
"Sepertinya kamu sudah jatuh cinta kepadaku," ucap Keenan sembari tersenyum.
"Bukankah sudah aku katakan tadi kalau aku memang masih mencintaimu."
Mendengar suara orang yang memeluknya, Keenan berbalik dan menatap orang itu.
"Jani, kena__"
Belum sempat Keenan menyelesaikan perkataannya di saat yang sama seseorang membuka pintu ruangannya. Keenan melihat ke arah pintu tersebut dan mendapati Dira di sana.
"Kee, siapa je__"
Dira menatap dua orang di depannya, hatinya berdenyut nyeri saat melihat tidak ada jarak di antara Keenan dan Anjani. Dira tahu persis siapa yang bersama Keenan saat ini, dia adalah Anjani wanita yang Keenan cintai.
"Maaf, aku tidak tahu kalau ada orang lain di sini," ucap Dira yang berusaha untuk tetap tersenyum. "Aku akan menunggu di luar."
Dira kembali menutup pintu ruang kerja suaminya itu. Meski dia sadar kalau pernikahan dirinya dengan Keenan hanya sebuah kesepakatan yang berawal dari jebakan yang dia lakukan, tetap saja hatinya terasa sakit. Dira mengehela napas beberapa kali dan berharap agar rasa sesak yang dia rasakan itu hilang. Namun kenyataannya rasa sakit itu tetap dia rasakan.
"Apa yang terjadi dengan diriku kenapa di sini begitu sakit." Dira membatin sambil meremas dadanya. Tanpa dia sadari cairan bening keluar dari sudut matanya.
"Kenapa di luar?"
Dira mendongak menatap orang yang bertanya padanya dan dia adalah Arya. Arya datang dengan membawa dua cangkir kopi di tangannya.
Dira segera mengusap cairan bening yang baru saja keluar dari sudut matanya. "Tidak apa-apa," jawab Dira seraya tersenyum.
Arya menatap Dira, dia tahu kalau istri dari sahabatnya itu baru saja menangis.
"Apa Kee berlaku kasar padamu?" tanya Arya sedikit berhati-hati. Arya memberikan satu cangkir kopi kepada Dira. Kopi yang tadinya ingin dia berikan untuk sahabatnya.
__ADS_1
"Tidak kok," jawab Dira sembari tersenyum. Dia mengulurkan tangannya untuk menerima kopi dari tangan Arya.
"Lalu kenapa tidak masuk?" tanya Arya lagi.
"Aku ... aku tidak mau mengganggu mereka," jawab Dira.
"Mereka?" Arya mengulang perkataan Dira.
Dira mengangguk.
"Memang siapa yang datang?" tanya Arya lagi.
"Jani, wanita yang Kee cintai." Dira menyeruput kopi yang ada di tangannya. Dira berusaha tersenyum di hadapan sahabat dari suaminya itu.
"Boleh aku menanyakan satu hal kepadamu?" tanya Arya.
"Apa kamu mencintai Kee?"
Dira menggenggam cangkir kopinya dengan erat.
"Cinta? Apa aku mulai mencintai Kee? Tidak! Aku tidak boleh jatuh cinta kepadanya, pernikahan kami hanya sementara, jatuh cinta hanya akan meninggalkan luka di hatiku." Dira berbicara dalam hati.
"Dira," panggil Arya.
"Aku yakin kamu pasti sudah tahu kalau pernikahan aku dan Kee hanya bersifat sementara. Dia hanya akan menjadi suamiku sampai aku bisa merebut perusahaanku dari tangan ibu tiriku. Jadi, mana boleh aku cinta padanya," jawab Dira tanpa menatap Arya.
"Aku tidak bertanya soal pernikahan kalian, aku bertanya apa kamu mencintai Kee?" tanya Arya sekali lagi.
"Aku ...."
__ADS_1
Kembali Dira terdiam.
"Aku rasa aku sudah tahu jawabannya," ucap Arya lagi.
Kembali Dira menatap Arya.
"Kamu tunggu di sini sebentar!" suruh Arya.
Arya meletakkan cangkir di tangannya di sebelah tempat duduk Dira. Kemudian dia mendekat ke arah pintu dan mengetuk pintu ruang kerja Keenan, setelah mendapat jawaban yang menyuruhnya masuk, Arya pun melangkah masuk kedalam ruang kerja itu.
"Kee, Dira ...."
Sebelum sempat Arya menyelesaikan kalimat yang ingin dia ucapkan Keenan sudah menyelanya.
"Kamu temani dia dulu, ada yang harus aku selesaikan dengan Jani," sela Keenan.
"Kee, tapi ...."
"Ar, aku tidak harus mengulangi perkataanku barusankan?" Keenan memberikan tatapan tajamnya.
"Baiklah," jawab Arya. Dia kembali ke luar dari ruang kerja Keenan.
Arya kembali mendekat ke tempat Dira, dia mengambil kopi yang tadi sempat dia taruh di dekat Dira kemudian menghempaskan tubuhnya di atas kursi di sebelah istri sahabatnya itu.
"Sepertinya sementara kita harus di sini dulu," ucap Arya.
Dira mengangguk. Dia berusaha untuk tetap tersenyum di hadapan asisten yang sekaligus sahabat dari suaminya.
"Arya saja di suruh ke luar, sepertinya Kee masih menyimpan perasaan yang begitu besar kepada Jani. Aku harus bisa mengendalikan perasaanku padanya. Aku tidak boleh jatuh cinta padanya!" Kembali Dira bermonolog dalam hati.
__ADS_1