
"Bodoh! Kenapa aku tidak minta nomor ponsel sih Roni sih?" maki Keenan pada dirinya sendiri.
Saat ini Keenan sedang duduk di belakang setir dan hendak pergi untuk menemui Roni. Namun, saat dia baru menghidupkan mesin mobilnya, barulah dia ingat kalau saat ini dia tidak mengetahui keberadaan Roni. Dan terpaksa dia harus menunggu kabar dari anak buahnya.
"Kita temui Roni sekarang!" ucap Tama yang langsung masuk ke dalam mobil milik adiknya.
"Memang Kak Tama tahu di mana Roni?" tanya Keenan.
Tama mengangguk. "Jika alasan dia membawa Dira karena adiknya, Wina. Maka aku tahu di mana harus menemuinya," jawab Tama.
"Biar kakak yang mengendarai mobilnya. Kita tukeran tempat duduk!" seruTama, Keenan mengangguk.
"Maafkan aku, Kak," ucap Keenan saat berada di dalam mobil bersama kakaknya. "Benar apa kata mommy dan daddy, aku tidak boleh membentak Kakak apa lagi bersikap kurang ajar."
"Lupakan saja, Kakak tahu kenapa kamu bersikap seperti itu," jawab Tama, dia mengusap pundak adiknya.
"Kak, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa sampai Roni mengatakan hal seperti itu?" Keenan menatap Kakaknya yang sedang fokus menyetir.
"Kamu sudah dewasa sekarang, bukan lagi Kee yang manja."
"Kak," panggil Keenan.
"Tenang saja, Dira pasti akan baik-baik saja. Setelah Kakak bertemu dengan Roni, kesalahpahaman ini pasti akan segera berakhir," jawab Tama. Dia menatap adiknya sekilas kemudian kembali fokus menatap jalan di depannya.
"Kak, Kak Tama tidak mau menceritakan apa pun kepadaku?" tanya Keenan.
"Nanti saja, setelah Roni membebaskan istrimu."
"Baiklah," jawab Keenan.
Setelah hampir dua jam berkendara, akhirnya mereka tiba di sebuah rumah sakit. Roni yang sedang duduk di ruang tunggu segera menghampiri Tama saat melihat pria yang dia cari ada di depannya.
"Akhirnya kamu datang juga," ucap Roni yang tampak geram saat melihat kehadiran putra sulung Rangga Wijaya itu. Dia bahkan sampai menarik kerah baju Tama.
"Kenapa kamu lakukan hal itu kepada adikku? Kenapa kamu meninggalkan adikku setelah dia memberimu keturunan?!" tanya Roni dengan emosi yang membuncah.
"Dari awal aku memang tidak bersama dengan adikmu."
"Apa maksudmu? Bukankah kamu sudah menikah dengannya?"
Tama hanya tersenyum. Dia mengeluarkan amplop berwarna coklat dari dalam saku jasnya dan memberikannya kepada Roni.
__ADS_1
"Bacalah itu! Kamu akan tahu apa yang sebenarnya terjadi antara aku dan Wina!"
Roni melepaskan cengkeraman tangannya pada kerah baju Tama dan segera membuka amplop pemberian Tama tersebut.
Roni menangis setelah membaca surat itu. Dia menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.
"Sekarang katakan dimana adik iparku! Jika ada hal yang ingin kamu lakukan kepadaku, silakan lakukan! Tapi, bebaskan dulu adik iparku. Dia sama sekali tidak tahu apa-apa tentang ini!" pinta Tama.
"Dia ada di gudang kosong di jalan cempaka nomor lima," jawab Roni. Dia juga melempar kunci ke arah Tama. Dan dengan cekatan Tama berhasil menangkap kunci yang dilemparkan oleh Roni. "Gudang itu terkunci dari luar. Jangan khawatir, aku tidak melakukan apa pun terhadapnya."
Tama memegang bahu Roni, "Wina mencintaimu. Dia melakukan kesepakatan denganku karena ingin membantumu melunasi semua hutang-hutangmu."
"Lalu anak itu?" tanya Roni.
"Anak itu bersama kakek dan neneknya, aku juga sudah berbicara dengan orang tua kalian," jawab Tama.
"Terima kasih, Tam. Aku minta maaf karena selama ini aku mengira kalau kamu dan Kiara memanfaatkan Wina. Aku tidak tahu kejadian yang sebenarnya, aku kira Wina...."
