KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)

KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)
BAB 71


__ADS_3

"Sedang apa kalian?"


Suara itu mengagetkan Keenan dan Anjani, keduanya serempak menjauhkan tubuh mereka.


"Dira ... ini ... ini tidak seperti yang kamu pikirkan," ucap Keenan. Dia berjalan mendekati wanita yang baru saja datang.


"Jangan mendekat!" halau Dira. "Aku kira ucapanmu semalam memang benar adanya. Tapi ternyata ...."


"Dira, kamu salah paham."


"Nona Dira, apa yang kamu lihat tidak seperti yang kamu pikirkan." Anjani juga mencoba untuk memberi penjelasan kepada istri dari Keenan tersebut.


"Memang kamu tahu apa yang sedang aku pikirkan?" tanya Dira dengan tatapan nanar.


"Sayang," lirih Keenan.


"Aku minta maaf pada kalian, jika karena ambisiku aku malah memisahkan kalian."


"Sayang, apa yang kamu katakan? Kamu tidak memisahkan siapa pun," tukas Keenan. "Dengar sayang barusan aku hanya ...."


"Kita akhiri perjanjian kita sekarang, kamu bisa menceraikan aku bila kamu mau. Jadi kamu bisa bebas kembali dengan Anjani. Dan soal perusahaan itu, aku akan mencari cara lain untuk merebutnya," sela Dira.


Keenan maraih tangan Dira dan menariknya ke dalam dekapannya.


"Kee, lepas! Sebentar lagi kita akan__"

__ADS_1


"Diam dan dengarkan aku!" tukas Keenan. "Dira, apa tidak ada sedikit pun kepercayaanmu untukku?" Keenan menanyakan itu sambil menatap kedua bola mata Dira.


"Aku ...."


Keenan menuntun tangan Dira agar menyentuh dada sebelah kiri, karena pada umumnya jantung terletak di rongga dada sebelah kiri. "Apa kamu merasakan degupannya?" tanya Keenan.


Dira menjawabnya dengan sebuah anggukan kecil.


"Dan degupan itu akan berhenti saat kita berpisah."


Dira mentap mata Keenan. "Tapi, Kee. Bukankah kamu mencintai Jani? Aku tidak ingin membelenggumu dengan kesepakatan kita."


"Aku yang menginginkanmu, bukan kamu yang membelengguku dengan kesepakatan itu," ujar Keenan.


"Nona Dira, kamu salah paham. Keenan memang dulu mencintaiku, tapi itu dulu sebelum dia bertemu denganmu." Anjani mendekat ke arah Dira.


"Bagaimana pun caramu membuat Keenan menikah denganmu, jika dia tidak mencintaimu, dia tidak akan bertahan denganmu sampai sekarang. Dan tidak akan berusaha mencari kebenaran tentang hal yang aku dan ayahku lakukan. Dia mencari semua kebenaran itu karena dia tidak ingin kamu berpikr kalau Kee masih mencintaiku. Keenan sangat mencintaimu Dira, tidak ada orang lain di hatinya saat ini selain namamu," ucap Anjani panjang lebar.


"Atau kamu baru akan percaya setelah jantungku benar-benar berhenti berdetak?" tanya Keenan lagi.


Dira menggeleng. "Aku tidak ingin menjadi janda," jawab Dira yang di sambut pelukan oleh Keenan. Putra bungsu dari Rangga Wijaya itu menghujani seluruh wajah istrinya itu kecupan. Mulai dari kening, mata, hidung kemudian turun ke bibir merah milik sang istri, keduanya saling memagut dan melupakan kalau masih ada Anjani di tempat itu.


'Ehem'


Suara deheman Anjani, membuat aktivitas sepasang suami istri itu terhenti. Dengan wajah yang memerah karena menahan malu, Dira menunduk. Dia tidak berani menatap Anjani. Berbeda dengan Keenan yang tampak tenang seolah tidak perduli dengan pandangan orang lain terhadap mereka.

__ADS_1


"Kee, Dira, aku pamit ya. Hari ini aku akan kembali ke Jepang. Dan sekali lagi maafkan aku karena aku sempat menjadi pengganggu rumah tangga kalian."


"Tidak apa-apa, aku tahu itu bukan keinginanmu. Hati-hati ya Jani, semoga kamu selamat sampai tujuan," jawab Keenan.


Anjani berjalan meninggalkan suami istri yang sedang berbahagia itu tanpa ada beban di hatinya.


Sepeninggal Anjani, Keenan lansung menggendong tubuh istrinya.


"Kee, turunkan aku! Malu di lihat orang-orang."


"Kenapa harus malu, kan yang aku gendong istriku sendiri. Kecuali aku menggendong istri orang lain baru malu," jawab Keenan. "Begitu sampai di rumah, aku akan langsung memberikanmu hukuman karena kamu sudah sempat memintaku untuk menceraikanmu."


Tubuh Dira seketika menegang, dia tahu maksud dari hukuman yang akan diberikan oleh suaminya.


Tidak jauh dari tempat Keenan dan Dira berada, sepasang mata terus mengawasi keduanya sejak tadi. Senyum tampak terlukis di bibir orang itu karena akhirnya dia bisa melepaskan pujaan hatinya dengan ikhlas, dialah Erik. "Semoga kamu selalu bahagia Dira," ucapnya lirih.


"Dia pasti bahagia." Seseorang menupuk pundak Erik kemudian berdiri sejajar dengannya. Iya, dia adalah Arya. Keduanya menatap atasan mereka yang semakin menjauh dari tempat itu.


Sejak hari itu hubungan Dira dan Keenan semakin harmonis. Tentu saja hal itu membuat Anita merasa tidak senang. Dia mengambil sesuatu dari dalam laci dan menghampiri suaminya yang sedang duduk di kursi roda sambil melihat pemandangan dari jendela kamar.


"Mungkin ini saatnya aku memberitahu kebenaran tentang ibu kandung dari putri kesayanganmu itu. Aku yakin saat dia tahu asal-asul ibunya, putrimu itu tidak akan sepongah sekarang."


Hendrawan menggeleng, lewat sorot matanya dia seakan memohon agar Anita tidak melakukan hal itu.


"Lihat saja Anindira, apa kamu masih bisa menegakkan kepalamu saat tahu asal usulmu yang sebenarnya!"

__ADS_1


🍂🍂🍂


Yuk, berikan like, komen dan giftnya. Love You ❤️


__ADS_2