
Pagi hari yang cerah...
Seperti biasa, pagi ini Rena nampak sibuk membantu bi Inah untuk menyiapkan sarapan.
"Apa semua yang di dapur sudah dibawa kesini bi?" Tanya Rena dengan tenang.
"Sudah bu." Jawab bi Inah.
"Ah baiklah, kalau begitu aku akan memanggil mas Rudy dan Nio dulu." Rena pun tersenyum kemudian langsung beranjak menuju lantai dua.
Saat itu Rudy terlihat tengah bersiap di kamarnya, ia berdiri di depan cermin sembari memasang dasi.
"Mas, sarapannya sudah siap." Ucap Rena begitu memasuki kamarnya,
"Hmm ya, sebentar lagi aku turun." Jawab Rudy yang lebih memilih fokus pada dasinya tanpa melirik ke arah Rena sedikit pun.
Rena pun hanya menghela nafas singkat, lalu menghampiri suaminya,
"Sini mas, biar aku bantu." Ucap Rena lembut, sembari tersenyum tipis.
Rena pun berdiri di hadapan Rudy, lalu mulai memasangkan dasi di kerah kemeja suaminya yang pagi itu sudah terlihat begitu formal.
"Bukankah pagi ini mas mau pergi ke luar kota? Tapi kenapa pakaiannya harus seformal ini?" Tanya Rena santai.
"Iya, karena begitu sampai di luar kota nanti, aku akan langsung meeting dengan kolega baru."
"Owwhh." Rena pun hanya mengangguk singkat dan kembali tersenyum tenang.
"Sudah." Ucapnya kemudian.
"Terima kasih," Rudy pun tersenyum singkat dan langsung beralih untuk mengambil kopernya.
"Ayo." Ajaknya yang ingin melangkah keluar dari kamar.
"Apa mas yakin tidak ada yang tertinggal?"
"Bukankah kamu sudah memasukkan semua kebutuhanku di koper ini?"
"Iya sudah mas, tapi coba ingat-ingat saja dulu, siapa tau masih ada lagi yang belum di masukkan ke koper."
"Kurasa tidak ada." Jawab Rudy,
"Hmm ok, kalau begitu ayo kita sarapan." Rena pun menggandeng tangan Rudy.
Namun saat baru saja ingin menapaki anak tangga, Rudy tiba-tiba menoleh ke arah kamar Nio yang kala itu terlihat tertutup rapat.
"Apa Nio sudah turun?" Tanya Rudy kemudian.
"Setauku dia belum ada turun mas."
"Hmm kalau begitu panggil dia sekarang dan ajak sarapan, karena setelah sarapan aku akan langsung berangkat."
__ADS_1
"Baiklah, aku panggil Nio dulu."
"Aku tunggu di meja makan ya," Rudy pun langsung melanjutkan langkahnya untuk menuruni anak tangga.
"Iya mas." Jawab Rena yang langsung memutar haluan untuk menuju kamar Nio.
Setibanya di depan pintu kamar Nio, entah kenapa Rena kembali merasa deg-degan dan gugup. Ia pun kembali menghela nafas panjang sebelum akhirnya mulai mengetuk pintu kamar lelaki kesayangannya itu dengan sedikit ragu.
*Tok,,tok,,tok*
Tak perlu menunggu waktu lama, Nio pun langsung membuka pintu itu dalam penampakannya yang saat itu terlihat baru saja selesai mandi.
"Ya?" Jawab Nio saat membuka pintu kamarnya sembari sebelah tangannya terus mengusap-usap rambutnya yang basah dengan sebuah handuk.
Melihat yang ada di hadapannya saat itu ternyata adalah Rena, sang pujaan hati, sontak membuat raut wajah Nio yang awalnya datar, seketika berubah jadi berbinar.
"Oh, kamu rupanya." Celetuk Nio yang langsung tersenyum manis sembari mulai menyandarkan kepalanya di pintu.
"Kamu baru selesai mandi?" Tanya Rena dengan senyuman tipis dan terlihat cukup kikuk.
"Iya, seperti yang kamu lihat sekarang, aku bahkan masih mengenakan handuk." Jawab Nio yang terus tersenyum layaknya orang yang benar-benar sedang kasmaran,
"Hmm ok, kalau begitu cepatlah pakai bajumu dan turun ke bawah, papamu sudah menunggu untuk sarapan bersama." Ucap Rena tersenyum singkat yang kemudian langsung ingin beranjak pergi begitu saja karena gerogi.
Namun dengan cepat Nio menahan tangannya.
"Eehhhh," Ucap Nio lembut,
"Kenapa kamu begitu terburu-buru ingin pergi ha?" Tanya Nio dengan nada yang terdengar begitu manja dan sangat lembut.
"Niooo, jangan begini!" Tegas Rena yang mulai mendelikkan matanya sembari ingin berusaha melepaskan cengkraman tangan Nio pada pergelangan tangannya.
"Di bawah ada papamu!!" Tambahnya lagi dengan suara setengah berbisik.
"Ya sudah, lagi pula dia kan di bawah, bukan disini." Jawab Nio dengan tenang, sembari terus tersenyum tanpa merasa takut sedikit pun.
