KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)

KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)
BAB 73


__ADS_3

Keesokan harinya ....


Keenan merasa sedikit aneh karena tidak ada yang membangunkannya pagi ini. Biasanya sang istri, Dira, akan membangunkan dirinya tiap akan menunaikan ibadah sholat subuh.


Keenan segera beranjak dari tempat tidurnya dan segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai dia langsung menjalankan kewajibannya kepada Sang Pencipta.


Pukul 06.00 WIB, Keenan segera keluar dari kamarnya untuk mencari keberadaan istrinya yang ia yakini masih sibuk di dapur, karena memang kegiatan rutin istrinya tersebut adalah membantu ART menyiapkan sarapan untuk semua penghuni rumah. Begitu tiba di dapur, Keenan langsung mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru dapur untuk mencari keberadaan istrinya. Namun, dia juga tidak menemukan keberadaan Dira di sana.


"Kemana dia? Tumben-tumbenan, dia pergi gak bilang?" batin Keenan.


Keenan memanggil salah satu ART yang berada di sana. "Maaf, Bi. Kenapa saya tidak menemukan keberadaan istriku di sini ya? Apa dia bilang sama Bibi mau pergi kemana, gitu?" tanya Keenan pada salah seorang ART.


"Maaf, Tuan. Habis subuh tadi, Nona Dira bilang dia mau pergi ke kantor, katanya ada urusan mendadak," jawab ART tersebut.


"Urusan mendadak di kantor? urusan apa di kantor pagi-pagi?" gumam Keenan.


"Saya harus kembali menyiapkan sarapan Tuan, permisi!" ART itu pun meninggalkan Keenan dan kembali pada kegiatannya.


Keenan kembali ke kamarnya, dia mengambil ponsel miliknya yang semalam ia simpan di atas nakas. Dia segera menghubungi nomor istrinya, tetapi belum juga di jawab.


"Aneh, kenapa panggilanku belum juga di jawab? Apa pagi ini dia beneran sibuk?" Karena belum juga dijawab, Keenan memutuskan untuk mengirim istrinya itu pesan. Dan pada saat itulah, ponsel miliknya berdering. Dengan cepat Keenan menjawab panggilan tersebut tanpa melihat nama sang penelpon.


"Dira, ada apa sebenarnya? Kenapa kamu tidak membangunkan aku? Kenapa berangkat ke kantor tidak minta aku antar?" cecar Keenan.


"Kee, kamu punya masalah dengan Dira?" Seketika Keenan langsung melihat ke layar ponselnya, ternyata yang menelponnya adalah Mikha.


"Kak Mikha, tumben pagi-pagi sudah menelpon, ada apa?" tanya Keenan.


"Kamu belum jawab pertanyaan Kakak Kee. Kamu bertengkar sama Dira?" tanya Mikha lagi.


"Tidak, Kak."


"Terus apa maksud pertanyaanmu tadi? Atau kalian sedang bertengkar?" tanya Mikha.

__ADS_1


"Kami tidak punya masalah apa pun, Kak. Hanya saja pagi ini dia terlalu sibuk, sampai lupa membangunkan aku," jawab Keenan.


"Syukurlah kalau kalian tidak sedang berantem." Mikha bernapas lega.


"Tentu saja tidak, Kak. Kakak belum jawab pertanyaanku, kenapa Kak Mikha menelponku pagi begini?" tanya Keenan. "Hmmm, aku tahu nih. Pasti Kak Mikha sama Mas Dion mau minta bantuan kami lagi ya?"


"Tahu saja Kamu, Kee."


"Mau nitip Qilla lagi?" tanya Keenan.


"Wah, kamu sudah jadi paranormal ya? Kok tebakanmu tepat?"


"Sudah deh, Kak, nggak usah muter-muter. Kakak mau minta aku nganterin Qilla ke sekolah?"


"Tuh kan tebakanmu tepat lagi," canda Mikha.


"Memang sopir Kak Mikha ke mana? Terus Kak Dion juga ke mana? Asisten andalannya juga ke mana?" Keenan balik bertanya kepada Kakaknya.


"Ya sudah, sekarang juga aku ke sana."


"Terimakasih ya adikku yang manis." Mikha mengakhiri panggilannya.


Keenan menggeleng. Kenan mengirim pesan kepada Dira kalau dirinya akan mengantar Qilla ke sekolah. Pesan itu sudah di baca oleh Dira dan Dira pun sudah membalasnya denga 'Ya' . Kemudian Keenan kembali memasukkan ponsel miliknya ke dalam saku celananya. Pria tampan itu segera bersiap untuk menuju ke rumah kakaknya.


Sekitar 30 menit, Keenan sudah sampai di depan rumah Kakaknya dan di sana Qilla juga sudah menunggunya.


"Uncle," panggil Qilla seraya berlari menghampiri Keenan.


"Hallo cantik, sudah siap rupanya." Keenan mencuit hidung keponakannya.


"Sudah dong Uncle. Oiya, Tante baik mana?" tanya Qilla saat tidak melihat Dira.


"Tante baiknya sudah berangkat ke kantor Sayang."

__ADS_1


"Ya ... Qilla kan kangen sama Tante baik."


"Baiklah, nanti sebelum ke sekolah Qilla, kita mampir ke kantornya Tante baik dulu. Kebetulan sekolah Qilla searah dengan tempat kerjanya Tante baik."


"Asiiikkk," teriak Qilla kegirangan.


"Kak, aku langsung berangkat ya. Barusan Kakak dengar kan, kalau Qilla ingin bertemu Dira dulu."


"Ya sudah, sana berangkat!"


Qilla mencium punggung tangan Mommy-nya. "Assalammualaikum, Mommy. Qilla berangkat dulu ya." Pamit Qilla.


"Waalaikumsalam, sayang. Hati-hati. Jangan ngebut."


"Siip," jawab Keenan sambil mengacungkan jempolnya.


Setelah memastikan keponakannya masuk ke dalam mobil dan menggunakan seatbeltnya dengan benar. Keenan mulai melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah kakaknya. Keenan mengemudikan mobilnya menuju ke perusahaan milik istrinya sesuai permintaan Qilla tadi.


Keenan segera menepikan mobilnya ketika sampai di depan kantor istrinya. Dia sengaja memarkirkan mobilnya di bahu jalan karena hanya akan mampir sebentar di tempat kerja Dira. Selain untuk mempertemukan Qilla dengan istrinya.


"Ayo sayang, kita masuk sebentar. Inget ya setelah ketemu sama Tante, Qilla langsung berangkat ke sekolah."


"Oke, Uncle." Qilla menyatukan jari telunjuk dengan jari jempol hingga membentuk huruf 'O'.


Qilla dan Keenan turun dari dalam mobil yang baru saja mereka tumpangi dan berjalan menuju ke kantor Dira. Namun, tiba-tiba Qilla menghentikan langkahnya, sehingga otomatis membuat langkah Keenan juga berhenti.


"Ada apa, Sayang?" tanya Keenan kepada keponakannya.


Qilla tidak bersuara, dia hanya menunjuk sesuatu di depannya.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Tetap berikan like, komen dan giftnya. Maaf karena otor telat up lagiπŸ™.

__ADS_1


__ADS_2