
Nio berjalan lebih dulu dengan Rena yang ada di belakangnya. Sepanjang jalan menuju Villa, Rena kembali mengecek barang bawaannya dan baru menyadari jika dompet kecilnya tidak ada di tangannya lagi.
"Owh Nio, tunggu!" Ucapnya seketika.
Nio pun sontak menghentikan langkahnya dan langsung menoleh ke arah Rena dengan raut wajah datar.
"Sepertinya aku meninggalkan dompetku di mobilmu, bisakah...."
Namun sebelum Rena menyelesaikan ucapannya, Nio bahkan sudah lebih dulu melemparkan kunci mobilnya ke arah Rena dan secara refleks Rena langsung menangkapnya dengan wajah sedikit terkejut.
"Kamu bisa mengambilnya sendiri." Ucap Nio pelan yang kemudian langsung melanjutkan langkahnya begitu saja.
"Jangan lupa kunci kembali mobilnya sebelum kamu pergi!" Tambah Nio yang terus melangkah tanpa menoleh sedikit pun lagi ke arah Rena.
Meninggalkan Rena yang masih terpaku dengan memandangi punggung Nio.
"Aku mengerti mengapa sikapnya kembali begitu, lagi-lagi aku menyakiti perasaannya lewat ucapanku sebelumnya." Gumam Rena lirih dalam hati.
"Meskipun aku juga merasakan kesakitan yang sama saat jauh darimu, tapi aku akan tetap pada pendirianku, aku tidak mau karena keegoisan kita yang memaksakan untuk tetap bersama, akan menyakiti hati dua orang yang tidak bersalah." Tambahnya lagi yang kemudian menghela nafas berat, dan kemudian mulai melangkah dengan lesu untuk kembali ke mobil Nio.
Nio masuk ke dalam Villa dengan langkah lesu, lalu langsung duduk bersandar di sofa, tempat dimana seharusnya Rudy menunggu mereka. Saat itu Villa terasa begitu hening dan sepi, tidak ada seorang pun yang terlihat kala itu. Mendadak Nio pun merasa haus dan berniat ingin menuju ke arah kulkas yang ada di dapur, namun langkahnya seketika terhenti sejenak kala tak sengaja melirik ke arah kamar Sonia yang berada di lantai dasar, kebetulan pintu kamar itu terbuka setengah hingga membuat Nio mulai melangkah mendekati kamar itu.
Namun dahi Nio mendadak dibuat mengkerut kala menyadari jika di dalam kamar itu sama sekali tidak ada keberadaan Sonia,
"Sonia tidak ada di kamarnya?? Apa dia masih berada di kamarku sejak tadi?" Tanya Nio dalam hati sembari kembali menutup rapat pintu kamar Sonia.
"Atau dia keluar mencariku?" Tambahnya lagi sembari mulai memandangi ke arah jendela.
Nio yang merasa tidak tenang dan jadi sedikit merasa bersalah atas kejadian sebelumnya, akhirnya mengurungkan niatnya untuk ke dapur dan memilih untuk kembali ke kamarnya, untuk memastikan keberadaan Sonia.
Ia pun terus melangkah dengan tenang menaiki anak tangga, karena keberadaan kamarnya ada di lantai dua, tak jauh dari kamar utama. Begitu membuka pintu kamar, dahi Nio sontak semakin dibuat mengkerut kala tidak mendapati adanya sosok Sonia di kamarnya.
__ADS_1
"Dia juga tidak ada disini, apa benar dia menyusulku keluar karena tidak tau aku pergi bersama Rena membeli obat?" Pikir Nio lagi.
Nio pun kembali keluar dari kamarnya berniat ingin turun dan mencari Sonia untuk memastikan jika tidak terjadi sesuatu hal padanga, namun tiba-tiba tak sengaja ia mendengar seperti ada suara beberapa benda yang jatuh.
"Suara apa itu?" Tanya yang langsung menoleh ke arah sumber suara.
Di lantai dua hanya ada tiga ruangan, kamar utama, kamar Nio, dan sebuah ruangan kecil yang terdapat sebuah sofa lalu memiliki sebuah pintu kaca yang bisa terhubung ke balkon.
"Dari mana asalnya suara itu? Apa dari kamar papa?" Tanya Nio yang mulai melangkah pelan mendekati kamar papanya.
Dan tiba-tiba Nio teringat, jika sebelumnya Rudy mengeluh sakit kepala, dan hal itu membuatnya tiba-tiba merasa cemas.
"Astaga!! Apa terjadi sesuatu pada papa di kamarnya?" Gumamnya lagi yang seketika langsung melajukan langkahnya dengan memasang raut wajah cemas.
