Kecanduan Ibu Tiri

Kecanduan Ibu Tiri
Kecil hati


__ADS_3

Rena lagi-lagi kembali memandangi Sonia dari ujung rambut hingga ujung kaki, lalu akhirnya menghela nafas panjang,


"Dan kamu Sonia, ayo ikut tante, tante akan meminjamimu pakaian yang kering!!" Ucap Rena yang akhirnya kembali menapaki tangga untuk kembali menuju ke kamarnya.


"Iy,, iya tante." Sonia pun mengangguk patuh dan mulai melangkah mengikuti langkah Rena dari belakang.


"Tante rasa pakaian tante akan pas di badanmu, karena tante lihat sepertinya kita memiliki ukuran tubuh yang tidak terlalu jauh berbeda."


"Apa benar-benar tidak akan merepotkan tante?"


"kalian sudah bersedia repot demi Nio, lalu kenapa tante juga tidak mau direpotkan oleh teman-temannya?" Jawab Rena dengan tenang.


Rena langsung memasuki kamarnya, dan mengajak sonia juga ikut seta masuk bersamanya.


"Ayo masuklah Sonia,"


"iya tante" Sonia pun tersenyum manis dan langsung melangkah memasuki kamar Rena tanpa ragu.


Tanpa banyak basa basi, Rena langsung melangkah menuju lemari pakaiannya yang berukuran sangat besar, lalu membuka salah satu pintu lemari itu, yang di dalamnya sudah nampak begitu banyak pakaian yang tersusun rapi.


"Pagi ini terasa sangat sejuk, bagaimana dengan pakaian yang sedikit tebal? apa kamu mau memakainya Sonia?" Tanya Rena menawarkan.


"Hmm, apa saja tante, sama sekali tidak masalah."


"Ah baiklah, kalau begitu kamu pakai ini ya? baju ini bisa membuatmu merasa lebih hangat," Ucap Rena sembari memberikan baju berbahan rajut yang begitu lembut, berlengan panjang dan memiliki panjang selutut.


"Jika kamu merasa malu mengganti baju disini, kamu bisa mengganti bajumu di toilet." Tambah Rena lagi sembari menunjuk ke arah toilet yang ada di kamarnya.


"Ah baiklah tante, aku mengganti bajuku di toilet saja."


"Hmm ya sudah." Rena pun tersenyum singkat.


"Oh ya tante, apa boleh aku meminta izin untuk sekalian membilas tubuhku?"


"Boleh, sama sekali tidak masalah."


"Ok tante, terima kasih sebelumnya."


Sonia pun kembali memancarkan senyuman manisnya lalu kemudian langsung beranjak menuju toilet sembari membawa serta baju yang telah dipinjami oleh Rena.

__ADS_1


"Oh ya sonia, tunggu!" Ucap Rena tiba-tiba.


Langkah Sonia pun mendadak jadi terhenti sat ia sudah berada di pintu toilet.


"Kenapa tante?" Tanyanya.


Tanpa menjawab, Rena kembali membuka salah satu pintu lemarinya, lalu meraih selembar handuk di dalamnya dan langsung memberikannya pada sonia.


"Kamu tadi mengatakan ingin sekalian berbilas kan? hmm, jadi tante rasa kamu pasti membutuhkan handuk ini." Ucap Rena lembut.


lagi-lagi Sonia pun kembali dibuat tersenyum sembari meraih selembar handuk itu dari tangan Rena.


"Aku tidak menyangka kalau Nio memiliki ibu tiri sebaik tante, sekali lagi terima kasih banyak tante." Ucap Sonia dengan lembut.


Sebenarnya tidak ada yang salah dengan ucapan Sonia saat itu, namun bagi Rena yang mendengar hal itu, entah kenapa kata-kata itu seakan sedang mengingatkannya kembali dengan posisinya bagi Nio hanyalah sebagai ibu tiri. Hal itu pun akhirnya hanya membuat Rena tersenyum kaku sembari mengangguk singkat.


Sonia pun benar-benar masuk ke dalam toilet dan meninggalkan Rena di depan pintu dengan perasaannya yang kembali merasa terusik. Melihat bagaimana Sonia yang begitu cantik, berkaki jenjang, seketika membuat nyalinya menciut.


