KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)

KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)
BAB 40


__ADS_3

Tiba-tiba Keenan menangkup wajah Dira dengan kedua telapak tangannya dan mendaratkan bibirnya di atas bibir berwarna peach tersebut. Dia sengaja memagut bibir ranum itu berulang kali bahkan sampai membuat sang pemilik sedikit hampir kehabisan napas karena tidak adanya jeda untuknya mengambil oksigen.


Para wartawan mengabadikan momen itu dengan kamera yang mereka bawa. Sementara Erik yang berdiri tepat di belakang mereka lagi-lagi mengepalkan tangannya. Dia benci harus melihat adegan yang membuat dadanya sesak. Berbeda dengan Arya yang malah ikut tersenyum melihat adegan itu. Dia merasa bahagia karena sahabatnya mulai ada hati dengan istri sahnya.


"Sekarang apa masih ada yang membuat kalian meragukan kami?" tanya Keenan setelah melepaskan pagutannya.


Tidak ada satu pun dari wartawan itu yang berani membuka mulutnya lagi.


"Kalau sudah tidak ada pertanyaan lagi, saya akhiri konferensi kali ini. Sekali lagi terimakasih karena kalian sudah menyempatkan untuk hadir di tempat ini," Keenan mengakhiri konferensi tersebut.


Para wartawan itu pun segera membubarkan diri.


"Akhirnya semua bisa tertangani dengan mudah." Keenan menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi yang sedang dia duduki.


"Kita harus bicara sekarang!" ajak Dira. Dia berjalan mendahului Keenan dan menuju ke ruang kerja laki-laki itu. Keenan bangun dari kursinya dan mengikuti langkah Dira. Mereka berdua masuk ke ruangan itu lalu menutup pintunya.


"Apa yang barusan kamu lakukan? Dasar mesum!"


Dira memukul Keenan dengan tas yang dia bawa.


"Hei hentikan!" suruh Keenan, dia menangkis tangan Dira yang terus memukulnya dengan tas. "Harusnya kamu berterima kasih karena aku menyelamatkan harga dirimu. Setidaknya sekarang berita miring tentangmu itu sudah hilang dari peredaran."


"Tapi kamu juga tidak seharusnya melakukan itu di depan mereka," protes Dira.


"Lalu menurutmu aku harus bagaimana untuk membungkam mereka?"


"Ya... ya pokoknya terserah yang penting jangan lakukan hal seperti tadi," jawab Dira.

__ADS_1


"Dengar Nyonya Anindira Wijaya, apa kamu lupa kalau kita sudah menikah? Pasangan yang sudah menikah wajar jika melakukan hal seperti itu bahkan boleh melakukan hal lebih malah."


Dira menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Jangan mesum!" sentak Dira.


"Mesum sama istri sendiri bukannya hal yang wajar," gumam Keenan.


"Kamu lupa dengan perkataanmu tempo hari yang mengatakan bahwa kamu tidak akan tertarik pada tubuhku meski aku bertelanjang di depanmu? Atau aku harus mengingatkanmu lagi?"


"Siapa bilang aku tertarik pada tubuhmu. Tadi aku melakukan itu hanya untuk membungkam mereka," elak Keenan. "Kamu tenang saja, aku masih sama yang tidak akan tertarik padamu meski kamu bertelanjang di depanku."


"Oya?" tanya Dira dengan nada meremehkan. Karena dia tahu kalau ada bagian tubuh laki-laki itu yang masih berdiri.


"Sekarang kamu bisa langsung pulang, aku akan menyuruh orang untuk mengantarmu!" seru Keenan.


"Aku akan menyusulmu setelah menurunkan si jeri," jawaban itu hanya mampu Keenan ucapkan di dalam hati.


"Hei, Kee. Apa kamu tidak ikut pulang bersamaku?" Dira mengulang pertanyaannya.


"Aku masih ada sedikit urusan, nanti aku pasti pulang ke rumahmu," jawab Keenan.


"Jika urusanmu sebentar aku bisa menunggumu di sini."


"Jangan!" cagah Keenan.


"Kenapa?" tanya Dira lagi.

__ADS_1


"Bagaimana aku bisa menurunkan si jeri kalau kamu ada di sini." Lagi-lagi Keenan menjawab dalam hati.


"Aku bilang jangan ya jangan!" jawab Keenan. "Kali ini urusanku agak lama, jadi kamu pulang saja!"


"Baiklah, aku akan pulang sekarang," jawab Dira yang akhirnya setuju untuk pulang lebih dulu.


Keenan merasa lega saat wanita yang membuat jerinya tegang keluar dari ruang kerjanya.


"Akhirnya," ucap Keenan sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Tidak lupa dia menghubungi seseorang untuk mengantar istrinya itu pulang.


***


Dira sudah berada di lobi kantor Wijaya grup, dia menunggu seseorang yang Keenan perintahkan untuk mengantarnya pulang ke rumah.


"Kenapa lama? Sebenarnya siapa sih yang Kee suruh untuk mengantarku pulang?" keluh Dira. Dia sudah merasa bosan harus terus-terusan berdiri di lobi.


Senyum Dira mengembang saat terdengar langkah seseorang yang berjalan ke arahnya.


"Pasti ini orang yang Kee suruh untuk mengantarku pulang," batin Dira saat suara langkah itu kian mendekat ke arahnya.


"Kenapa terlam--"


Dira tidak melanjutkan perkataannya. Dia menatap ke arah orang itu dengan tatapan tidak suka.


🍁🍁🍁


Jangan lupa untuk selalu dukung Babang Kee dan Mbak Dira dengan like, komen dan giftnya.

__ADS_1


Salam sayang dari otor ter--KECEH 🌹🌹


__ADS_2