KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)

KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)
BAB 89


__ADS_3

Saat ini Keenan dan Dira sudah berada di dalam mobil. Keduanya keluar dari perusahaan melalui pintu darurat. Bukan karena mereka ingin lari atau menghindar dari mereka para pencari berita. Tetapi, sesuai saran dari daddy dan mommy-nya mereka baru akan mengadakan konferensi pers setelah semua bukti terkumpul, dan membuat Anita tidak akan mampu untuk kembali berkelit.


"Kee," panggil Dira.


"Hmmm," jawab Keenan yang masih fokus dengan alat kemudinya, pandangannya juga masih lurus ke depan.


"Menurutmu apa mama akan mengakui semua perbuatannya saat semua bukti sudah terkumpul?" Dira membuka pembicaraan.


"Dilihat dari karakter mama tirimu itu, aku rasa tidak. Dia pasti akan mencari cara agar bisa memutar balik keadaan."


"Kalau begitu apa yang harus kita lakukan?"


"Jangan khawatir, aku masih ada cara untuk membuatnya tidak lagi berkutik," jawab Keenan.


"Terimakasih ya Kee."


"Untuk?"


"Semuanya."


Keenan menggenggam tangan Dira dengan tangan kanan kirinya. "Justru aku yang harusnya berterimakasih padamu. Karena hadirmu di dalam hidupku membawa kebahagiaan tersendiri untukku. Terimakasih ya, sayang." Keenan menatap netra indah istrinya penuh cinta.


"I love you," ucap Keenan.


"I love you too," balas Dira. Dia menyandarkan kepalanya di bahu sang suami tercinta.


"Mmm ... bagaimana kalau sebelum kita memulai penyelidikan kita istirahat dulu di hotel."


"Kenapa harus di hotel? Kenapa kita tidak pulang ke rumah saja?"


*Terlalu banyak pengganggu kalau kita pulang ke rumah," jawab Keenan. "Aku ingin menghabiskan waktuku hari ini bersamamu. Tanpa permasalahan perusahaan dan tanpa permasalahan mama Anita."


"Baiklah, terserah padamu."


"Istri yang pintar." Puji Keenan. Dia mengacak rambut Dira.

__ADS_1


"Aku selalu bilang padamu kan, kalau aku bukan Qilla. Jadi, stop mengacak rambutku seoalah aku anak kecil," protes Dira.


"Iya, Sayang. Maafkan aku. Kamu memang bukan anak kecil, tapi kamu adalah orang yang bisa aku ajak kerjasama membuat anak kecil." Keenan mendekatkan wajahnya di telinga sang istri. "Dan aku ingin kita membuat itu sekarang," bisiknya.


Dira tersipu mendengar jawaban Keenan. Sekarang dia tahu alasan suaminya memilih beristirahat di hotel.


Begitu sampai di hotel milik keluarga Wijaya, Keenan langsung menggendong istrinya ala brydal style menuju kamar tempat dia biasa menginap, juga tempat di mana istrinya melakukan penjebakan yang membuatnya terpaksa harus menikahinya.


"Kee, aku bisa jalan sendiri." protes Dira.


"Aku tahu. Tapi, aku tetap ingin melakukan ini," jawab Keenan tidak perduli. Dia terus melangkah masuk ke hotel dengan tetap menggendong Dira. Wanita yang sudah sah menjadi Nyonya Keenan Wijaya itu hanya mampu menyembunyikan wajahnya yang sudah semakin memerah ke dada Keenan.


"Pagi Tuan, pagi Nyonya."


Beberapa sapaan terdengar dari mulut para karyawan hotel yang kebetulan berpapasan dengan mereka.


"Pagi," jawab Keenan sambil terus melangkah menuju ke salah satu kamar yang memang selalu menjadi tempat istirahatnya selama ini. Bagitu tiba di kamar tersebut Keenan langsung mengajak istrinya untuk bekerjasama membuat anak sesuai perkataannya ketika di dalam mobil tadi.


***


Hari itu adalah hari pembacaan surat wasiat dari kakeknya Dira oleh notaris. Semuanya sudah berkumpul, pun demikian dengan wartawan yang sudah Keenan undang.


"Mama dan Papa tidak keberatankan kalau aku dan Dira mengundang wartawan ke sini?" tanya Keenan kepada Hendrawan dan Anita.