"Sonia definisi wanita yang benar-benar cantik, aku yang wanita saja juga mengakui kecantikannya, bagaimana dengan lelaki di luaran sana, tapi,,, kenapa Nio bilang dia tidak bisa menyukainya??" Gumam Rena dalam hati sembari mulai melangkah pelan menuju tempat tidurnya.


Dengan lesu ia pun kembali terduduk di tepi ranjang dengan tatapannya yang kosong.


Berselang beberapa menit, Sonia pun kembali keluar dari toilet dengan sudah memakai baju pemberian Rena. Melihat hal itu, Rena pun akhirnya kembali bangkit dari duduknya sembari memandangi Sonia.


"Benar saja, baju itu pas di badanmu Sonia." Ucap Rena yang kembali menampilkan senyuman hangat.


"Hehehe iya tante, baju ini terlihat pas denganku, sekali lagi terima kasih banyak tante." Jawab Sonia yang ikut tersenyum manis.


Lagi-lagi Rena hanya mengangguk singkat.


"Oh ya, kamu pulang di antar oleh Aldy dan Rio kan?" Tanya Rena lagi memastikan.


"Oh tidak tante, aku pulang sendiri hehe."


"Hah?! Sendirian??" Kedua mata Rena nampak terbelalak.


"Iya tante," Sonia pun mengangguk.


Rena pun melirik ke arah jam dinding yang tergantung di kamarnya, saat itu jam sudah menunjukkan pukul 03.40 pagi.

__ADS_1


"Ini sudah hampir jam 4 pagi, apa kamu yakin pulang sendirian? Terus kamu naik apa?"


"Kebetulan naik mobil tante."


"Apa rumah kamu jauh dari sini?" Tanya Rena lagi yang seolah terus mengajukan pertanyaan introgasi pada Sonia.


"Lumayan jauh tante, hehehe."


"Haaaissh, bagaimana bisa kamu pulang sendirian di jam seperti ini? Walaupun kamu naik mobil, bukankah itu tetap bahaya??"


Sonia pun kembali terdiam sejenak.


"Hmm begini saja, kalau kamu mau, kamu bisa menginap disini. Setidaknya kamu bisa tidur disini sampai terang jadi lebih aman. Bagaimana?"


Sonia pun lagi-lagi masih diam seolah terus berpikir.


"Hmm, ibu tiri Nio sepertinya bisa memberiku jalan untuk lebih dekat lagi dengan Nio. Bukankah ini tawaran yang sangat tidak bisa di abaikan?" Gumam Sonia dalam hati.


"Hmm baiklah tante jika hal itu tidak merepotkan tante, aku mau menginap disini."


"Sama sekali tidak merepotkan, kamu itu perempuan Sonia, perempuan itu cenderung lebih mudah mendapatkan tindakan kriminal di jalan, apapun itu, baik itu perampokan, pelecehan, atau semacamnya. Jadi tante tidak mau hal itu terjadi padamu,"


Sonia pun akhirnya kembali mengembangkan senyumannya dan tanpa segan, langsung saja memeluk hangat tubuh Rena layaknya seorang anak yang tengah memeluk ibunya.


"Aaaaa terima kasih tante, bukan hanya cantik dan baik, ternyata tante juga perhatian." Ungkap Sonia.


Saat itu Rena nampaknya masih sangat terkejut saat Sonia secara tiba-tiba memeluknya hingga membuatnya terpaku sejenak.


"Nio benar-benar beruntung memiliki ibu pengganti seperti tante, pantas saja sikap Nio sekarang mulai sedikit berubah, dia jadi terlihat lebih tenang dan tidak terlalu kaku seperti dulu lagi." Tambah Sonia lagi yang semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Rena.


Mau tak mau, Rena pun akhirnya membalas pelukan Sonia, dengan sebuah senyuman kaku,


"Kamu terlalu berlebihan dalam memuji, tante tidak sebaik itu."


"Jelas tante benar-benar terlihat sangat baik, tidak seperti ibu tiri pada umumnya, bahkan seharusnya tante ini lebih cocok jika menjadi temanku, mengingat tante yang terlihat masih sangat muda." Jawab Sonia sembari perlahan melepaskan tautan tubuh mereka.


Rena pun tidak menjawab dengan kata-kata, hanya membalasnya dengan sebuah senyuman tipis yang terlihat kaku.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2