
Satu jam kemudian...
*Tingtong*
Suara bel tiba-tiba terdengar begitu melengking di dalam unit yang di sewa Zayden, dengan semangat Zayden langsung bangkit dari duduknya menuju ke pintu untuk menyambut kedatangan sahabatnya itu.
"Ah itu pasti dia." Celetuk Zayden yang langsung sumringah.
"Jangan terlalu percaya diri, bisa saja itu tukang laundry." Goda Meichan.
"Ah iya benar juga hehehe. Hmm tapi aku yakin itu pasti temanku."
"Hmm baiklah, kita akan segera tau setelah kamu membuka pintunya."
Zayden pun bergegas membuka pintunya, dan benar saja, yang berdiri di depan pintu saat itu adalah Nio, orang yang di tunggu-tunggu sejak sejam yang lalu.
"Oh Bro!!" Zayden pun langsung memeluk hangat tubuh Nio.
"Tidak percaya kau benar-benar datang kesini, thank you so much bro."
"Aku sudah berjanji, maka aku harus datang."
"Thank you, thank you." Zayden pun semakin melebarkan senyumannya dan kembali melepaskan tautan tubuh mereka.
"Ah masuklah, kau pasti kedinginan." Zayden pun mengajak Nio untuk segera masuk ke dalam unitnya.
"Selamat datang." Sapa Meichan dengan ramah, yang kala itu terlihat sudah berdiri tak jauh dari sofa.
Hal itu pun seketika membuat Nio cukup terkejut, karena mengira jika tidak ada orang selain Zayden.
"Owhh, ha,, hai." Sapa Nio yang masih nampak sedikit kaget.
"Hmm bro, kau pasti sudah tau, dia adalah Meichan, calon istriku." Ucap Zayden pada Nio.
Dan kemudian Zayden kembali menoleh ke arah Meichan.
"Beib, kalian belum berkenalan secara langsung bukan? Namanya Antonio."
"Hai Antonio, nice to meet you."
"Hai, nice to meet you too." Jawab Nio sembari tersenyum canggung.
"Bro, kau tidak bilang jika tinggal disini bersama calon istrimu, jika tau begitu, aku tentu tidak akan mau mengganggu dengan ikut menginap disini." Ucap Nio yang mendadak jadi merasa tidak enak hati.
"Ah hahaha tidak, tidak! Meichan tidak tinggal disini, dia hanya sedang berkunjung, jadi tenang saja, kau tidak akan kami jadikan nyamuk disini."
"Ohh hehe ok." Nio pun akhirnya bisa kembali tersenyum dan merasa sedikit lega.
"Hmm baiklah, beib aku mau ke butik langgananku di samping gedung ini, kalian lanjut saja mengobrolnya." Meichan pun langsung meraih tasnya.
"Perlu ku antar?"
"Ah tidak perlu, temanmu baru saja datang, bagaimana mungkin kamu pergi meninggalkannya."
"Ah baiklah, terima kasih atas pengertianmu beib."
__ADS_1
Meichan pun hanya tersenyum, lalu ia pun beranjak pergi setelah mengecup singkat pipi Zayden. Sedangkan Nio yang menyaksikan hal itu hanya bisa tersenyum.
"Ayo bro, duduklah, kau pasti cukup lelah."
"Thanks." Nio pun mulai ikut duduk tak jauh dari Zayden.
"Huh, udara diluar benar-benar dingin," celetuk Nio sembari kembali menyatukan kedua telapak tangannya dan kemudian mengusap-usapnya.
"Iya, disini memang sedang musim dingin."
"Kenapa kamu malah memilih hari pernikahan disaat musim dingin seperti ini?"
"Kenapa tidak? Tentu bagus bila melangsungkan pernikahan di musim dingin, karena malamnya, sudah ada istri yang bisa menghangatkan hehehe." Jawab Zayden yang kemudian nampak terkekeh.
"Haiss, tidak disangka seorang Zayden juga bisa berbicara mesum."
"Hahaha kita adalah dua orang lelaki yang sudah dewasa, jadi sah sah saja."
Nio pun hanya tersenyum tipis, entah kenapa tiba-tiba saja bayangan Rena yang sedang bersetubuh dengannya kembali terlintas saat itu, meskipun hanya sepintas.
"Kelihatannya calon istrimu benar-benar membuatmu sangat bahagia sekarang." Celetuk Nio.
"Hehehe itu benar, duniaku benar-benar terasa sangat berwarna sekarang."
"Aku lega mendengarnya, nikmatilah kebahagianmu bro. Orang baik sepertimu memang pantas mendapatkannya." Ungkap Nio sembari tersenyum tenang.
"Thanks bro, semoga kau juga bisa segera mendapatkan kebahagiaanmu sendiri."
