
Nio pun langsung mendapati Rena yang terlihat sudah berdiri di depan pintunya dengan raut wajah yang sedikit tegang. Ia terdiam sejenak memandangi Rena yang malam itu terlihat begitu cantik dan seksi seperti biasanya. setelah beberapa saat keduanya saling diam dengan tatapan yang berbeda, Nio pun seketika langsung menarik tangan Rena, membuat tubuh mungil itu jadi tertarik masuk ke dalam kamar, lalu dengan cepat langsung menyambar begitu saja bibirnya yang berkilat.
Sebelah tangannya yang kokoh ia gunakan untuk menutup rapat serta mengunci pintu kamar, sedangkan sebelah tangannya lagi, sudah mengusap lembut leher serta tengkuk Rena.
Rena sudah merasakan birahi sebelumnya, tentu hal itu membuatnya tidak dapat melawan lagi. Ia bahkan langsung membalas ciuman hangat Nio dengan tak kalah ganas. Mereka berdua terus melangkah perlahan, dalam keadaan bibir yang masih terus bertautan satu sama lain.
Kali ini mereka tidak memilih ranjang sebagai sarana mereka bergulat, melainkan sebuah sofa panjang yang ada di salah satu sisi kamar Nio. Nio terduduk, ia tersandar di sandaran sofa lalu Rena datang ke pangkuannya dan kembali memangsa bibirnya dengan rakus.
Nio lagi-lagi tersenyum, keliaran Rena yang seolah saat itu sedang mendominasi tubuh kekarnya, benar-benar sangat disukainya. Rena akhirnya melepaskan tautan bibir mereka dengan nafas yang mulai terengah, lalu kembali menatap Nio dengan begitu lekat.
"Apa kejadian di dapur tadi jadi membuatmu bergairah, Rena?" Tanya Nio pelan, sembari kedua tangannya membelai lembut kedua sisi pipi Rena.
"Sentuh aku!" Ucap Rena dengan suara setengah berbisik.
Mendengar hal itu, sontak membuat Nio kembali tersenyum.
"Apa aku sungguh sudah membuatmu bergairah?" Tanya Nio lagi yang terus tersenyum sembari mulai menciumi pipi hingga rahang Rena.
Rena tidak menjawab, saat itu ia memilih untuk menikmati sentuhan lembut Nio dengan kedua matanya yang mulai ia pejamkan.
"I miss you so much, Rena." Bisik Nio lagi yang terus menciumi Rena.
Rena tetap diam dengan matanya yang masih terpejam. Nio yang tidak mendengar adanya jawaban dari Rena, akhirnya perlahan menyudahi aksinya dan kembali menatap Rena dengan begitu lekat. Begitu pun dengan Rena yang sontak kembali membuka kedua matanya saat sentuhan bibir Nio seolah lenyap dari permukaan kulit lehernya yang mulus.
"Kamu masih tidak menjawabnya, apa kamu merindukan aku?"
"Apa dengan kedatanganku ke kamar ini, disituasi seperti saat ini, kamu masih membutuhkan jawaban?"
Mendengar hal itu Nio pun mendengus pelan.
"Kali ini aku sedang tidak ingin mengambil kesimpulan sendiri, aku ingin mendengarnya langsung darimu."
"Hmm baiklah, apa yang ingin kamu dengar?" Rena pun menghela nafas singkat dan kembali menatap Nio.
"Isi hatimu!" Jawab Nio singkat.
__ADS_1
"Isi hatiku???" Rena pun sontak mengernyitkan dahinya.
"Ya, aku ingin mendengar kamu mengatakan apa yang ada di dalam hatimu, terhadapku."
Rena pun terdiam sejenak, entah kenapa hingga saat itu, meskipun mereka telah melakukan hubungan intim beberapa kali, namun tetap saja membuatnya takut untuk mengungkapkan isi hatinya pada Nio.
"Sebaiknya tidak perlu." Ucap Rena pelan.
"Ayolah, please! Sampai kapan kamu mau menutupinya? Aku hanya ingin tau, apa kamu benar-benar memiliki perasaan yang sama denganku, atau ini hanya sekedar praduga ku saja?" pujuk Nio.
"Ya, ya, ok! Aku juga mencintaimu!" Jawab Rena secara spontan.
Ungkapan itu sontak membuat Nio terdiam.
"Sungguh?" Nio pun semakin menatapnya lekat.
Rena dengan sedikit ragu-ragu, mulai menganggukkan pelan kepalanya.