"Nio ku mohon jangan begini!!" Rengek Rena lagi.
"Ayo cepat pakai bajumu dan turun untuk sarapan, jangan buat papamu menunggu terlalu lama." Tambahnya.
"Hmm ok, ok fine! Aku akan segera memakai pakaianku asal kamu mau menciumku sekarang." Goda Nio.
"Tidak mau! Kamu sudah gila ya!"
"Ayo cepat lah, kalau kamu tidak menciumku, maka kita akan tetap terus berdiri disini sampai siang." Jawab Nio santai tanpa beban.
Rena pun menghela nafas, lalu mulai menoleh ke arah tangga untuk memastikan jika tidak ada orang yang akan naik ke lantai dua. Lalu ia pun kembali menatap Nio yang kala itu masih terus memandanginya dengan tatapan penuh cinta.
"Bagaimana? Kamu mau menciumku?" Tanya Nio yang kembali mengembangkan senyumannya,
Tanpa berkata apapun lagi, Rena pun langsung saja mencium bibir Nio secara singkat.
__ADS_1
*Cuupp*
Tapi sayang, Nio sepertinya tidak suka jika ciuman itu berdurasi terlalu singkat seperti yang Rena lakukan. Ia pun kembali menarik Rena begitu saja, lalu langsung menyambar bibirnya yang pagi itu sudah nampak mengkilat bahkan memiliki cita rasa buah Strawberry. Nio melumattnya dengan lembut beberapa saat, lalu akhirnya melepasnya perlahan.
Nio kembali tersenyum lembut, sembari mengusap bibirnya sendiri yang jadi sedikit basah.
"Apa kali ini kamu menggantinya menjadi Strawberry?" Celetuk Nio pelan.
Rena pun seketika tersenyum, karena ia sungguh mengerti apa maksud dari celetukan Nio saat itu. Yang ia maksud adalah, sebelumnya Rena memakai lip balm Cherry, namun sekarang Rena memakai lip balm strawberry dan itu jelas terasa di indera perasa Nio ketika melumaatt bibirnya.
"Baiklah, cepat pakai bajumu, aku tunggu di bawah!!" Ucap Rena yang kala itu wajahnya terlihat sedikit memerah, lalu ia pun langsung beranjak pergi begitu saja.
Nio pun lagi-lagi hanya melebarkan senyumannya, saat memandangi kepergian Rena yang nampak begitu salah tingkah.
"I love you." Ucap Nio yang seolah tak pernah ingin berhenti menggoda Rena.
Namun Rena yang mendengar hal itu hanya menoleh singkat ke arahnya dengan senyuman yang begitu malu-malu ia tampilkan, lalu terus saja melangkah untuk kembali turun ke lantai satu.
Rena mulai berusaha untuk menata sikapnya agar kembali terlihat biasa saja di hadapan Rudy. Ia pun langsung duduk di samping Rudy dengan tenang sembari mengutas senyuman singkat pada Rudy.
"Mana Nio?" Tanya Rudy.
"Oh, saat aku panggil, dia baru saja selesai mandi mas, jadi dia pakai baju dulu baru setelahnya akan turun kesini." Jelas Rena dengan tenang,
"Hmm," Rudy pun hanya mengangguk singkat.
"Mas, mau aku tuangkan teh, kopi, atau susu?" Tawar Rena.
"Pagi ini aku sedang tidak ingin minum kopi, jadi susu saja."
"Ok mas." Rena pun kembali bangkit dari duduknya dan mulai menuangkan susu ke gelas dan memberikannya pada Rudy.
Tak lama Nio pun mulai terlihat menuruni anak tangga dengan langkahnya yang tenang, lalu duduk bergabung bersama mereka dengan memasang raut wajah yang pagi itu nampak begitu berseri, sangat berbeda dari Nio yang sebelumnya, yang selalu menekuk wajahnya apalagi di hadapan papanya,
"Pagi." Sapanya singkat sembari mulai menduduki kursinya,
Rudy pun mulai melirik ke arah putra sulungnya itu,
"Pagi." Jawab Rudy singkat.
"Ada apa denganmu Nio? Kamu nampak berbeda pagi ini!" Tanya Rudy.
"Berbeda apanya?" Tanya Nio dengan tenang sembari mulai membalikkan piringnya.
"Wajahmu nampak sangat berseri pagi ini, tidak seperti biasanya yang selalu terlihat datar!"
"Ah tidak ada, mungkin hanya perasaan papa saja!" Jawab Nio sembari tersenyum tipis sembari mulai meletakkan beberapa lembar roti tawar ke piringnya.
"Apa kamu sedang kasmaran? Apa kamu sudah punya pacar sekarang? Hmm, siapa gadis itu? Apa kamu tidak berniat ingin mengenalkannya pada kami?" Tanya Rudy yang nampak semangat saat menduga jika anaknya memiliki pacar.
Karena selama ini, ia tak pernah melihat wajah Nio yang berseri seperti itu, ia juga tidak pernah mendengar Nio memiliki pacar apalagi melihatnya membawa wanita ke rumah itu.
__ADS_1
...Bersambung......