"Hmm kurasa aku sudah cukup bahagia sekarang." Jawab Nio yang masih terlihat tersenyum tenang.
"Ya, aku sudah melupakannya, hanya saja belum ada seseorang yang benar-benar special saat ini."
"Bagaimana dengan Anya?" Tanya Zayden yang kembali tersenyum menggoda.
"Hais, bukankah sebelumnya sudah ku katakan jika Anya itu adalah sekretarisku."
"Hmm iya, tapi kau nampak tersenyum saat dia menelponmu." Goda Zayden lagi.
"Hahaha tidak, senyuman itu tidak mengartikan apapun, aku dan dia memang cukup dekat, tapi sejauh ini memang tidak ada hubungan khusus antara kami berdua." Jelas Nio dengan tenang.
"Kenapa tidak mencobanya? Hmm harusnya kau membawanya kesini."
"Ah tidak, tidak! Hanya dia yang bisa ku andalkan dalam urusan kantor, aku tidak bisa mempercayakan kantor pada orang selain dia."
"Hmm begitu rupanya, nampaknya seorang Anya ini benar-benar ada di posisi berbeda ya dengan stafmu yang lain? Terlihat lebih istimewa."
"Haaais sudah lah, kenapa malah membahas tentangku? Bukankah yang akan menikah itu kau, maka fokuslah dulu dengan acara pernikahanmu nanti." Nio pun kembali tersenyum.
Setelah beberapa jam berbincang, tiba-tiba saja ponsel Zayden kembali berdering. Lagi-lagi senyumnya nampak kembali merekah seketika saat menatap layar ponselnya yang kala itu terpajang nama Nana.
"Nana??" Jawabnya dengan penuh semangat:
"Zay, tebak aku ada dimana sekarang!"
"Kau menelponku hanya untuk mengajakku main tebak-tebakan?? Hmm baiklah, mungkin saja sedang ada di restoranmu??"
__ADS_1
"Hahaha salah! Aku sedang berada di pintu kedatangan."
"Maksudmu loby? Loby apartementmu?"
"Haiss bukan!! aku sekarang sedang berada di pintu kedatangan bandara, bandara Pudong!"
"Hah?!!" Lagi-lagi Zayden nampak terkejut.
"Hehehe iya, apa kau terkejut?"
"Ini benar-benar surprise bagiku! Hari ini ada dua orang yang datang tanpa mengabariku terlebih dulu, apa kalian janjian sebelumnya? Hahaha."
"Dua orang? Siapa yang satunya?"
"Hehehe dia temanku, nanti akan ku kenalkan padamu."
"Hmm baiklah, kamu dimana sekarang?"
"Aku di apartement, aku menyewanya untuk dua minggu."
"Ah baguslah, itu berarti aku bisa ikut menginap disana, yakan?"
Mendengar hal itu, membuat Zayden seketika terdiam sejenak. Ia diam karena merasa sedikit bingung karena di apartement itu hanya ada dua kamar.
"Ah ya sudah, datang saja dulu kesini, apa perlu ku jemput."
"Tidak usah, kamu akan menikah, jangan terlalu banyak keluar rumah!"
"Baiklah akan ku share alamatnya sekarang."
"Ok."
"Nana, tolong hati-hati, ok, kalau ada yang macam-macam padamu segera hubungi aku, ok?"
"Iya ok." Rena pun tersenyum dan segera mengakhiri panggilannya.
Tanpa banyak bertele-tele, ia pun langsung menyetop taksi, untuk langsung menuju ke apartement kakaknya.
"Nana?? Siapa lagi Nana?" Tanya Nio.
"Oh astaga, aku lupa menceritakannya padamu, Nana itu adikku, adik perempuanku dan adikku satu-satunya. Kemarin ketika mengunjungimu, akhirnya aku kembali bertemu dengannya setelah bertahun-tahun lamanya."
"Adikmu?? Aku bahkan baru tau kalau selama ini kamu punya adik perempuan." Ungkap Nio sembari mengerutkan dahinya.
"Hehehe iya, bukankah sejak dulu aku memang tidak pernah berminat untuk membahas keluargaku?"
"Hmm benar juga, aku bahkan tidak pernah tau dimana rumahmu, karena kau tidak pernah mau jika aku dan teman-teman yang lain ingin berkunjung ke rumahmu."
"Hehehe ya, akan memakan waktu yang cukup lama jika aku harus menceritakan semuanya sekarang,"
"Oh tidak perlu membuang waktumu, aku tidak akan ingin banyak tau tentang urusan keluarga, itu privasi kan?"
"Terima kasih bro sudah mengerti."
Nio pun hanya mengangguk singkat.
__ADS_1
Bersambung...