
Hari itu, Dira, Mikha dan Kiara, memeriksakan kandungan mereka bersama-sama, tentu saja dengan ditemani suami mereka masing-masing. Raut wajah mereka tampak bahagia.
"Bagaimaan hasil pemeriksaan kandungan Kak Kia dan Kak Mikha?" tanya Dira, kala mereka sedang duduk di sebuah restoran.
Iya, setelah selesai memeriksakan kandungna mereka, Dira, Mikha, dan Kiara memutuskan untuk pergi shopping. Mereka bahkan meminta para suami mereka untuk pulang terlebih dulu karena mereka ingin menghabiskan waktu bertiga.
"Dokter bilang kandunganku baik. Hanya saja kehamilanku yang kedua ini berbeda dengan yang pertama. Dulu saat aku hamil Qilla, bawaannya pengen selalu di dekat Mas Dion. Tapi dikehamilanku yang ini, rasanya mencium aroma tubuhnya saja sudah membuatku pengen muntah. Semoga hal ini hanya terjadi di awal kehamilan saja. Soalnya aku kasihan sama Mas Dion yang terpaksa harus tidur di lantai karena aku tidak suka mencium aroma tubuhnya." Mikha menceritakan kondisi kehamilannya kepada dua iparnya. "Kondisi kehamilan kalian sendiri bagaimana?"
"Aku tidak begitu ada keluhan, hanya morning sicknes saja. Tapi, Mas Tama, cemasnya minta ampun." Kini giliran Kiara yang bercerita.
"Wajar sih Tama begitu sama kamu, Ki. Diakan sudah cinta mati sama kamu sejak kecil," sahut Mikha. "Terus kandungan kamu sendiri bagaimana, Ra?"
"Aku tidak tahu ini bawaan bayi atau memang akunya yang sedang ingin di manja. Aku selalu ingin diperhatikan oleh Mas Kee. Dan apapun yang aku inginkan, harus Mas Kee sendiri yang turun tangan. Aku tidak suka kalau dia menyuruh orang lain untuk memenuhi keinginanku," jawab Dira yang mendapat giliran terakhir untuk menja.
"Kee pasti senang melakukannya. Karena walaupun kadang dia manja, dia itu bertanggung jawab. Dia akan melakukan apapun untuk orang yang dia sayangi." Mikha berujar.
"Kak Mikha benar. Aku bahagia karena bisa menikah dengan dia. Pernikahan yang tujuan awalnya hanya untuk memanfaatkan dia. Bahkan aku sengaja menjebaknya waktu itu," tutur Dira. Dia merasa malu dengan perbuatannya dulu.
"Tapi sebenarnya beruntung kamu menjebaknya dulu. Coba kalau enggak, dia bakalan jadi perjaka tua yang gak bisa move on dari cinta pertamanya," sahut Mikha lagi.
"Siapa yang kakak maksud nggak bisa move on?" suara seseorang dari belakang mereka.
__ADS_1
Dan Mikha begitu hapal pemilik suara tersebut. "Tidak ada. Kamu salah dengar, Kee." Dia memasang cengiran kuda.
"Ya, ya, ya, aku salah dengar. Tapi, kayaknya dulu ada tuh yang nungguin seseorang lebih lama dari aku." Keenan pura-pura sedang berpikir.
"Hei, hei, jangan bicara seperti itu pada istriku," Dion juga baru saja tiba.
"Mas, jangan dekat-dekat. Aku mau muntah kalau kamu ada di dekatku!" tegur Mikha saat Dion hendak merangkul bahunya.
"Sayang, aku wangi lho." Dion mencoba mencium aroma tubuhnya sendiri.
"Aku gak perduli, bau tubuh Mas Dion wangi apa enggak yang jelas Mas Dion harus jaga jarak satu meter dari aku," jawab Mikha.
"Anakku, jangan lama-lama ya, jaga jarak dari daddy. Daddy sudah kangen pengen meluk kamu, sayang," lirih Dion.
"Pengen meluk anakmu atau pengen meluk mommynya?" tanya Tama.
"He he he," kini Dion juga menunjukan cengiran kudanya.
"Mas, bukannya tadi kita sudah nyuruh kalian pulang duluan ya?" tanya Dira sambil menatap suaminya.
Mikha dan Kiara juga melakukan hal yang sama, mereka menatap mata suaminya sebagai tanda tanya.
__ADS_1
"Aku tidak bisa jauh darimu, Sayang," jawab Keenan.
"Aku mengkhawatirkanmu, Sayang." Tama juga menjawab.
"Alasanku juga sama seperti mereka," jawab Dion yang menjawab paling terakhir.
Dira, Kiara dan Mikha, hanya bisa menggeleng. Tapi, di sisi lain mereka juga bahagia karena memiliki suami yang perhatian seperti suami-suami mereka.
Siang itu, akhirnya mereka makan siang berenam. Dan saat sedang makan, telpon milik Dion berdering. Dia pun menjawab telpon tersebut.
"Iya, Qilla. Daddy dan Mommy pulang sekarang," ucap Dion sebelum menutup telponnya. Ekspresi wajahnya juga terlihat panik.
"Qilla kenapa?" tanya Mikha dan yang lainnya bersamaan.
"Sebaiknya kita pulang sekarang!" Dion tidak menjawab, dia hanya meminta istri dan ipar-iparnya untuk ikut dengannya.
🌺🌺🌺
Nah, ada apa ya dengan Qilla? Oiya, otor punya pertanyaan nih, kira-kira untuk karya otor selanjutnya kalian mau otor tulis kisahnya Tama-Kiara, Arya-Alea, atau langsung aja loncat ke kisahnya Qilla dan Arvin (anaknya Nayla dan Alvin)?
Jangan lupa tulis jawaban kalian ya? Serta tetap berikan like, komen dan giftnya. Terimakasih🤗
__ADS_1