KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)

KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)
BAB 48


__ADS_3

"Apa masih ada yang kotor?" tanya Dira lagi.


"Diamlah, biar aku yang membersihkannya!" suruh Keenan. Dia terus mengusap bibir Dira dengan ibu jarinya.


"Kee."


Dira kembali diam saat Keenan memberinya isyarat kepadanya untuk diam. Jantung Dira semakin berdetak kencang saat wajah Keenan terus mendekat ke arahnya.


Namun, di saat jarak wajah Keenan tinggal beberapa centi lagi tiba-tiba ....


'Eugh'


Suara sendawa keluar dari mulut Dira. "Maaf," ucap Dira sambil menutup mulutnya. Keenan segera menjauhkan wajahnya dari wajah Dira. Dia merasa beruntung karena Dira bersendawa karena jika tidak, dia pasti sudah khilaf.


"Oiya, sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan sejak tadi."


"Apa itu?" tanya Keenan.


"Waktu di telpon kamu bilang kalau si jeri susah tidur. Tapi kenapa saat aku sampai aku tidak melihat anak kecil di kantormu. Memangnya si jeri sudah tidur? Terus ada di mana si jeri sekarang? Apa dia pergi pas Anjani datang?" tanya Dira dengan pikiran polosnya mengenai jeri.


"Iya si jeri sudah tidur dan dia sudah pulang saat Anjani datang," dusta Keenan.


"Memang begitulah anak kecil. Kadang kita kesulitan buat nidurin dia. Tapi, pas kita nggak ngapa-ngapain dia bisa langsung tidur meski kita nggak nyuruh dia tidur. Jadi kamu harus ekstra sabar menghadapi si jeri," ucap Dira. "Tapi Kee, memang jeri tinggal di mana sih? kok cepet banget dia pulang?" tanya Dira lagi.


"Sudah nggak usah bahas si jeri lagi. Yang terpenting sekarang si jeri sudah tidur, jadi aku nggak perlu ngerasa tersiksa."


"Kenapa kamu merasa tersiksa kalau si jeri bangun?"

__ADS_1


Dira kembali diam saat Keenan menatap tajam ke arahnya. Dia menggerakkan tangannya seoalah sedang mengunci mulutnya kemudian tersenyum.


"Tidak usah menunjukkan senyum jelekmu di hadapanku." Kembali Keenan berucap tanpa menatap Dira.


"Dasar macan! Hobi sekali dia marah dan ngatain orang. Memang siapa yang mau tersenyum di depannya," gerutu Dira dalam hati.


Keenan merogoh sesuatu dari dapam dompet miliknya dan memberikannya kepada Dira.


"Apa ini?" tanya Dira seraya menerima benda yang bentuknya menyerupai kartu ATM.


"Meski kamu sekarang bukan orang kaya, aku yakin kamu pasti tahu kalau itu kartu kredit."


"Iya aku tahu ini kartu kredit. Tapi, maksudku kenapa kamu memberikan kartu kredit ini untukku? Nanti kalau aku mengahambur-hamburkan uangmu bagaimana? Apalagi kartu yang kamu berikan ini tidak ada batasan limitnya. Memang kamu tidak takut, aku menguras semua uangmu?"


"Silakan saja berfoya-foya kalau kamu mau, aku tidak akan melarangnya," jawab Keenan santai. "Asal kamu tahu, walau seumur hidup kamu berfoya-foya menggunakan kartu itu, uangku tidak akan pernah habis."


"Memang aku kaya," jawab Keenan narsis.


"Kee."


"Apa?" tanya Keenan.


"Aku tahu pernikahan kita hanya sebuah kesepakatan. tapi, bolehkah aku minta sesuatu darimu."


"Apa itu?" tanya Keenan seraya menghadap ke arah Dira.


"Aku tahu aku tidak berhak untuk mengatur hidupmu. Tetapi, bisakah kamu menjauhi Anjani. Setidaknya sampai kesepakatan kita berakhir," jawab Dira agak ragu.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Keenan.


"Aku cuma tidak mau ibu tiriku memanfaatkan itu dan mempersulitku untuk mendapatkan perusahaanku kembali. Aku janji, saat aku sudah mendapatkan perusahaanku lagi, aku pasti tidak akan menghalangimu untuk kembali pada cinta pertamamu itu."


Keenan menghela napasnya. Entah kenapa dia merasa tidak suka dengan jawaban yang di berikan oleh Dira. "Entahlah, aku tidak bisa janji soal itu."


"Jadi dia beneran akan kembali dengan Anjani secepatnya? Ah, kenapa rasanya aku tidak rela." Batin Dira.


"Tapi, soal perusahaanmu, aku pastikan aku akan membantumu untuk mendapatkannya," lanjut Keenan.


"Terima kasih," ucap Dira. Entah kenapa suasana hatinya kembali memburuk saat mendengar Keenan yang tidak bisa berjanji untuk menjauhi Anjani sementara.


"Sekarang kita mau langsung pulang atau ada tempat yang ingin kamu datangi?"


"Pulang saja, aku ingin istirahat dan tidur," jawab Dira tak bersemangat.


Dira memilih untuk bersandar di jok yang dia dudukki dan mengalihkan pandanganmya ke luar melalui kaca mobil.


"Baiklah, kita pulang sekarang."


Keenan kembali menyalakan mesin mobilnya.


"Kenapa belum jalan?" tanya Dira ketika mobil yang mereka tumpangi belum beranjak dari tempat semula.


Keenan hanya tersenyum sembari menunjukkan deretan gigi putihnya kepada Dira.


🍁🍁🍁

__ADS_1


Tetap berikan like, komen dan gift nya. Teriamakasih 🌹🌹🌹


__ADS_2