
"Mas bangun!" panggil Dira seraya menggoyang-goyangkan tubuh suaminya yang masih terlelap.
"Mas Kee, ayo bangun!" suruh Dira lagi.
Akhirnya setelah beberapa kali Dira memanggil dan menggoyangkan tubuh suaminya, mata Keenan terbuka juga.
"Ada apa sayang?" tanya Keenan, karena masih mengantuk dia hanya membuka matanya sebentar kemudian menutupnya lagi.
"Mas jangan tidur lagi dong! Ayo bangun!" suruh Dira, kali ini dia bahkan menarik tangan suaminya agar dia tidak tidur lagi.
"Sayang, ada apa?" tanya Keenan yang akhirnya benar-benar membuka matanya. "Kalau kamu mau minta jatah lagi, besok saja ya. Aku capek. Lagian semalam kan kita sudah melakukannya beberapa ronde."
Bugh!
Dira memukul lengan suaminya.
"Sakit sayang," keluh Keenan sambil mengusap lengannya.
"Mas, aku enggak mau minta itu. Tapi, aku ingin makan es krim."
Keenan melihat ke arah jam dinding yang tergantung di dinding kamarnya. Jam itu menunjukkan pukul tiga pagi.
"Sayang, jam segini mana ada penjual eskrim yang masih buka, besok saja ya," rayu Keenan.
"Tapi Mas, aku mau eskrim itu sekarang," jawab Dira dengan wajah memelasnya.
"Sayang, aku baru memejamkan mataku pukul dua tadi. Aku benar-benar masih ngantuk, besok saja ya es krimnya," tawar Keenan. Keenan bukannya ingin menolak keinginan sang istri, tapi setelah percintaannya dengan Dira semalam, dia tidak langsung tidur karena harus mengerjakan pekerjaan kantornya yang belum selesai. Akhir-akhir ini perusahaan Wijaya memang sedang sibuk-sibuknya karena sebentar lagi perusahaan itu akan membuka beberapa cabang lagi di kota lain.
"Tapi aku maunya sekarang, Mas." Dira kembali merajuk. "Ya sudah kalau tidak mau membelikan. Jangan salahkan aku kalau anak kita ileran nanti. Padahal aku cuma mau es krim, bukan rumah mewah, mobil mewah, atau apa pun itu. Kenapa tidak mau mengabulkannya. Padahal di mini market yang buka dua puluh empat jam saja kan ada." Dira terlihat cemberut. Dia membaringkan tubuhnya membelakangi Keenan.
__ADS_1
Keenan menghembuskan napasnya perlahan, dia benar-benar tidak bisa melihat istrinya itu cemberut hanya karena tidak bisa makan es krim. Dia bangun dari tempat tidurnya dan mengambil ponsel miliknya yang ada di atas nakas.
"Kamu mau es krim yang rasa apa?" tanya Keenan.
Mendengar pertanyaan Keenan, membuat wajah Dira kembali tersenyum. Dengan semangat dia bangun dari posisinya. "Aku mau es krim dengan semua rasa."
"Baiklah, aku akan membelinya sekarang," jawab Keenan.
"Kamu mau apa?" tanya Dira saat melihat suaminya menghidupkan ponselnya.
"Aku mau minta Arya atau Erik untuk membelikanmu es krim di minimarket dekat tempat tinggal mereka."
"Mas, anak ini anak siapa?" tanya Dira sambil menunjuk perutnya yang masih datar.
"Tentu saja anakku," jawab Keenan.
"Karena ini anakmu, jadi apa pun yang dia mau kamu harus mencarinya sendiri! Aku tidak mau kamu menyuruh orang lain untuk mencarikannya, ingat itu!"
"Satu lagi, jangan menyuruh sopir untuk mengantarkanmu pergi mencari mini market. Kamu harus menyetir sendiri dan jangan mengganggu istirahat orang lain!" kembali Dira mengingatkan suaminya.
"Iya, aku tidak akan menyuruh siapa pun atau pun meminta di antar sopir untuk mencari es krim yang kamu mau," jawab Keenan.
Namun, saat Keenan hendak melangkah ke luar dari kamar lagi-lagi Dira menginterupsinya.
"Ada apa lagi sayang?" tanya Keenan.
"Kenapa kamu mau meninggalkan aku sendirian?"
Keenan sedikit bingun dengan pertanyaan istrinya. Bukan kah dia yang memintanya pergi untuk membeli es krim? Dia yang bilang agar tidak menyuruh orang lain untuk membelikannya, bahkan dia juga bilang agar tidak mengganggu istirahat sopirnya, lalu apa lagi yang diinginkan istrinya itu?
__ADS_1
"Lalu kamu mau aku bagaimana sayang?" tanya Keenan yang berusaha untuk tetap bersabar menghadapi sikap istrinya yang berubah-ubah.
"Kamu sengaja kan mau membeli es krim itu sendiri supaya kamu bisa menggoda penjaga minimarket?" tanya Dira dengan wajah cemberutnya.
"Dira sayang, bukankah kamu yang melarangku untuk menyuruh orang lain membelikannya? Kamu juga kan yang melarangku mengganggu istirahat sopir kita? Terus sekarang aku harus bagaimana agar aku tidak membeli es krim itu sendiri? Apa aku harus membangunkan papa?" Keenan menjawab pertanyaan Dira dengan pertanyaan. "Lagian yang biasa jaga mini market tiap malam itu cowok. Jadi mana mungkin aku menggodanya," lanjutnya.
"Jadi kalau penjaganya itu cewek kamu bakalan godain dia?"
Keenan menepuk jidatnya sendiri, apa pun jawaban yang dia berikan selalu saja salah di mata sang istri. Sejak hamil, selain berubah manja, Dira juga berubah menjadi semakin posesif pada dirinya. Dia selalu cemburu saat dirinya bekerjasama dengan rekan bisnis wanita. Bahkan pernah ada karyawan wanita yang sedang meminta tanda tangan kepada dirinya langsung di usir dari ruang kerja Keenan. Dan sejak saat itu urusan meminta tanda tangan kepada Keenan harus melalui perantara Arya atau Erik.
"Dengar ya sayang, siapa pun yang jaga mini market, aku gak bakalan mau godain dia. Apa lagi aku sudah memiliki istri yang cantik seperti kamu," ucap Keenan, dia ingin menenangkan istrinya.
"Jadi kalau aku gendut dan nggak cantik lagi kamu bakalan godain penjaga mini market?"
"Sayang, mau kamu berubah jelek atau pun kamu berubah gendut nantinya, aku bakalan tetap cinta dan sayang sama kamu. Tidak akan ada yang bisa menggantikan posisi kamu di hatiku." Keenan menangkup wajah Dira dengan kedua telapak tangannya.
"Tuh kan, kamu malah doain aku supaya gendut dan juga jelek." Dira melipat kedua tangannya di depan perut sambil cemberut.
Lagi-lagi Keenan hanya bisa menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan, dia hanya berusaha untuk lebih bersabar untuk bisa menghadapi mood istrinya yang berubah-ubah.
"Lalu sekarang kamu mau aku bagaimana?" tanya Keenan pasrah.
Dira tersenyum, dia bangkit dari ranjang dan memeluk lengan suaminya.
"Aku mau...."
🍂🍂🍂
Kira-kira apa ya, yang di ingin kan Dira? Yuk tulis di kolom komentar!🤗.
__ADS_1
Jangan lupa untuk selalu berikan like, komen dan gifnya, salam sayang dari otor ter--TERKECEH.
...🌹TERIMA KASIH🌹...