
"Mas," panggil Dira.
"Apa?"
"Itu... em...."
Keenan menatap Dira penuh tanda tanya. Apalagi saat Dira menunjukkan senyum aneh yang menyisakan pertanyaan dibenaknya.
"Apa tiketnya ketinggalan?" tanya Keenan mencoba menebak.
Dira menggeleng. "Kan kita pakai e--ticket, Mas," jawabnya kemudian.
"Terus?"
Lagi-lagi Dira menunjukkan cengiran kudanya.
"Katakan saja! Ada apa?" seru Keenan seraya bertanya.
__ADS_1
"Paspor kita ketinggalan," jawab Dira.
"Kok bisa ketinggalan? Bukannya tadi aku sudah memberikan kedua dokumen itu sama kamu?" tanya Keenan.
"Iya, tadi pas Mas ngasih ke aku. Aku lupa bawa hand phone, jadi pas aku ngambil handphone itu di kamar, tanpa sengaja aku menaruh dokumen itu di atas nakas dan lupa memasukkannya ke dalam tas. Maafkan aku ya, Mas," ucap Dira.
Keenan melihat ke arah jam tangannya, penerbangannya 15 menit lagi. Jadi, walau dia menyuruh seseorang untuk mengantar kedua dokumen itu kepadanya tetap tidak akan bisa ikut penerbangan itu. Apalagi jarak dari rumah Dira ke bandara cukup jauh, sekitar satu jam. Jadi, tidak akan mungkin untuk mengejar penerbangan tersebut.
"Lalu sekarang apa yang akan kita lakukan tanpa kedua dokumen itu?" tanya Keenan.
"Bagaimana kalau kita merubah honeymoon kita ke tempat lain. Gak harus ke luar negeri," Dira mengutarakan idenya dengan penuh semangat.
Dira tersenyum, saat akan menyampaikan idenya.
***
Dan disinilah, akhirnya haoneymoon yang menjadi ide dari Dira. Di sebuah desa di pinggiran kota. Mereka mulai melangkah masuk ke sebuah rumah yang meskipun sederhana, tetapi sedap pandang. Rumah itu tidak besar, hanya memiliki dua kamar utama, satu kamar mandi, dapur yang menjadi satu dengan ruang makan, dan ruang tamu. Di teras ada dua buah kursi yang terbuat bambu yang biasa digunakan untuk duduk sambil memandangi bunga yang bermekaran di taman. Karena memang di halaman rumah yang tidak terlalu besar itu, dipenuhi dengan berbagai macam bunga.
__ADS_1
"Mari Non, Den, silakan masuk!" suruh laki-laki berumur sekitar 60 tahun. Dia adalah orang yang di percaya untuk menjaga dan membersihkan rumah tersebut. Laki-laki itu membawa barang-barang majikannya ke dalan kamar.
Dira dan Keenan pun melangkah masuk ke dalam rumah sederhana itu.
"Ini rumah siapa?" tanya Keenan saat memasuki rumah itu.
"Ini adalah rumah peninggalan kakek dan nenek dari mamaku. Rumah inilah yang dulu menjadi tempat favoritku dan mama menghabiskan akhir pekan bersama papa," jelas Dira dengan senyum yang terus mengembang. Namun, mendadak senyum itu memudar saat mengingat sesuatu. "Dan itu sebelum Tante Anita hadir ditengah-tengah kami," lanjutnya, kali ini dengan suara sedikit bergetar.
Keenan meraih tangan Dira dan menyatukan jemari mereka. "Itu semua sudah berlalu, sekarang Anita sudah mendekam di penjara dan mama pasti akan bahagia jika melihat putri tercintanya hidup bahagia," ucap Keenan.
"Aku janji akan selalu setia dan berusaha untuk membahagiakan kamu, Dira." Keenan melepaskan jemari mereka, dia menarik pinggang istrinya sehingga tidak ada lagi jarak diantara keduanya. "Aku mencintaimu." Keenan membisikkan kata itu di telinga sang istri.
"Aku juga mencintaimu, Mas." Jawab Dira.
Keenan sedikit menundukkan kepalanya untuk mencium bibir berwarna merah muda milik istrinya tersebut. Bibir yang kini selalu menjadi candu baginya. Dira memejamkan matanya menikmati ciuman lembut yang diberikan Keenan kepadanya. Dan demi apa pun itu, ciuman itu terasa begitu manis melebihi manisnya gulali. Hingga membuat Dira tanpa sadar mengeluarkan lenguhan.
Ciuman yang awalnya hanya sekedar ciuman biasa, kini berubah menjadi ciuman panas yang saling menuntut untuk melakukan lebih. Dira mengalungkan kedua tangannya di leher Keenan, sementara Keenan, kedua tangannya juga sudah mulai aktif dan sudah bergerak untuk meraba ke seluruh bagian tubuh istrinya. Dan ....
__ADS_1
🍂🍂🍂
Maaf partnya pendek karena otor lagi badmood 🙏.