Hendrawan menjawab dengan anggukan.


"Tidak apa-apa," jawab Anita tenang.


"Terimakasih atas kehadiran para teman-teman pers di sini. Aku dan Dira akan menjelaskan tentang berita dari video yang Anda terima mengenai desas desus almarhum ibu mertua saya. Tapi, sebelumnya. Biarkan kami mendengarkan surat wasiat dari almarhum kakek kami yang akan di bacakan oleh pengacara keluarga Hendrawan." Keenan membuka acara jumpa pers tersebut.


Keenan mempersilakan pengacara keluarga untuk membacakan ulang isi surat wasiat yang almarhum kakek Dira tinggalkan.


Isi dari surat wasiat itu pada intinya menyerahkan 40% saham ADMAJA GRUP kepada Anindira karena telah melaksanakan syaratnya yaitu umur pernikahan sudah mencapai 6 bulan. Dan menjadikan Anindira cucu satu-satunya sebagai direktur dari perusahaan tersebut. Apalagi sekarang total saham yang dimiliki Dira sudah mencapai 75%.


Anita tertawa lebar mendengar pembacaan isi surat wasiat itu yang memang sudah dia ketahui sebelumnya.

__ADS_1


"Pak pengacara, apa Anda yakin kalau Anindira ini putri kandung dari suamiku Hendrawan? Apa Anda tidak mendengar kabar dari berita online kalau ibu kandung dari Anindira ini seorang wanita malam alias pelacur? Jadi, mungkin sajakan kalau Anindira ini adalah putri dari salah satu pelanggan dari wanita itu," protes Anita.


"Diam kamu! Ibuku bukan seorang pelacur! Kamulah yang menjadikan ibuku itu seoalah-olah sebagai pelacur," sanggah Dira.


"Hei anak tidak tahu diri! Jangan asal tuduh kamu ya. Semua orang juga sudah tahu kalau ibumu itu pelacur bahkan Mas Hendrawan juga sudah tahu kalau ibumu itu pelacur."


Keenan berusaha untuk menenangkan istrinya agar tidak gegabah dalam bertindak.


"Aneh, biasanya keluarga Wijaya selektif dalam memilih menantu kenapa sekarang malah menjadikan anak pelacur sebagai menantu," cibir Anita. Dia mengatakan itu sambil melirik ke arah Keenan.


"Pak Keenan, apa semua pernyataan yang di sampaikan oleh Ibu Anita itu benar?"


"Jadi istri Anda anak dari seorang pelacur?"


"Lalu kenapa Almarhum Pak Darmawan memberikan sebagian besar sahamnya kepada anak pelacur?"


"Apa jangan-jangan Almarhum Pak Darmawan manjadi salah satu pelanggan dari pelacur itu?"


Pertanyaan-pertanyaan itu muncul dari mulut par wartawan yang sengaja Keenan undang. Merasa dirinya di atas angin, Anita semakin melebarkan senyumnya. Dia yakin kalau kali ini rencana yang sudah dia susun bersama Riska akan berjalan dengan lancar. Bahkan Riska yang berdiri di belakang para wartawan pun ikut tersenyum puas.


"Semuanya tenang dulu!" Keenan meminta kepada para wartawan untuk diam. "Semua yang dikatakan oleh Ibu Anita adalah bohong!"


"Lalu bagaimana penjalasan yang akan Anda berikan mengenai video yang memperlihatkan almarhum ibu dari istri Bapak sedang berada di kamar hotel dengan laki-laki yang bukan suaminya?" tanya salah seorang wartawan lagi.


"Semua adalah rekayasa DIA!" seseorang yang baru saja muncul menunjuk ke arah Anita. Anita dan Riska membeliak menatap ke hadiran orang tersebut di sana.


🍂🍂🍂


Maaf ya, Otor kemarin nggak up🙏. Beneran otor kemarin capek banget, tiap mau ngetik selalu ketiduran. Sekali lagi maafin otor🙏.


Tetap berikan dukungan kalian dengan cara like, komen dan giftnya. Karena dukungan kalian sangatlah berarti buat otor. Terimakasih🌷


Nah, sambil nunggu up berikutnya baca yuk karya temen otor di bawah ini:


__ADS_1


__ADS_2