Saking merasa panik dan cemas karena takut terjadi sesuatu pada Rudy, Nio pun seketika langsung saja membuka pintu kamar yang kebetulan tidak di kunci tanpa mengetuknya terlebih dulu.
Namun apa yang terjadi kala Nio membuka pintu?? Ia begitu terkejut dengan keadaan kedua mata yang begitu membulat sempurna, kala mendapati Rudy yang ternyata tengah bercumbu mesra dengan Sonia di atas meja rias. Saat itu posisi Sonia nampak tengah terduduk di atas meja rias dengan Rudy yang berdiri di hadapannya, sebelah tangan Rudy nampak melingkar erat di pinggang Sonia, serta sebelah tangannya lagi nampak tengah mengusap-usap lembut pundak mulus Sonia yang kala itu terpampang nyata karena sebelah lengan kemejanya telah merosot ke sikunya. Kala itu Rudy nampak dengan begitu buasnya sedang menciumi leher Sonia, sedangkan Sonia hanya nampak terpejam seolah tengah menikmatinya.
"What the fvck???!!" Ketus Nio dengan suara meninggi.
"Ni,, Nio??" Ucap Sonia yang nampak panik bukan kepalang.
Nio pun mendengus namun nampak masih tercengang, ia terlihat sangat syok hingga membuatnya tak kuasa melakukan apapun kala itu.
"Nio, apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Rudy yang juga nampak panik.
Lagi-lagi Nio mendengus kasar.
"Kau bertanya apa yang kulakukan disini?? Aku, sedang memergoki kelakuan busuk kalian!!" Bentak Nio dengan wajah yang mulai nampak memerah karena amarah.
"Nio, tolong jangan marah, aku bisa..." Sonia yang panik seketika langsung melangkah ingin mendekati Nio.
__ADS_1
"Menjauh dariku *****!!" Bentak Nio yang seolah tak sudi di dekati oleh Sonia.
Kata-kata itu pun sontak membuat Sonia terkejut.
"Ka,, kamu bilang aku apa??" Tanya Sonia yang kedua matanya nampak mulai berkaca.
"*****!! Ya, aku mengatakan kau adalah wanita ******!!!" Ketus Nio yang begitu tajam kala menatap Sonia.
"Nio, tidak seharusnya kamu berkata kasar pada Sonia?" Ucap Rudy yang seolah juga berusaha untuk menenangkan Nio.
"Diam kau!!" Bentak Nio yang seolah tak ingin mendengar apapun lagi dari kedua orang itu.
"Ka,, kau!! Benar-benar orang tua menjijikkan! Bagaimana mungkin kau sanggup menjodohkan aku dengan wanita yang pernah kau tiduri??!" Ketus Nio lagi yang semakin terlihat berapi-api.
"Nio ak,, aku..." Sonia nampaknya ingin kembali bersuara, namun lagi-lagi di sekak oleh Nio.
"Dan kau *****!! Inikah yang kau katakan berubah?? Tidak bisakah kau mencari tua bangka lain yang bisa memuaskan nafsumu selain orang tuaku??!!!" Bentak Nio sembari memukulkan keras tangannya ke pintu kamar itu.
Sonia pun seketika langsung menangis ketakutan saat untuk pertama kalinya ia melihat bagaimana mengerikannya amukan Nio.
Disaat yang sama, Rena pun nampak muncul dengan raut wajah yang tak bisa diartikan.
"Ada apa ini?" Tanyanya sembari memandangi secara bergantian ketiga orang itu.
Nio dengan nafas yang terengah karena emosi yang begitu memuncak, seketika menoleh ke arah Rena, lalu langsung kembali mendengus.
"Kau lihat istrimu ini?? Apa lagi kurangnya dia?? Dia bahkan memutuskan untuk setia dan mengabdikan hidupnya padamu, tapi apa yang kau lakukan? Kau malah memilih berselingkuh dengan wanita ****** ini??!!!" Pekik Nio lagi.
Rena yang mendengar hal itu, sontak membulatkan kedua matanya dan seketika menutup mulutnya yang menganga dengan kedua tangannya. Kedua matanya juga nampak mulai berkaca,
"Haish, kalian semua benar-benar membuatku gila! Kalian benar-benar menjijikkan!!" Ketus Nio lagi yang kembali memukul pintu dan langsung pergi begitu saja.
__ADS_1
Nio dengan emosi yang meledak-ledak, langsung melangkah cepat menuju mobil, lalu langsung melajukan mobilnya, meninggalkan Villa itu begitu saja.
...Bersambung......