KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)

KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)
BAB 100


__ADS_3

Keenan memperhatikan benda yang ada di tangannya dengan seksama. "Apa ini?" lirihnya.


"Mas, yuk kita berangkat se__" Dira tidak melanjutkan perkataannya saat melihat benda yang sedang di pegang oleh suaminya. Suaranya tiba-tiba tercekat di tenggorokan membayangkan hal yang akan terjadi. Dia bahkan menelan salivanya beberapa kali.


Wajah Keenan berubah merah padam saat mengetahui benda yang saat ini ada di tangannya.


"Mas aku__"


"Kamu meminum ini? Untuk apa, hah?!" tanya Keenan dengan nada tinggi.


"Aku tidak... "


"Seharusnya kamu bicarakan dulu denganku sebelum memutuskan sesuatu. Kalau kamu masih ingin menunda kehamilanmu, harusnya kamu berterus terang. Bukan seperti ini!" Keenan melempar pil penunda kehamilan itu ke tubuh Dira.


"Mas, aku bisa jelaskan. Awalnya aku memang ing__"


Sebelum Dira selesai menjelaskan Keenan sudah mengambil jas dan tas kerjanya. Dia keluar dari kamar mereka dengan membanting pintu. Keenan berjalan menuruni tangga dan segera menuju ke garasi tempat mobilnya berada.


Dira ikut keluar dari kamar dan berusaha untuk mengejar suaminya. Namun sayangnya, Keenan sudah terlebih dulu meninggalkan rumah dengan menaiki mobil sport berwarna hitam miliknya.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" lirih Dira.


"Ada apa, Nak? Papa seperti mendengar keributan dari kamar kalian tadi?" tanya Hendrawan yang baru saja keluar dari kamar.


"Keenan marah sama Dira, Pa."


"Kok bisa? Memang hal apa yang membuat dia marah sama kamu, sayang?"


"Dia menemukan pil penunda kehamilan milik Dira, Pa."

__ADS_1


"Apa?! Jadi, kamu berniat menunda kehamilanmu tanpa memberitahu Keenan, suamimu?"


"Tadinya," jawab Dira. "Tapi... aku tidak jadi melakukannya. Dan Keenan pikir kalau aku sudah mengkonsumsi pil itu tanpa sepengetahuan dia. Makanya dia marah," jelas Dira.


"Kamu coba jelaskan lagi saja padanya. Papa yakin, nanti dia pasti akan mendengarkanmu." Hendrawan mengusap pundak pundak putrinya.


"Iya, Pa. Aku akan coba jelaskan lagi padanya, mudah-mudahan dia mau mendengarkan aku," kata Dira. Dia mengehala napasnya.


"Aku berangkat ke perusahaan dulu ya, Pa!" pamit Dira. Setelah mengambil tas dari dalam kamar, dia kembali ke garasi dan melajukan mobilnya menuju ke perusahaan ATMAJA.


***


Arya dan Erik saling tatap saat melihat tingkah Keenan yang uring-uringan sejak tiba di perusahaan. Bahkan hampir semua karyawan WIJAYA GRUP menjadi sasaran kemarahannya.


"Ada apa Kee? Kenapa sikapmu aneh sejak datang tadi? Ada masalah sama istrimu?" tanya Arya to the point.


"Tidak ada," jawab Keenan ketus.


"Bodo," jawab Keenan ketus.


"Kee, nanti sekitar jam dua--an kita ada meeting dengan PT AON untuk membicarakan kontrak kerjasama yang waktu itu telah kita sepakati." Erik mengingatkan jadwal Keenan siang nanti.


"Batalkan saja, Rik!" suruh Arya yang langsung mendapat tatapan tajam dari Keenan.


"Kenapa melotot?" tanya Arya. "Memang kamu mau menemui rekan bisnismu dengan bersikap uring-uringan kayak barusan?"


Keenan hanya diam.


"Kee, kamu itu pimpinan perusahaan. Harusnya kamu lebih bisa bersikap profesional, jangan mencampur adukkan masalah pribadi dengan pekerjaan!" tegur Arya lagi.

__ADS_1


"Iya aku tahu," jawab Keenan kemudian. Kali ini nada bicaranya sudah sedikit terkontrol.


"Baguslah, semoga aku tidak harus mengingatkanmu lagi soal ini," timpal Arya. "Tapi, aku penasaran apa yang membuatmu uring-uringan seperti ini? Apa kamu bertengkar sama Dira?"


Keenan tidak menjawab.


"Apa pun masalah kalian selesaikan dengan kepala dingin, Oke." Kembali Arya bersikap bijak seperti biasanya.


"Iya," jawab Keenan malas. "Sudah sana kembali ke ruangan kalian! Aku ingin sendiri!" suruh Keenan kepada dua orang yang saat ini berdiri di depan meja.


"Ya sudah yuk, Rik. Kita kembali ke ruangan kita!" ajak Arya.


"Aku dan Arya ke ruangan kita dulu ya, kalau ada hal yang perlu dibicarkan lagi hubungi kami!" Itulah perkataan terakhir Erik sebelum meninggalkan ruang kerja bosnya.


Keenan masih merasa kesal saat mengingat pil penunda kehamilan yang ia temukan dari dalam laci. Dia kecewa karena Dira tidak membicarakan soal itu sebelumnya. Dia sudah berusaha untuk bersikap profesional dengan tidak mencampur adukkan pekerjaan dengan masalah pribadi. Namun, tetap saja itu tidak bisa dia lakukan. Bahkan beberapa berkas yang masuk ke mejanya selalu dia lempar, padahal belum di baca isinya. Seperti sekarang ini, setelah salah seorang karyawan meletakkan sebuah berkas di atas mejanya, Keenan langsung melemparkannya ke pintu begitu karyawan itu keluar dari ruangannya.


Namun, kali ini berkas itu hampir saja mengenai kepala seseorang yang baru saja memasuki ruangannya. Orang itu berhasil menangkap berkas yang Keenan lempar sebelum berkas itu mengenai kepalanya.


Keenan terlihat gugup mendapati tatapan tajam orang tersebut.


...SILAKAN LIKE, KOMEN, VOTE...


...AUTHOR TUNGGU...


...I💙U...


...🌷...


Nah, sambil nunggu update selanjutnya. Yuk baca karya sahabat otor yang pasti seru dan keren abis. Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak juga.

__ADS_1



...TERIMAKASIH...


__ADS_2