
Anita terperangah saat mengetahui teman yang di ajak oleh putri tirinya, Dira.
"Salam kenal Tante, aku Riska temannya Dira." Riska mengulurkan tangannya sambil tersenyum.
"Aku Mama sambungnya, Dira. Namaku Anita." Anita ikut memperkenalkan diri. "Dira, kamu bisa membawa dia ke kamar tamu di lantai dua!"
"Baik, Ma," jawab Dira. Dia merasa aneh dengan sikap ibu tirinya yang tiba-tiba melunak.
"Ada apa? Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tegur Anita saat mendapati tatapan aneh dari putri tirinya tersebut.
"Tidak ada," jawab Dira. "Ayo, Ris. Ikut aku ke kamar tamu?" ajak Dira. Dia membawa Riska menaiki anak tangga menuju ke lantai dua.
"Ini kamarmu, semoga kamu betah ya," ucap Dira sesaat setelah dia membuka pintu kamar tamu.
"Sekali lagi terimakasih ya, Ra. Aku tidak tahu bagaimana nasibku jika aku tidak bertemu denganmu tadi." Riska mengucapkan terimakasih berkali-kali.
"Kami beristirshatlah! Kamu bisa memulai bekerja besok di perusahaan milik kakekku."
"Ra, tapi, aku bisa kok mulai bekerja hari ini. Aku tidak apa-apa," Riska sedikit sungkan jika harus tidur-tiduran sementara temannya justru harus bekerja sekarang.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Aku tahu kamu pasti masih lelah."
"Sekali terimaksih ya, Ra. Aku sungguh beruntung punya teman sepertimu," ucap Riska.
"Tidak usah sungkan begitu. Oiya, aku harus berangkat bekerja sekarang. Kalau kamu butuh sesuatu, kamu bisa minta sama pelayan. Maaf, aku tidak bisa menemanimu." Setelah mengatakan itu, Dira ke luar dari kamar Riska.
Riska membanting tubuhnya di atas kasur sambil merentangkan kedua tangannya. "Akhirnya, aku bisa tidur dengan nyaman," teriak Riska kegirangan. "Aku bosan harus tidur di gubuk reot itu." Dia memejamkan matanya sambil menikmati kenyaman yang dia rasakan saat ini.
Namun, saat Riska hendak memejamkan matanya, sesorang masuk ke kamar tersebut.
"Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu bisa bersama dengan Dira?" tanya orang itu sedikit gelisah, bahkan beberapa kali dia menatap ke arah pintu.
Orang itu lebih mendekat ke arah Riska. "Tapi, jika kamu di sini berbahaya. Mereka akan tahu kalau ternyata aku memiliki anak dari orang lain. Mas Hendra tahunya aku ini masih gadis saat menikah dengannya." Wanita itu berbicara dengan suara yang sangat pelan karena memang takut ada yang mendengar pembicaraan mereka, dialah Anita. "Aku tidak bilang sama dia kalau aku sudah bersuami dan memiliki anak."
"Mama, Mama. Sudah tahu masih memiliki suami masih saja merebut suami sahabat. Bahkan sampai memfitnah ibunya Dira sebagai pelacur lagi."
Anita segera menutup mulut Riska dengan tangannya. "Diam kamu!" suruh Anita. "Kalau sampai ada yang tahu, semua yang terjadi dulu hanya sebuah rekayasa dan juga fitnah. Mas Hendrawan pasti akan menceraikan aku tanpa warisan. Kamu tahukan, alasan laki-laki lumpuh itu memberikan warisan padaku? Karena dia menganggap kalau ibunya Dira itu pelacur dan simpanan CEO."
"Makanya, Mama harus baik-baikin aku. Karena aku memegang semua rahasia Mama."
__ADS_1
"Siapa yang memberitahumu semua rahasia itu?" tanya Anita.
"Tante Rena, dia memberitahuku semua rahasia tentang Mama. Oiya, Ma. Kalau Papanya Dira mengira istrinya itu pelacur, kenapa ayahnya malah memberikan warisan yang bayak kepada Dira, Walau harus dengan syarat sih?" tanya Riska heran. "Apa jangan-jangan Kakeknya Dira sudah tahu semua kebenaran tentang ibunya Dira?" tanya Riska lagi.
"Benar juga. Kenapa Mama tidak pernah berpikir sampai di situ? Surat wasiat dari kakeknya Dira baru akan di bacakan oleh pengacara 6 bulan setelah pernikahan Dira. Makanya Mama selalu berusaha mati-matian agar Dira tidak pernah bisa menikah. Jadi, aku masih bisa mengurus perusahaan menggantikan Mas Hendrawan dan bisa mengambil uangnya sedikit demi sedikit. Sayangnya, kali ini orang yang menikahi Dira adalah anak dari Keluarga Wijaya. Mama jadi tidak bisa mengancam dia."
"Tenang saja, Ma. Aku akan membantu Mama untuk membuat Keenan menceraikan Dira. Asal Mama janji akan membagi semua kekayaan yang Mama dapat menjadi dua."
"Iya, iya, Mama janji. Memangnya kamu pikir Mama melakukan semua ini demi siapa, kalau bukan demi kamu agar kamu bisa hidup layak?"
"Tapi kenyataannya sudah setahun ini Mama melupakan aku dan Tante Rena. Makanya aku memutuskan untuk menyusul ke sini," jawab Riska.
"Mama, tidak lupa. Tapi, Mama hanya sedang fokus untuk bisa mengambil alih perusahaan itu."
"What everlah. Aku mau istirahat sebaiknya Mama keluar dari kamarku. Jangan sampai papa tiriku itu tahu kalau aku adalah anak kandung Mama!" suruh Riska. Dia langsung memejamkan matanya.
"Baiklah, Mama keluar sekarang." Anita akhirnya melangkah meninggalkan kamar Riska.
Namun, ketika baru saja keluar dari kamar Riska, seseorang sudah berada di depannya dan membuat wajah Anita seketika berubah pias.
__ADS_1