
Malam harinya, Anita menemui Riska di kamarnya. Dia merasa tidak tega saat melihat putrinya terlihat lelah sambil memijit betisnya sendiri.
"Sayang, kamu tidak apa-apakan?" tanya Anita. Dia mendudukkan bokongnya di samping Riska.
"Nggak apa-apa gimana, Ma. Si Dira itu keterlaluan, masa aku di jadikan cleaning service. Aku kan capek, Ma." Keluh Riska. "Pokoknya Mama harus ngasih pelajaran sama si Dira."
"Mama pasti akan memberikan pelajaran sama anak ingusan itu, kamu tenang saja. Aku sudah punya satu rencana buat ngancurin reputasinya lihat saja nanti." Anita memgucapkan hal tersebut penuh dengan percaya diri.
"Apa itu?" tanya Riska penasaran.
Anita membisikkan sesuatu di telinga putrinya.
"Oke juga tuh. Kapan Mama akan memulainya?"
"Secepatnya dong."
"Bagus, biar tahu rasa tuh si Dira." Timpal Riska senang. "Tapi, Ma. Kakiku capek banget, Mama bisa nyuruh orang untuk mijit kakiku kan, Ma?"
"Gampang, nanti aku suruh si bibi buat mijitin kamu," jawab Anita. Dia kemudian keluar dari kamar Riska.
Tidak lama Anita ke luar, datanglah pelayan yang sengaja diperintahkan oleh Anita untuk melayani putrinya, termasuk memijit kaki Riska yang katanya capek.
***
Beberapa hari kemudian ....
Keenan dan Dira segera menuju ke perusahaan Wijaya, sesaat setelah menerima panggilan dari sang daddy, Rangga Wijaya. Pagi itu Rangga menyuruh anak dan menantunya untuk datang ke perusahaan.
"Kee, kenapa ya... daddy tiba-tiba menyuruh kita datang ke perusahaan?" tanya Dira.
Saat ini Dira dan Keenan masih berada di dalam mobil untuk menuju ke perusahaan Wijaya.
"Entahlah, mungkin ada sesuatu yang mendesak," jawab Keenan yang tidak mau mengira-ira.
__ADS_1
"Kamu nggak tanya sama Erik atau Arya?"
"Aku tadi sudah hubungi mereka, tapi keduanya belum membaca pesanku." Keenan memberikan jawabannya. "Kenapa? Sepertinya ada yang sedang kamu pikirkan?" tanya Keenan lagi saat melihat kekhawatiran di mata sang istri.
"Tidak ada," jawab Dira.
"Kamu tidak bisa membohongiku. Aku tahu kamu pasti sedang memikirkan tentang fitnah yang menimpa ibumu kan? Kamu takut kalau berita itu sampai ketelinga daddy, iyakan?"
Dira mengangguk. Dia tahu kalau ibunya bukanlah seorang wanita malam seperti yang di tuduhkan oleh Anita. Tapi, saat ini dia belum memiliki bukti apa pun.
Keenan menggunakan satu tangannya untuk mengusap rambut panjang sang istri.
"Dengarkan aku, mommy dan daddy bukan orang yang berpikiran sempit. Mereka pasti akan mencaritahu kebenaran dari setiap berita yang mereka dengar."
"Tapi.... "
"Percayalah!" Tangan Keenan yang tadi berada di rambut sang istri, kini sudah menggenggm tangan Dira.
Kembali Dira mengangguk, dia menyandarkan kepalanya di bahu Keenan.
"Kee, kenapa ada banyak wartawan?" tanya Dira lirih.
"Aku juga tidak tahu. Kamu berjalan saja di balik tubuhku!" titah Keenan.
Beberapa security perusahaan segera melindungi Keenan dan Dira dari serbuan para wartawan.
"Ada apa ini? Kenapa banyak wartawan berkumpul di sini?" tanya Keenan pada salah satu security yang melindunginya.
"Tidak tahu Tuan Muda. Tuan dan Nyonya sudah menunggu kalian di ruangannya," kawab security itu.
"Tuan Kee, benarkah desas desus yang kami dengar tentang berita almarhum mertua Anda?"
"Apa benar dia seorang wanita malam?"
__ADS_1
"Bagaimana seorang yang terhormat dari keluarga Wijaya bisa menikah dengan anak seorang wanita malam?"
"Apa Anda sudah tahu status mertua Anda sebelumnya?"
Pertanyaan-pertanyaaan itu keluar dari mulut para wartawan yang mendatanginya.
"Maaf, aku belum bisa menjawabnya sekarang." Keenan langsung menarik tangan Dira untuk masuk ke dalam lift. Saat ini yang terpenting adalah menemui kedua orang tuanya. Keenan yakin daddy-nya menyuruh dia dan Dira menemuinya karena berita ini.
Dira dan Keenan sampai di depan ruangan sang daddy. Sebelum mengajak Dira memasuki ruangan tersebut, Keenan kembali menggengam tangan istrinya.
"Percayalah, mommy dan daddy tidak akan menerima berita itu secara mentah." Kembali Keenan meyakinkan sang istri.
Keduanya kini mulai melangkah masuk ke dalam ruangan yang ada di depan mereka. Dira hendak melangkah mundur saat melihat sorot tajam sang ayah mertua. Namun, tangannya yang sudah digenggam sangat kuat oleh Keenan membuatnya urung melakukan itu.
"Percayalah padaku!" ucap Keenan. Dira kembali mengangguk.
"Daddy, ada apa Daddy memanggil kami ke sini?" tanya Keenan.
"Kamu sudah tahu kan soal gosip itu?" tanya Rangga.
"Daddy berita itu semuanya bohong, Daddy jangan percaya!" seru Keenan.
"Kee, dengarkan Daddy!"
"Kalau Daddy menyuruhku untuk ninggalin Dira karena berita itu. Maaf Daddy, aku tidak bisa," sela Keenan.
"Kee, dengarkan Daddymu dulu!" suruh Bintang yang berdiri di samping tempat duduk Rangga.
"Mom, Mommy kan yang dulu nyuruh aku nikah sama Dira. Kenapa sekarang hanya gara-gara berita yang belum jelas itu Mommy juga akan nyuruh Kee ninggalin Dira?!"
"Kee dengerin dulu!" kembali Bintang bersuara.
"Kalau Mommy dan Daddy masih bersikeras, mending Kee ke luar dari sini!"
__ADS_1
Keenan berbalik dan menarik tangan Dira untuk meninggalkan ruangan itu. Namun, dia menghentikan langkahnya saat mendengar perkataan Rangga berikutnya.