
"Berani ya kamu menjawab, kamu bisa sa_"
Orang itu tidak melanjutkan perkataannya, dia terkejut dengan keberadaan Riska yang menjadi clening service. Orang itu begitu geram menyaksikan anak kandungnya sedang bersusah payah dengan pekerjaan barunya. Namun, saat ini dia tidak bisa melakukan apa pun untuk membantu putrinya itu.
"Lain kali hati-hati," ucap wanita itu yang tiba-tiba melembut.
"Iya, Bu," jawab Riska, gadis berusaha meminta tolong kepada wanita di hadapannya melalui sorot mata yang terpancar.
"Aku akan bicara dengan Dira nanti," bisiknya di telinga Riska. Wanita itu segera melangkah menuju ke lantai atas, ke ruang kerja anak tirinya, Dira.
Iya, wanita yang tanpa sengaja menendang air pel tersebut adalah Anita. Dia merasa tidak terima karena Dira memperlakukan putri kandungnya seperti itu.
***
"Dira, kenapa kamu jadikan Riska cleaning service?!" tanya Anita saat memasuki ruang kerja putri tirinya tersebut.
"Ada apa sih, Ma? Dateng-dateng kok langsung marah aja?" Dira menutup berkas yang ada di hadapannya.
"Kenapa kamu jadikan Riska cleaning service?" tanya Anita.
"Gini lho, Ma. Riska inikan cuma lulusan SMA memangnya dia pantas menduduki posisi apa di perusahaan ini?" Dira balik tanya.
__ADS_1
"Tapi kan dia temen kamu. Harusnya kamu bisa kasih dia pekerjaan yang layak dan manusiawilah, masa cleaning service?" protes Anita.
"Ma, sekarang aku tanya sama Mama. Karyawan kita yang tidak memiliki jabatan apa-apa di perusahaan ini, mereka lulusan apa?"
"Ada yang D3 dan banyak yang S1," jawab Anita.
"Akan sangat tidak adil jika Riska yang hanya lulusan SMA aku kasih jabatan. Apalagi, dia baru saja mulai bekerja di sini. Memang apa salahnya sih jadi cleaning service? Itu pekerjaan halal dan yang paling cocok dengan pendidikan Riska," jelas Dira.
"Tapi kamu kan temennya, bukankah sudah sewajarnya kamu membantu temenmu," kembali Anita menyahut.
"Ma, itu bantuan yang bisa aku berikan. Aku tidak bisa membantunya lebih dari itu," jawab Dira santai. "Tunggu! Kenapa Mama sebegitunya menginginkan Riska untuk bisa mendapatkan jabatan di perusahaan ini? Apa jangan-jangan Mama memiliki hubungan iatimewa dengan dia?"
Dira menatap Anita penuh selidik.
"Bukan hubungan itu, Ma. Maksudku apa jangan-jangan Riska anak kandung Mama yang Mama telantarkan?"
Mendengar pertanyaan Dira, membuat Anita sedikit gelagapan.
"Apa kamu bilang?!" sentak Anita. "Memangnya aku ini ibumu yang pernah menjadi simpanan CEO? Aku saja ragu apa kamu anak kandung dari Mas Hendrawan." Anita berusaha menutupi kegelisahannya dengan berusaha memutar balikkan keadaan.
"Mama jangan khawatir. Aku ini anak kandung dari papa Hendrawan, buktinya almarhum kakek saja mau mewariskan 40% saham untukku. Yah walaupun dengan syarar sih," jawab Dira enteng.
__ADS_1
Anita mengepalkan tangannya.
"Aku tidak tahu kenapa Mama sampai sebegitu yakinnya kalau almarhumah mamaku adalah pelacur? Atau jangan-jangan itu rekayasa Mama?" Kembali Dira mengatakan hal yang membuat Anita gelisah.
"Kalau kamu tidak percaya mamamu itu pelacur, kamu bisa tanyakan sama papamu."
"Aku tidak perlu bertanya kepada papa soal itu. Karena aku yakin, Mamaku adalah wanita baik-baik. Aku akan mencari cara untuk membuktikan itu." Dira mengatakan hal itu dengan sorot mata tajamnya. "Dan jika sampai aku tahu kalau Mamalah dalang di balik semua tuduhan ini. Aku pastikan, Mama akan aku jebloskan ke penjara!" ancam Dira.
"Jika Mamamu itu wanita baik-baik kenapa dia sampai depresi dan bunuh diri saat Mas Hendrawan mengetahui persilingkuhannya."
"Kenapa aku jadi ragu kalau penyebab Mama meninggal karena bunuh diri. Kenapa aku jadi curiga kalau semua itu juga rekayasa Mama," ujar Dira dengan sorot mata elangnya.
Anita hendak menampar Dira dengan tanga kanannya, tetapi berhasil di tangkis oleh Dira.
"Mulai sekarang, aku tidak akan pernah membiarkanmu menyentuhku apalagi menamparku." Tandas Dira.
"Dasar anak tidak tahu diri, mentang-mentang sekarang kamu sudah memiliki Keenan yang berdiri di belakangmu, makanya kamu belagu. Lihat saja, aku akan mengatakan kepada keluarga Wijaya kalau ibu kandungmu adalah pelacur. Kamu lihat saja nanti, apa kamu masih bisa dianggap menantu oleh mereka."
"Katakan saja, aku tidak takut!" Dira menghempaskan tangan Anita dengan kasar.
Dengan perasaan geram, Anita meninggalkan ruang kerja Dira.
__ADS_1
"Awas saja kamu Dira, aku pasti akan menghancurkan citramu di hadapan semua orang terutama keluarga Wijaya!" Anita mengatakan itu dengan geram. Bahkan dia mengepalkan tangannya dengan sangat kuat.