KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)

KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)
BAB 39


__ADS_3

Dira begitu kesal karena tiba-tiba Keenan mengganti tujuannya, padahal tinggal 1 kilo meter lagi mereka sampai di rumah Dira. Dan lebih kesalnya lagi, ternyata tempat yang di tuju Keenan adalah perusahaan Wijaya. Padahal dia tidak ingin ke perusahaan itu karena merasa malas jika harus bertemu dengan Erik.


"Erik, kamu sudah siapkan pakaian untuk Dira?" tanya Keenan saat tiba di ruang kerjanya.


"Sudah, Tuan," jawab Erik. Dia menaruh papper bag di atas meja kerja Keenan.


Keenan mengambil papper bag yang baru saja di taruh oleh Erik di atas meja kerjanya dan memberikannya pada Dira.


"Kamu pakai ini!" suruh Keenan pada Dira.


"Kenapa aku harus memakai itu? Aku tidak mau," tolak Dira.


"Sebentar lagi kita akan adakan konferensi pers, jadi kamu harus mengganti pakaianmu!" seru Keenan.


"Konferensi pers? Kenapa aku harus ikut konferensi itu?" tanya Dira.


"Wartawan sudah tahu kalau kamu menjebak Tuan Keenan agar bisa menikah dengannya," justru Erik yang menjawab pertanyaan Dira.


"Apa itu benar Kee?" tanya Dira pada suaminya.


"Iya. Itu sebabnya aku mengadakan konferensi pers ini, aku harus meluruskan berita itu," jawab Keenan.


Dira terdiam.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Keenan saat melihat Dira terdiam.


"Tapi kenapa tiba-tiba ada berita soal itu? Bukankah kamu bilang kalau cctv yang mengarah ke kamarmu waktu itu rusak," jawab Dira.


"Aku juga tidak tahu kenapa berita itu bisa tiba-tiba tersebar. Pantas saja waktu kita di kantin karyawanmu membicarakan soal pernikahan kita," jawab Keenan. "Rupanya mereka sudah tahu tentang berita itu."


"Maafkan aku ya Kee, karena aku kamu jadi harus menghadapi berita seperti ini," ucap Dira. "Harusnya aku juga memikirkan dampak bagi keluargamu jika berita tentang penjebakan itu tersebar."

__ADS_1


Dira terlihat menyesali tindakannya yang sudah menjebak Keenan hanya demi merebut perusahaan milik almarhum ibunya tanpa memikirkan dampak dari tindakannya tersebut.


Keenan menggenggam tangan Dira, "Aku sudah berjanji untuk membantumu dan pasti akan aku tepati janjiku itu."


Erik mengepalkan tangannya, dia tidak suka melihat Keenan memberikan perhatiannya kepada Dira.


"Soal berita itu, kamu jangan khawatir sepertinya keluargaku tidak akan terpengaruh dengan berita ini," lanjut Keenan.


"Kamu yakin?" Dira menatap mata Keenan.


"Sangat yakin. Aku rasa Mommy dan Daddy juga sudah tahu alasan kamu melakukan hal tersebut," jawab Keenan seraya mengehala napasnya.


"Kalau mereka sudah tahu kenapa mereka tidak melarangmu untuk menikah denganku?"


"Mungkin mereka menganggap kalau kamu jodoh terbaik untukku. Yah, meskipun menurutku itu salah besar," jawab Keenan.


"Kamu benar, Kee. Aku memang bukan jodoh terbaik untukmu. Tapi, aku pasti akan melakukan apapun untuk membalas jasamu karena kamu mau membantuku merebut perusahaan milik ibuku," ucap Dira sambil membalas genggaman tangan Keenan. Dan hal itu semakin membuat Erik mengepalkan tangannya lebih kuat lagi.


"Baik, Tuan. Permisi," jawab Erik. Dia sedikit membungkukkan badannya kemudian keluar dari ruang kerja Keenan. Namun, sebelum menutup pintu dia menatap Dira sebentar.


***


Dira sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang di bawakan oleh Erik tadi.


"Wah, sepertinya Erik tahu persis ukuran tubuhmu," ucap Keena yang baru saja keluar dari ruang ganti. "Baju itu sangat cocok dan pas di badanmu."


"Hanya kebetulan saja," jawab Dira.


"Ingat saat di depan wartawan kamu hanya perlu menjawab dengan iya atau tidak. Biar aku yang memberi penjelasan kepada mereka!" Keenan memperingatkan kepada Dira agar tidak mengeluarkan statement yang bisa merugikan nama baiknya.


"Iya," jawab Dira.

__ADS_1


"Anak pintar," puji Keenan, dia mengusap rambut Dira seperti mengusap rambit Qilla keponakannya. "Ayo!" ajak Keenan. Dia menyuruh Dira agar memluk lengannya sebelum keluar dari ruangannya dan menemui wartawan.


***


Keenan dan Dira sudah berada di ruang konferensi pers dengan di dampaingi Arya dan Erik di belakang mereka.


"Terimakasih kepada rekan wartawan semua yang sudah meluangkan waktunya untuk mendengarkan penjelasan dari saya tentang berita miring terkait kabar pernikahan saya dan istri saya," Keenan membuka pembicaraan. Dia mulai menjelaskan kepada para wartawan itu kalau kabar yang menuliskan tentang Dira menjebak dirinya agar bisa menikah dengannya itu tidak benar.


"Lalu apa yang sebenarnya terjadi? Karena menurut informasi, malam itu nona Dira sengaja memasukkan sesuatu pada minuman Anda?"


"Bukankah dulu Anda mengejar Anjani? Kenapa tiba-tiba menikah dengan Nona Dira padahal media tidak pernah melihat Anda jalan dengan Nona Dira sebelumnya?"


"Apa Nona Dira adalah wanita yang kebetulan malam itu Anda sewa?"


"Intinya istriku ini adalah wanita baik-baik. Dia tidak menjebakku dan dia juga bukan wanita sewaan seperti perkiraan kalian. Kalau selama ini aku tidak pernah terlihat jalan berdua dengan dia, itu karena kami sama-sama sibuk. Dan soal Anjani, dia sudah menolakku. Jadi mana mungkin aku mengejarnya," jelas Keenan.


"Yang jelas pernikahan Kami bukan pernikahan dadakan seperti yang di beritakan. Saya sudah merencanakan ini jauh-jauh hari."


"Jika pernikahan kalian bukan pernikahan dadakan kenapa kalian selalu terlihat canggung? Anda juga tidak terlihat mesra."


"Kami memang tidak menampakkan keromantisan kami pada khalayak ramai. Tapi saat berada di dalam kamar, kami selalu romantis kok. Iyakan Sayang?" Keenan menatap Dira sembari tersenyum.


"Iya," jawab Dira yang juga ikut tersenyum.


"Lihat mereka terliahat kaku."


"Aku rasa mereka hanya berpura-pura"


"Sepertinya begitu."


Semua perkataan itu di ucapkan memang dengan sura lirih oleh para wartawan, namun Dira dan Keenan masih bisa mendengarnya dengan jelas.

__ADS_1


Semua wartawan yang tadinya sedang berbisik langsung terdiam, mereka tidak percaya dengan yang mereka lihat. Demikian juga Dira, matanya membulat sempurna dengan tindakan yang Keenan lakukan.


__ADS_2