"Lupakan saja. Ingat jagalah Wina dan juga anakmu."
Roni mengangguk, kini pandangannya beralih natap Keenan. "Aku juga minta maaf padamu, karena melibatkan istrimu kedalam lingkaran kesalah pahaman ini," ucapnya pada Keenan.
Keenan hanya membalasnya dengan sebuah anggukan.
"Iya, Kak."
Tama dan Keenan segera menuju ke alamat tempat Roni mengurung Dira. Mereka begitu lega saat berhasil menemukan Dira. Dan memang benar, Roni tidak berbuat apa pun kepada Dira selain mengurungnya, karena dia masih memberi makan Dira dengan layak.
"Kamu tidak apa-apakan, Sayang? Tidak ada yang luka kan?" tanya Keenan sambil memperhatikan keadaan istrinya.
"Tidak apa-apa, Mas. Dia tidak berbuat kasar padaku. Bahkan dia juga memberiku makanan yang enak," jawab Dira.
"Syukurlah. Kalau sampai dia berbuat kasar padamu, aku pasti akan membunuhnya," ucap Keenan.
Tama membawa adik dan adik iparnya itu kembali ke keluarga Wijaya. Akhirnya semua kesalah pahaman dengan Roni bisa diselesaikan dengan baik. Dan sekarang Tama juga merasa lega karena tidak ada lagi rahasia yang dia sembunyikan dari keluarganya. Dia dan Kiara juga bisa hidup dengan tenang sekarang.
Malam itu, semua anak dan menantu keluarga Wijaya berkumpul menjadi satu. Dan untuk merayakan itu mereka mengadakan pesta kecil di taman belakang rumah.
"Rasanya sudah lama ya Sayang, kita tidak merasa sebahagia ini," ucap Kiara sambil menatap semua anggota keluarganya yang tampak bahagia.
"Mulai sekarang kita akan selalu bahagia seperti ini." Tama merengkuh tubuh Kiara dan mencium pucuk kepalanya berkali-kali.
__ADS_1
Tidak jauh dari mereka duduk, ada Dion dan Mikha yang sedang bertepuk tangan menatap Qilla yang sedang bernyanyi.
"Qilla, pinter. Sekarang Qilla mau hadiah apa dari Daddy?" tanya Dion begitu putri kecilnya selesai bernyanyi.
"Aku mau dedek bayi yang lucu, Daddy," jawab Qilla yang memang sudah mengharapkan seorang adik.
"Sayang, dengarkan. Qilla ingin memiliki adik," ucap Dion ditelinga sang istri.
"Terus?"
"Ayo kita bikinin Qilla adik!" ajak Dion sambil menaik turunkan alisnya.
"Apaan sih, Mas." Wajah Mikha berubah merah menahan malu.
"Memang Qilla mau adik berapa?" tanya Dion.
Qilla dengan serius menghitung semua jari-jarinya, tidak lama kemudian dia menunjukkan kesepuluh jarinya kepada kedua orang tuanya. "Segini, daddy," jawab Qilla.
Mata Mikha membeliak mendengar jawaban sang putri.
"Qilla sayang, kalau sebanyak itu minta sama Uncle dan Tante baik saja ya. Mommy nggak sanggup," ucap Mikha dengan berpura-pura memasang wajah memelasnya.
"Kak Mikha ini, kebiasaan melimpahkan segala hal kepada kami," protes Keenan.
"Sayang kenapa tidak sanggup? Aku sanggupku membuatmu ...." Dion memperagakan tangannya membentuk lingkaran di depqn perut.
"Tuh, Kak. Kak Dion saja sanggup masa Kakak enggak," ledek Keenan.
"Dasar cowok nyebelin, seenaknya saja kalau ngomong." Mikha memonyongkan bibirnya.
"Aku pasti bisa membuktikan omanganku, cewek resek," balas Dion.
Tingkah dua orang itu memancing gelak tawa yang lainnya.
"Panggilan sayang, Kak Dion dan Kak Mikha, lucu ya?" ucap Dira.
"Begitulah," jawab Keenan. "Sayang, apa kamu juga mau memberikan panggilan sayang untukku?"
"Apa ya?" Dira berpikir sejenak.
🍂🍂🍂
__ADS_1
Nah, yuk berikan panggilan sayang untuk Babang Kee! Tulis di kolom komentar ya!
Terimakasih🌷