"Hmm, saat ini kamu sedang tidak mabuk lagi kan?" Tanya Nio yang lebih ingin memastikan sembari menaikkan sebelah alis matanya.
"Karena aku pernah diberi harapan palsu pada seseorang!" Jawab Nio yang tiba-tiba terlihat memasang raut wajah cemberut.
"Seorang wanita yang begitu membuatku senang karena mengatakan 'I love you' tapi mendadak kembali membuatku patah hati saat wanita itu mengatakan jika hal itu diucapkannya hanya karena mabuk!" Tambah Nio yang jelas sedang menyindir Rena.
Entah kenapa, ungkapan itu tiba-tiba saja berhasil membuat Rena terkekeh pelan, karena ia sungguh merasa jika wanita yang dimaksud oleh Nio adalah dirinya.
"Apa kamu sedang menertawakan aku sekarang? Hmm atau sedang menertawakan dirimu sendiri?"
"Dua-duanya." Jawab Rena santai.
Nio pun seketika mendengus dan ikut menampilkan sebuah senyuman tipis.
"Tidak, kali ini aku sedang tidak mabuk, aku mengatakannya dalam keadaan sadar."
"Benarkah? Tolong katakan lagi!" Ucap Nio dengan suara begitu lembut.
__ADS_1
"Aku,, aku juga mencintaimu Antonio. Bagaimana pendapatmu, salahkah hal itu?" Entah kenapa, tatapan Rena mendadak berubah jadi terlihat lirih.
Namun Nio masih terus tersenyum, ia pun kembali membelai lembut rambut Rena.
"Kalau pun salah, mari kita tanggung dosanya bersama." Ucap Nio yang kemudian langsung saja kembali melumatt bibir Rena.
Nio melahap lagi bibir Rena dengan penuh tuntutan, membuat Rena mulai membuka mulutnya demi membiarkan lidah Nio traveling sesukanya di dalamnya. Rena nampaknya tak mau kalah, ia bahkan mulai menarik baju kaos Nio, Nio tentu paham akan hal itu, hingga membuatnya langsung membuka baju kaosnya, membuat lengan berotot bertatto serta perut six pack kembali terpampang nyata. Hal itu semakin membuat Rena bergairah, terlebih lagi aroma maskulin dari tubuh Nio yang terendus oleh Rena, benar-benar membuatnya melihat Nio jadi jauh lebih
Macho.
"Kamu ingin kita melakukannya lagi?" Tanya Nio di sela-sela ciumannya.
"Ya." Jawab Rena singkat sembari terus membalas lumattan dahsyat Nio.
"Apa disini?"
"Dimana saja!" Jawab Rena yang nampak tak sabar.
Nio pun akhirnya kembali tersenyum, lalu mulai membuka kimono yang sejak tadi melekat pada tubuh mulus Rena. Nio mulai menciumi pundak polos Rena dengan penuh hasrat, lalu menjatuhkan tubuh Mungil itu di sofa dan mulai menindihnyaaa. Nio kembali bermain-main pada leher serta dada bagian atas Rena, membuat Rena kembali memejamkan matanya, membuatnya benar-benar lupa pada suaminya yang berada tepat di sebelah kamar itu, yang saat itu sedang tertidur begitu pulas.
Satu persatu pakaian yang menutupi tubuh keduanya pun mulai jatuh berguguran ke lantai, hingga kini tak ada sehelai benangpun yang menempel pada tubuh mereka.
Kedua tangan Nio terus memainkan gundukan daging milik Rena, membuatnya mulai ingin mengerang namun entah kenapa masih berusaha untuk ia tahan.
Nio benar-benar sudah sangat haus, haus akan tubuh Rena yang begitu menyegarkan baginya. Ia pun mulai mengulum dalam-dalam area coklat kemerahan pada gundukan daging Rena, hingga membuat Rena semakin tak terkendali.
Tak puas hanya dengan hal itu, kini lidah Nio perlahan mulai turun menuju perut, lalu pusat, dan hingga akhirnya menuju bagian inti milik Rena. Hal itu cukup membuat Rena sedikit terkejut, dan langsung menahan wajah Nio.
"Ka,, kamu akan melakukannya??" Tanya Rena.
Rena bertanya, karena sebelumnya Nio tidak pernah melakukan hal itu.
"Tentu saja." Jawab Nio yang tersenyum singkat, lalu kemudian langsung mencecapi bagian inti Rena tanpa rasa ragu.
...Bersambung......
__ADS_1