Kecanduan Ibu Tiri

Kecanduan Ibu Tiri
Kegep


__ADS_3

"Menikah??!!" Tanya Rena lagi dengan kedua mata yang nampak membesar.


"Hmm." Jawab Nio sembari menganggukkan kepalanya.


"Kenapa? Kamu masih tidak mau menikah denganku disaat situasinya sudah memungkinkan?" Tanya Nio lagi.


"Bu,,, bukan begitu, ta,, tapi,,,,"


"Tapi kenapa lagi?"


"Entahlah, hanya saja aku merasa tidak pantas untukmu,"


"Dari segi mana yang membuatmu berfikir seperti itu?"


"Aku ini janda Nio, bahkan sudah menjadi janda sebanyak dua kali, aku juga pernah menjadi ibu tirimu dan teman-temanmu pernah memanggilku dengan sebutan tante."


"Persetan dengan sebutan ibu ataupun tante, kamu bahkan ternyata lebih muda dua tahun dariku Rena,"


"Kamu tau dari mana usiaku?"


"Kamu adik Zayden, tentu saja aku jadi tau."


Rena pun seketika terdiam sejenak.


"Aku tidak mau kehilanganmu lagi, bukankah kamu sempat ragu dengan perasaanku?? Maka biarkan aku membuktikan cintaku, yaitu dengan cara menikahimu," Ungkap Nio dengan lembut sembari kembali membelai lembut pipi Rena.


"Tapi,,, apa yang nanti akan dikatakan teman-temanmu jika kita menikah?"


"Aku tidak peduli dengan penilaian mereka, aku hidup bukan untuk membuat orang-orang terkesan, dan mereka bahkan sama sekali tidak membiayai hidup kita, lalu apa yang kamu cemaskan?"


Rena lagi-lagi terdiam dan mulai berfikir jika apa yang dikatakan oleh Nio tentu ada benarnya.


"Lagi pula, Aldy dan Rio bahkan sudah tau kita pernah menjalin hubungan!" Tambah Nio lagi.


Namun hal itu seketika membuat Rena kembali membulatkan matanya,


"What??!!!" Rena pun nampak begitu terkejut.


"Iya, aku memberitahu mereka akhirnya, tepat setelah kamu memutuskan untuk mengakhiri hubungan kita."


"Astaga?!! Kenapa kamu memberitahukan hal itu? Bukankah itu hal yang sungguh memalukan." Rena pun seketika memukul lengan Nio.


"Kamu malu berhubungan denganku??"


"Bukan itu, tapi tentu saja aku malu jika mereka tau jika aku berselingkuh dengan anak tiriku sendiri!"


"Sudahlah Rena, itu hanya bagian dari masa lalu, kita juga sudah mendapat karmanya dari kejadian papa dan Sonia, dan hal itu cukup menjadi pelajaran berharga, tolong jangan disesali."


Nio lagi-lagi akhirnya berhasil meyakinkan Rena, dan membuatnya merasa sedikit tenang dengan pembawaan Nio yang juga terkesan sangat tenang saat menanggapi segala keluh kesah Rena. Membuat Rena akhirnya perlahan mulai tersenyum sembari terus memandangi wajah Nio yang kala itu benar-benar terlihat semakin tampan baginya.


Nio yang menyadari hal itu pun seketika jadi mendengus pelan sembari ikut tersenyum.


"Ada apa memandangiku seperti itu?"

__ADS_1


"Lama tidak bertemu, dan aku merasa kamu terlihat semakin tampan sekarang." Ungkap Rena sembari mulai menyentuh lembut bagian wajah Nio.


"Pasti diluar sana, ada banyak sekali wanita yang merasa tertarik padamu, iya kan?" Tambah Rena lagi yang terus membelai bagian wajah serta rambut Nio.


Nio lagi-lagi dibuat tersenyum dengan tingkah laku Rena yang seakan mulai kembali menggodanya.


"Kamu sedang memuji atau menggombaliku?"


"Menurutmu yang mana?" Tanya Rena yang terus tidak berhenti tersenyum.


"Jangan tanya menurutku, karena pasti aku memiliki pemikiran berbeda."


"Oh ya? Memangnya apa yang kamu pikirkan?"


"Aku berpikir, jika prilakumu ini, itu sedang menggodaku." Jawab Nio yang semakin melebarkan senyumannya,


"Kenapa, apa kamu menginginkannya lagi?" Tanya Nio setengah berbisik sembari mulai menciumi lembut area rahang Rena.


Rena pun hanya tersenyum lebar.


"Kenapa tidak langsung mengatakannya saja jika kamu menginginkannya lagi, aku bisa melakukannya berulang kali meski dalam satu waktu, asal itu denganmu." Bisik Nio yang kemudian mulai menciumi daun telinga Rena hingga membuat Rena mulai kembali bergejolak.


"Awalnya aku tidak berpikir kesana, tapi sekarang kamu yang membuatku jadi menginginkannya lagi." Jawab Rena.


"Benarkah? Hmm, maka sebaiknya kita harus mewujudkan keinginanmu itu." Ucap Nio yang seketika kembali menyambar bibir Rena.


Mereka pun kembali bercumbu dibalik selimut, namun sayang aktivitas itu hanya terjadi beberapa menit saja sebelum akhirnya pintu kamar yang ternyata tidak sempat dikunci, secara tiba-tiba dibuka begitu saja oleh Zayden yang begitu pulang ke apartement mencari keberadaan Rena.


"Nana,,," Panggil Zayden begitu membuka pintunya.


"What the fck!!!" Seru Zayden yang seketika nampak emosi sembari langsung melangkah masuk ke kamar itu.


