Kecanduan Ibu Tiri

Kecanduan Ibu Tiri
Menepati janji part lll


__ADS_3

"Jadi, adikmu akan datang kesini?" Tanya Nio dengan tenang, tanpa tau jika adik Zayden adalah seorang wanita yang pernah menjadi ibu tiri sekaligus kekasihnya.


"Ya, dia sudah berada di bandara sekarang, hmm jika di pikir-pikir, kenapa kalian terlihat sangat kompak, kalian berdua datang tanpa mengabariku terlebih dulu."


"Hmm ya, sepertinya kami bisa menjadi teman yang solid jika sudah bertemu nanti." Jawab Nio sembari tersenyum,


"Hehehe ya, kuharap begitu, dia selisih tiga tahun denganku, itu berarti dia dua tahun lebih muda darimu, mengingat kau dan aku juga selisih satu tahun."


"Kalau begitu, akan ku anggap dia adikku juga, kebetulan aku tidak pernah merasa bagaimana rasanya punya adik."


"Hehehe begitu lebih baik, tapi asal jangan jatuh hati saja pada adikku, karena adikku ini sangat cantik sekali."


"Hehehe ya ya ya, seorang kakak sudah pasti akan selalu membanggakan adiknya. Tapi tenanglah, akan ku anggap dia adikku juga." Jawab Nio kemudian.


"Nio, apa kau tidak keberatan kalau harus tidur sekamar denganku? Karena sepertinya dia juga akan ikut menginap disini, tapi hanya ada dua kamar disini."


"Oh tidak masalah, aku bisa tidur disofa. Aku tidak mau mengganggu privasimu,"


"Hah??! Disofa? Apa kau yakin bisa tidur dengan nyenyak disofa ini?"


"Sofa ini cukup lebar dan juga empuk, aku hanya butuh selimut agar bisa membuat tidurku lebih nyenyak."


"Kau serius??"


"Tentu saja!"


"Haaiss tapi aku jadi tidak enak hati memperlakukan tamu seperti ini."


"Hei, jangan anggap aku tamu, bukankah kau bilang sudah menganggapki seperti saudara? Jadi jangan merasa tidak enak hati, aku sama sekali tidak merasa keberatan."


"Baiklah kalau begitu, nanti aku akan memberimu selimut."


"Ya, aku hanya butuh itu." Nio pun kembali tersenyum.


Setengah jam berlalu, dan nampaknya Nio mulai merasa sedikit lapar dan berfikir untuk membeli makanan sekaligus melihat-lihat di sekitar kota yang baru di kunjunginya itu.


"Apa di dekat sini ada minimart?" Tanya Nio pada Zayden.


"Oh kebetulan, di lantai dasar gedung apartement ini, ada minimart yang buka 24 jam."


"Oh benarkah? Hmm baiklah, aku mau kesana sekarang."


"Memangnya mau beli apa?"


"Mungkin makanan ringan, karena sejujurnya aku merasa sedikit lapar." Ungkap Nio yang akhirnya mulai bangkit dari duduknya.


"Oh astaga, sorry bro, ya aku lupa menyiapkan makanan, itu karena kau datang mendadak, membuatku tidak menyiapkan apapun disini. Sorry."

__ADS_1


"Hahaha tenanglah, sama sekali tidak masalah. Apa kau juga ingin menitip sesuatu?"


"Sebenarnya Meichan sudah membawakan makanan dan kami sudah makan tadi, tapi kalau cemilan, mungkin boleh juga hehehe."


"Ah ok, aku keluar dulu."


"Oh ya bro, sandi pintu apartementku adalah 040404, jadi selanjutnya kamu tidak perlu mengetuk pintu." Ucap Zayden yang memang sudah begitu mempercayai Nio.


"Ok." Nio pun kembali tersenyum singkat dan langsung berlalu pergi begitu saja.


Udara di luar benar-benar dingin, membuat Nio harus selalu menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya di sepanjang langkahnya menuju minimart. Nio membeli banyak cemilan juga menuman, tak ketinggalan pula beberapa cup mie instan siap saji, juga ia beli, cuaca dingin seperti saat itu tentu akan terasa begitu nikmat bila memakan mie instan yang di seduh dengan air panas.


35 menit pun berlalu, namun Nio belum juga kembali karena masih ingin menikmati suasana yang begitu baru baginya itu. Sementara Zayden yang kala itu tengah sedikit berberes, tiba-tiba saja kembali dikejutkan dengan suara bel yang kembali menggema di dalam ruangan itu.


"Hais bro, bukankah aku sudah memberitahukan kata sandinya??" Celetuk Zayden seorang diri yang mengira jika yang ada di depan pintunya saat itu adalah Nio.


