
"Reaksimu seketika berubah saat aku mengatakan hal itu, apa kamu tidak menginginkan hal itu?" Tanya Nio pelan.
"Bu,, bukan begitu! Tapi kamu pun tentu tau, bahwa kenyataannya tidak sesimple itu Nio!"
"Apapun itu rintangannya, aku akan hadapi asal kamu bisa jadi istriku kelak!"
"Menjadi istrimu??" Rena mendengus pelan.
"Iya!" Tegas Nio tanpa ragu.
"Lalu meninggalkan papamu begitu saja? Begitu maksudmu?"
"Tapi kamu tidak mencintai papaku!"
"Iya, aku jelas hanya mencintaimu saat ini, tapi aku juga tidak sekejam itu! Papamu sudah sangat baik padaku, dengan kelakuan kita seperti ini di belakangnya, aku sudah sangat merasa kejam padanya, apalagi kalau harus meninggalkannya begitu saja! Itu akan sangat tidak adil bagi papamu Nio!"
"Jadi,,, apa ucapanmu barusan, mengartikan bahwa kamu akan selamanya menjadi istri papaku?" Kini mendadak raut wajah Nio terlihat lirih.
Rena terdiam sejenak dengan tatapan yang semakin lekat menatap Nio.
"Nio, sebelumnya kamu sudah berjanji untuk mengerti situasinya agar kita tetap bisa bersama seperti sekarang ini, tapi apa sekarang kamu mulai berubah pikiran?" Tanya Rena yang akhirnya mulai menegakkan kepalanya.
Tak ada yang bisa Nio ucapkan lagi saat melihat reaksi Rena yang mulai nampak tidak senang dengan perdebatan mereka saat itu. Ia pun akhirnya hanya bisa menghela nafas panjang sembari mengusap kasar wajahnya.
"Hmm ok, ok fine! Tidak perlu di bahas lagi, aku tidak mau merusak suasana hanya karena hal itu!" Jawab Nio akhirnya.
Hal itu membuat Rena kembali diam tanpa mengeluarkan reaksi apapun. Membuat Nio kembali menatapnya lekat, dan kembali menjulurkan tangannya.
"Sudah, tidak usah dipikirkan lagi, ayo kemarilah!"
Namun Rena masih diam seolah mematung dengan tatapannya yang berbeda.
__ADS_1
"Sudahlah, ayo sini, kembali ke sisiku!" Ucap Nio lembut yang akhirnya menarik tangan Rena dan membuat wanita itu kembali menyandarkan kepalanya di dada bidangnya.
"Kamu bisa pergi kapan saja, jika menurutmu hubungan ini hanya buang-buang waktumu." Ucap Rena lirih.
"Sssttt!! Berhenti membicarakan hal itu, aku sungguh ingin kita baik-baik saja saat ini!" Jawab Nio sembari kembali mengusap-usap lembut rambut Rena.
Namun saat itu Rena seolah tidak ingin mematuhi ucapannya, dan terus saja ingin membahas hal yang jadi cukup mengganggu pikirannya.
"Kamu sangat tampan, lembut, juga penyayang, bahkan urusan materi kamu juga selalu berkecukupan, dan di luar sana sudah pasti ada banyak wanita cantik yang masih muda yang ingin menjadi pasanganmu. Aku akan sangat mengerti jika kamu ingin mengakhiri semua ini dan memilih menjalani hubungan yang lebih sederhana, tidak serumit saat menjalaninya bersamaku." Ungkap Rena panjang lebar.
Namun Nio justru kembali mendengus dan terkekeh pelan, hal itu cukup membuat Rena bingung hingga sontak langsung kembali menatapnya dengan mengernyitkan dahi.
"Kurasa tidak ada yang lucu dengan perkataanku barusan, lalu kenapa kamu tertawa?" Tanya Rena datar.
"Kamu berkata seolah aku ini sedang menjalin hubungan dengan tante-tante. Bukankah kamu juga masih sangat muda?" Tanya Nio yang terus tersenyum.
"Ya, aku memang masih muda, tapi kamu harus menerima kenyataan kalau aku ini sudah jadi ibu sekarang."
"Tentu saja!" Jawab Rena sembari mengangguk singkat.
