan seorang pendamping yang kelak akan meratukanmu." Ucap Zayden sembari terus mengusap lembut punggung Rena.


Mendengar hal itu membuat Rena hanya bisa menampilkan senyuman tipis, namun juga entah kenapa ia jadi merasa sedih dengan doa kakaknya itu.


"Terima kasih." Jawab Rena akhirnya.


Zayden pun mulai menghampiri Nio dan kembali memeluk sahabatnya itu.


"Congrats bro, semoga hubungan kalian longlast sampai kakek nenek."


"Hehehe thanks bro, semoga kau juga bisa segera menyusul."


Nio pun hanya tersenyum tanpa menjawab.


Zayden pun akhirnya pamit untuk pergi menyapa tamunya yang lain, lalu meninggalkan Rena dan Nio yang kala itu berdiri berdampingan dengan perasaan yang masih saja terlihat canggung.


"Gaun yang indah." Puji Nio pada Rena, demi membuat suasana di antara mereka tidak terlalu canggung.


"Terima kasih, kamu juga terlihat pantas dengan jas itu." Ucap Rena yang nampak sedikit kikuk.

__ADS_1


Tak lama, seorang pelayan hotel yang bertugas melayani tamu undangan datang menghampiri Nio dan Rena dengan membawa sebuah nampan yang diatasnya terletak banyak gelas yang sudah diisi minuman sparkling wine atau biasa disebut Champagne (Sampanye), lalu menawarkannya pada mereka.


Tanpa ragu, Nio pun meraih segelas Sampanye itu, begiu pula dengan Rena, dan hampir seluruh tamu yang ada di sana nampaknya juga sudah memegang gelas yang berisikan minuman dari hasil fermentasi anggur putih itu.


Alunan musik jazz pun mulai dimainkan oleh grup orchestra yang memang sudah di bayar untuk memeriahkan acara pernikahan itu. Seluruh tamu pun mulai nampak menikmati suasana pernikahan itu dengan cara mereka masing-masing, ada beberapa pasangan yang berdansa, menyantap hidangan makanan, minum sembari mengobrol santai, juga tak sedikit yang sibuk berfoto bersama terlebih bersama pengantin.


Tak lama, Zayden pun kembali datang menghampiri Nio dan Rena.


"Apa kalian menikmati pesta pernikahanku ini?" Tanya Zayden sembari terus tersenyum.


"Ya, tentu." Jawab Rena dengan cepat.


"Oh ya Na, ada seorang temanku yang datang dari Qatar, dia ingin mengenalmu, apa kamu tidak keberatan jika ku kenalkan dengannya?" Tanya Zayden.


Hal itu pun seketika membuat Rena terdiam sembari mulai melirik singkat ke arah Nio yang kala itu juga menatapnya dengan tatapan yang tak biasa. Namun, mengingat jika di antara mereka sudah tidak ada hubungan apapun, membuat Rena tidak punya alasan untuk menolak hal itu.


"Owhh, ya, boleh!" Jawab Rena akhirnya.


"Ah nice, come on." Ajak Zayden.


"Oh sure, no problem." Jawab Nio dengan tenang sembari tersenyum tipis.


"Ah ok," Zayden pun kembali melebarkan senyumannya dan kemudian langsung berlalu pergi membawa Rena bersamanya.


"Temanku yang ini juga tidak kalah tampan, dia pebisnis dan sudah pasti mapan, dan tentu saja dia juga pria yang baik." Jelas Zayden di sepanjang langkah mereka menuju tempat dimana temannya itu berada.


"Hei, kenapa kamu menjelaskan hal itu padaku, seolah-olah seperti kami akan menjalin hubungan. Bukankah kami hanya akan berkenalan?" Jawab Rena sembari mendengus pelan dan tersenyum.


"Hmm perkenalan hanyalah awal, bisa jadi setelahnya kalian akan merasa cocok."


Rena yang mendengar hal itu tentu hanya bisa tersenyum dan memilih untuk tidak menjawabnya.


"Zeyn, ini dia adikku, adikku satu-satunya, namanya Nana." Ucap Zayden begitu mereka tiba di hadapan lelaki yang memiliki paras yang cukup rupawan dan fostur tubuh yang juga tinggi.

__ADS_1


"Owh, halo, aku Zeyn. Senang mengenalmu Nana," Ucap Zeyn yang dengan sigap langsung menjulurkan tangannya pada Rena sembari tersenyum penuh takjub.



Kala itu Nio hanya bisa memandangi mereka dari kejauhan, memandangi bagaimana Rena yang sedang berkenalan dengan lelaki lain.



"Aku Rena." Jawab Rena yang juga ikut tersenyum tipis.


"Rena? Bukankah kakakmu baru saja menyebut namamu Nana?" Tanya Zeyn yang nampak sedikit bingung.


"Owh iya, Nana itu hanya sebuah panggilan saat aku kecil saja."


"Hehehe iya bro, jadi dirumah kami selalu memanggilnya Nana, hanya orang terdekat yang memanggilnya seperti itu." Jelas Zayden sembari merangkul Zeyn.


"Hmm jadi hanya untuk orang terdekat saja ya." Zeyn pun tersenyum sembari mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti.


"Ya, begitulah," jawab Rena singkat.


"Lalu, jika setelah ini kita menjadi dekat, apa aku boleh memanggilmu dengan sebutan Nana?" Tanya Zeyn tanpa basa basi.


Mendapat pertanyaan semacam itu, sontak membuat Rena seketika jadi terdiam sembari melirik ke arah Zayden karena merasa bingung.


"Wow, untuk sebuah moment perkenalan, kau nampaknya tidak banyak berbasa basi ya hehehe." Celetuk Zayden.


"Hehe, ya aku memang lebih suka to the point." Jawab Zeyn dengan tenang sembari meneguk kembali Sampanye miliknya.


"Hmm tapi, jika kita bisa dekat, aku sepertinya tidak akan memanggilmu Nana,."


"Lalu?" Tanya Rena.


"Mungkin akan ku panggil Honey, atau beib." Jawab Zeyn dengan cara setengah berbisik di dekat telinga Rena.

__ADS_1


Hal itu pun membuat Rena kembali tercengang hingga seketika jadi tersenyum kikuk. Sedangkan Nio yang ternyata masih terus memperhatikan mereka dari kejauhan, mulai nampak mengerutkan dahinya kala melihat hal itu.


...Bersambung......


__ADS_2