KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)

KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)
BAB 105


__ADS_3

Dan ....


"Astaghgfirullahal a'dzim."


Suara itu membuat Keenan dan Dira menghentikan ciuman mereka. Wajah mereka tampak merah seperti udang rebus. Mereka lupa kalau masih ada penjaga rumah yang tadi sedang memasukkan koper mereka ke dalam kamar.


"E... Pak, Kami...."


Sebelum Dira menyelesaikan perkataannya, bapak penjaga itu sudah menyela ucapan Dira. "Bapak maklum, Neng. Namanya juga pengantin baru," selanya. "Bapak permisi ya, Neng, Aden."


Penjaga rumah yang bernama Pak Karjo melangkah ke luar dari rumah. Dia tidak mau mengganggu honeymoon kedua majikannya.


"Gara-gara kamu nih, Mas. Pasti Pak Karjo berpikiran macam-macam tentang kita," protes Dira.


"Gak mungkinlah dia berpikir macam-macam tentang kita."


"Gimana nggak mungkin, kan tadi dia lihat kita sedang...." Dira ragu untuk melanjutkan kalimatnya rasanya terlalu malu saat mengingat Pak Karjo memergoki mereka sedang berciuman, meskipun mereka adalah pasangan sah.


"Ya gak mungkin, Sayang, kalau dia berpikiran macam-macam. Pasti pikiran beliau cuma satu macam." Keenan menaik turunkan alisnya untuk menggoda Dira.

__ADS_1


"Apaan sih, Mas," ucap Dira dengan malu-malu.


"Ya sudah, lebih baik sekarang kita makan dulu. Perjalanan dari bandara ke sini kan cukup lama, jadi kamu pasti juga sudah lapar. Setelah itu kita istirahat di kamar," kata Keenan.


"Beneran istirahat atau ...."


"Hari ini beneran istirahat dulu, tapi tidak tahu nanti malam dan besok," jawab Keenan. Dira tampak malu-malu mendengar jawaban suaminya.


"Ayo kita cari restoran atau warung yang menjual makanan di sekitar sini!" ajak Keenan.


Sepasang suami istri itu segera keluar dari rumah untuk mencari tempat yang menjual makanan.


"Maaf ya, Mas," ucap Dira.


*Maaf untuk apa?" tanya Keenan.


"Aku lupa kalau di desa ini tidak ada restoran, jadi kita cuma bisa makan di warung kecil ini," jelas Dira.


Benar. Saat ini Dira dan Keenan sedang makan di sebuah warung sederhana. Warung kecil yang hanya menyediakan lauk rumahan sederhana seperti sayur asem, lodeh, urapan, oseng tempe, telur dadar dan hanya ada ikan penyet.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Sayang. Aku malah senang bisa makan menu sederhana seperti ini. Terakhir kali aku makan menu seperti ini saat aku liburan ke rumah nenek. Dan sejak sibuk di perusahaan, aku tidak pernah lagi makan menu seperti ini," jawab Keenan.


"Aku juga. Sejak Mama depresi aku tidak pernah lagi datang ke tempat ini dan tidak pernah lagi makan menu seperti ini. Aku selalu sibuk mencari cara agar aku bisa merebut perusahaan kakek dari tangan Mama Anita." Dira tersenyum kecut saat mengatakan hal itu. "Aku bahkan menjebakmu untuk bisa mengalahkan mama Anita." Dira menatap manik suaminya.


Keenan meraih tangan istrinya kemudian menggenggamnya. "Dan aku tidak menyesali hal itu. Aku justru beruntung karena kamu memilihku untuk di jebak," ucap Keenan, dia mencium punggung dan telapak tangan Dira berkali-kali.


"Harusnya aku yang bilang begitu sama Mas. Aku beruntung bisa menikah denganmu dan mendapatkan cintamu. I love you Mas," ucap Dira.


"I love you too," balas Keenan. "Kamu tahu, kamu membuatku tidak sabar untuk menikmati bulan madu kita," bisik Keenan.


"Jangan aneh-aneh deh, Mas. Ini warung, tempat umum."


"Tenang saja, aku tidak akan berbuat yang aneh-aneh sekarang. Tapi nanti, aku tidak akan melepaskanmu," seringai Keenan.


"Aku juga sudah tidak sabar."


Dira dan Keenan segera melanjutkan makan mereka. Sebelum pulang ke rumah, mereka memesan beberapa bungkus makanan lagi untuk mereka berikan kepada Pak Karjo dan untuk persediaan makan malam mereka nanti.


Siang itu sesuai ucapan Keenan, mereka benar-benar istirahat tanpa melakukan apapun. Mereka baru melakukan aktifitas panas mereka pada malam hari. Dinginnya udara malam, tidak dirasakan oleh Keenan dan Dira. Keduanya sibuk untuk saling memberikan kepuasan, hanya terdengar lenguhan dan desahan dari kamar mereka. Dan beruntung, jarak antar rumah di desa itu tergolong jauh, jadi tidak akan ada tetangga yang mendengar suara-suara aneh dari dalam kamar itu, meski kamar tersebut tidak kedap suara. Apalagi Pak Karjo, sang penjaga rumah juga sudah pulang ke rumahnya dan baru akan kembali besok pagi.

__ADS_1


__ADS_2