Zayden pun bergegas menuju pintu, dan mulai mengintip di sebuah lobang kecil yang ada di pintunya, dan seketika kedua matanya nampak begitu membulat dan berkilat saat mendapati sosok Rena yang sudah berdiri dengan keadaan nampak kedinginan di depan pintunya.


"Oh may god, Nana." Ucap Zayden yang seketika langsung membuka pintunya.


"Nanaaaaaa." Seru Zayden yang seketika langsung memeluk adiknya dengan raut wajah yang nampak begitu berbinar.


Rena pun ikut tersenyum dan segera membalas pelukan kakak lelakinya itu.


"Terima kasih Na, kau sungguh datang kesini, terima kasih adikku."


Mendengar hal itu membuat Zayden semakin mengeratkan pelukannya serta mengembangkan senyumannya.


"Hari ini aku benar-benar sangat senang sekali, sekali lagi terima kasih sudah bersedia meluangkan waktumu untuk datang."


"Sudahlah, tidak perlu banyak berterima kasih,"


"Hehehe iya iya."


"Boleh aku masuk sekarang? Aku kedinginan." Ucap Rena begitu mereka melepaskan tautan tubuh mereka.


"Ah sure, ayo masuklah, disini memang lagi musim dingin." Zayden pun mempersilahkan Rena untuk masuk dan mengambil alih koper yang dibawa adiknya itu.


"Hais, memilih menikah di musim dingin, apa ada kaitannya dengan agar bulan madumu lebih terasa menyenangkan?"


"Hahaha sepertinya kau masih cukup mengenalku,"


"Bukankah begitu yang ada di pikiran banyak laki-laki??" Rena pun mendengus pelan sembari tersenyum tipis.


"Ayo duduklah,"


"Rena pun terduduk di sebuah sofa, tempat dimana sebelumnya Nio terduduk.

__ADS_1


"Mau aku buatkan teh panas?" Tanya Zayden menawarkan.


"Boleh." Rena pun mengangguk singkat sembari tersenyum.


"Ah baiklah, tunggu ya." Dengan semangat Zayden langsung mengarah menuju dapur, yang tidak jauh dari tempat dimana Rena terduduk.


"Bukankah tadi kamu mengatakan jika temanmu sudah datang?" Tanya Rena.


"Oh iya, dia sudah datang dan sekarang dia sedang ke minimart." Jawab Zayden dengan tenang.


"Ouhh." Rena pun mengangguk singkat.


"Temanku yang satu ini sangat tampan, seperti visual yang ada di dalam novel, tapi saat ini hatinya sedang membeku seperti es, hingga sulit menyukai wanita meski secantik apapun, jadi hati-hati bila ingin jatuh hati padanya, aku takut kau nantinya akan kecewa bila jatuh hati padanya."


Mendengar hal itu, Rena pun kembali mendengus pelan.


"Jangan cemas soal itu, karena kurasa saat ini hatikupun sudah mati rasa."


"Kenapa begitu? Apa seseorang ada yang telah menyakitimu?"


"Tidak perlu membahasnya sekarang, ini tentu akan merusak mood baikku hari ini."


"Ok, tidak masalah." Zayden pun kembali tersenyum sembari terus mengaduk-aduk teh yang tengah ia buat.


Beberapa menit kemudian, Zayden pun menghampiri Rena dengan sudah membawa secangkir teh panas untuknya.


"Ini teh panas untukmu, minumlah."


"Ah terima kasih." Rena pun mengambil alih cangkir teh itu dan mulai menyeduhnya secara perlahan.


"Bagaimana perjalananmu menuju kesini?" Tanya Zayden berbasa basi.


"Hmm lumayan, lumayan membosankan duduk berjam-jam lamanya di pesawat." Jawab Rena yang nampak kembali tersenyum tipis di sela-sela ia kembali menyeduh tehnya.


"Hahaha ya, memang sudah pasti sangat membosankan, maaf untuk itu."


"It's ok, ini pengalaman baru bagiku." Jawab Rena dengan tenang.


Beberapa menit mengobrol santai, tiba-tiba saja terdengar suara pintu yang dibuka, hal itu sontak membuat Zayden maupun Rena seketika menoleh ke arah pintu, meskipun dari tempatnya duduk, Rena tidak bisa melihat pintu itu karena terhalang sebuah tembok.


"Oh bro, akhirnya kau kembali." Celetuk Zayden yang kembali melebarkan senyumannya.


"Siapa? Apa itu temanmu?" Tanya Rena pelan.


"Iya." Jawab Zayden.


"Ayo cepat masuklah bro, adikku sudah tiba, aku ingin mengenalkan kalian."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2