"Za,,, Zay,, ka,, kamu sudah kembali?" Tanya Rena yang nampak begitu syok sembari langsung menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Apa-apaan ini??!!!" Tanya Zayden dengan kedua mata yang begitu melotot saat menatap Rena dan Nio secara bergantian.


"Zayden, aku bisa jelas." Ucap Nio.


"Aaaaghh apa yang kau lakukan dengan adikku!!" Ketus Zayden yang seketika langsung meninju pipi Nio.


Hal itu pun sontak membuat Rena berteriak histeris.


"Aaaww, Zayden stop, stop!!" Pekik Rena yang berusaha melindungi Nio.


"Aku benar-benar tidak habis pikir, kau tega meniduri adikku, mencari kesempatan saat dia mabuk!!!" Ketus Zayden lagi.


"Zayden stop, please stop!!" Bentak Rena yang berbalik menatap tajam ke arah Zayden.


"Aaaghh!! Cepat pakai pakaian kalian sekarang!! Kita belum selesai, aku tunggu diluar!!" Ketus Zayden yang seketika langsung keluar dari kamar itu sembari membanting pintunya.


Pipi Nio pun nampak memar, dan ujung bibirnya juga nampak pecah dan mengeluarkan sedikit darah.


"Astaga kamu berdarah,,," Ucap Rena yang nampak panik saat memegangi pipi Nio.

__ADS_1


"It's ok, aku tidak apa-apa, it's ok."


"Maafkan aku, maafkan kakakku, dia hanya salah paham." Ucap Rena sembari mulai menangis karena begitu syok saat melihat Nio yang dipukul dengan begitu keras di hadapannya.


"Ya, ya, aku tau, aku akan meluruskan dan menyelesaikan masalah ini." Ucap Nio yang akhirnya bergegas bangkit dari atas ranjang sembari mengusap darah yang ada di ujung bibirnya.


Setelah kembali berpakaian, mereka pun akhirnya dengan sedikit ragu mulai nampak keluar dari kamar dengan memasang wajah kikuk.


"Duduk kalian!!" Tegas Zayden yang sudah nampak berdiri menunggu mereka.


Nio dan Rena pun akhirnya duduk berdampingan di sofa.


"Aku beri kau waktu untuk menjelaskan secara rinci bagaimana hal ini bisa terjadi, sebelum kau ku tendang dari sini karena sudah berani mengambil kesempatan dari adikku yang sedang mabuk!" Ucap Zayden sembari menatap Nio dengan raut wajah tak senang.


"Ok, biarkan aku meluruskan hal ini, tolong dengarkan aku!" Ucap Nio sembari menarik nafas singkat.


Nio tanpa ragu, akhirnya mulai menceritakan semuanya, memberitahukan pada Zayden jika wanita yang membuatnya begitu patah hati, yang selama ini selalu diceritakannya pada Zayden, itu adalah Rena.


"What???!!! Ja,,, jadi Nana lah orangnya???!!!" Tanya Zayden yang nampak kembali terkejut.


Nio pun mengangguk pelan, sementara Rena kala itu hanya bisa terus terdiam sembari menundukkan kepalanya.


"Ja,, jadi dialah ibu tiri muda mu yang kau pacari itu?? Su,, sungguh dia orangnya???" Tanya Zayden lagi yang masih seolah sangat tidak menyangka dengan fakta yang baru saja ia ketahui itu.


Lagi-lagi, Nio hanya bisa mengangguk pelan, melihat jawaban itu seketika membuat Zayden mengusap wajahnya.


"Nana, kenapa kau tidak pernah memberitahuku jika kau sudah pernah menikah sebelumnya?? Kenapa?? Aku bahkan mengira hingga saat ini kau masih gadis!" Ketus Zayden yang kali ini menatap tajam ke arah Rena,


"Maafkan aku Zay, aku merasa belum siap untuk menceritakan masa lalu yang masih menyimpan banyak luka, aku tidak ingin mengingat masa lalu itu terus menerus." Jawab Rena dengan lirih.


"Aaagh astaga, sepertinya aku benar-benar akan gila sekarang!" Celetuk Zayden.


"Maaf karena tidak jujur di awal, aku hanya belum siap untuk mengatakannya waktu itu, dan juga aku hanya berusaha untuk menyelamatkan Rena dari berbagai macam pertanyaan darimu jika kamu mengetahui kami saling mengenal saat itu." Ucap Nio lagi.


Zayden pun kembali melirik ke arahnya.


"Kau sungguh mencintai adikku?? Hmm maksudku, sungguh masih mencintainya?"


"Sangat! Aku masih sangat mencintainya!" Jawab Nio dengan tegas yang kemudian menoleh ke arah Rena sembari mulai memegang tangannya demi menenangkan Rena.


Zayden yang melihat hal itu pun sontak kembali mendengus.


"Tapi apa kau sadar apa yang telah kau lakukan pada adikku?!! Kau menidurinya!!" Ketus Zayden lagi.


"Zay, kami melakukannya atas dasar sama-sama menginginkannya! Aku juga bersalah dalam hal ini, jadi jangan menumpahkan seluruh kesalahan padanya!!" Sahut Rena yang masih mencoba untuk melindungi Nio dari amukan kakaknya.


Namun Nio, kembali menggenggam erat tangan Rena dan menatapnya.


"Hei, tenanglah, jangan meninggikan suaramu pada kakakmu." Ucap Nio pelan.


"Mau sama mau, suka sama suka, hmm ok! Lalu apa selanjutnya?? Apa kalian akan terus seperti ini?" Tanya Zayden lagi.


"Aku akan menikahinya! Secepatnya!!" Jawab Nio yang dengan tegas menatap Zayden.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2