"Hmmm,, tapi maaf, aku tidak menganggapmu sebagai ibuku." Jawab Nio yang mulai kembali memeluk posesif tubuh Rena sembari kembali menatapnya dengan tatapan yang penuh makna.
"Aku lebih suka menganggapmu sebagai kekasihku," tambah Nio dengan cara berbisik tepat di telinga Rena.
Rena pun terdiam, kali ini ia mulai nampak ingin tersenyum meskipun saat itu sangat terlihat jelas jika ia sedang berusaha untuk menahan senyumannya itu.
"Bagaimana? Kamu tidak keberatankan?" Tanya Nio lagi yang kembali tersenyum manis.
"Ta,, tapi Nio, aku juga tidak mau terus-terusan merasa bersalah padamu dan juga papamu. Aku...."
"Rena, please stop! Sudah kukatakan jangan membahasnya lagi!" Keluh Nio.
__ADS_1
"Iya tapi aku...."
"Berhenti mengatakan hal itu Rena! Atau aku akan menutup mulutmu secara paksa."
Rena pun terdiam sejenak dengan raut wajah yang mendadak terlihat datar.
"Apa kamu tega melakukannya?" Tanya Rena pelan.
"Tentu saja! Apa kamu mau bukti?? Hmm, maka teruslah berbicara dan aku akan memaksamu untuk diam dengan caraku!"
"Hoo jadi begitu kah? Apa sekarang kamu mulai....."
*Cuuppp*
Tanpa berkata apapun lagi, Nio langsung membuktikan ucapannya dengan cara menyambar bibir Rena begitu saja hingga ia pun sontak terdiam dan tidak bisa melanjutkan kata-katanya lagi.
Setelah beberapa saat meluumaattnya dengan gerakan lembut, Nio pun kembali melepaskan tautan bibir mereka dengan tatapannya yang begitu lembut menatap Rena yang kala itu nampaknya masih begitu tercengang,
"Sudah kukatakan sebelum, berhenti berbicara atau aku akan menutup mulutmu secara paksa! Maka inilah yang terjadi jika kamu tidak patuh dengan ucapanku." Ucap Nio dengan begitu lembut sembari mengusap bibir Rena yang sedikit basah dengan ibu jarinya,
Rena, akhirnya tak bisa menahan senyumannya lagi, senyuman yang begitu hangat tiba-tiba saja muncul begitu saja menghiasi wajah cantiknya saat diperlakukan dengan sangat lembut oleh Nio. Sikap lembut Nio, sungguh berhasil membuat kobaran api asmara yang kala itu dirasakan oleh Rena seolah semakin menyala dan semakin membuatnya terperangkap dalam lingkaran api cinta yang seolah mengurungnya, membuatnya tidak bisa pergi, tidak bisa berpaling lagi, bahkan mungkin tidak akan pernah bisa lagi untuk berhenti melakukan hal yang jelas adalah sebuah kesalahan, namun membuatnya sangat bahagia.
Beberapa detik saling menatap dengan tatapan yang begitu hangat sembari saling melempar senyuman, tanpa berkata apapun lagi, tanpa rasa ragu, Rena pun perlahan mulai mendekatkan wajahnya ke arah wajah Nio, lalu melahap bibirnya begitu saja.
Tentu saja Nio tidak keberatan akan hal itu, ia justru langsung membalas ciuman itu dengan tak kalah mesra. Di tambah cuaca yang saat itu sangat dingin akibat hujan deras, membuat keduanya semakin nyaman melakukannya.
Ciuman yang berawal lembut, perlahan berubah jadi penuh tuntutan satu sama lain seolah tidak ada yang mau kalah dalam hal itu. Nio yang awalnya berada di sisi Rena, perlahan mulai mengubah posisinya menjadi di atas tubuh Rena. Rena tentu tidak keberatan dengan hal itu, ia justru sangat menikmatinya, menikmati ketika Nio bisa mengimbanginya dalam hal ranjang.
Tangan Nio perlahan mulai bergerak ke arah pusar Rena, lalu mulai menerobos masuk dari bawah baju kaos yang kala itu di pakai Rena untuk menuju gundukan daging kembar Rena yang masih terbalut bra.
Dengan lembut, Nio mulai memainkan dengan sebelah tangannya, membuat nafas Rena mulai terengah, kala menikmati perlakuan nakal sang anak tiri.
__ADS_1
Bersambung...