
Keenan menarik napas panjangnya kemudian menghembuskannya perlahan dan pada saat itulah dia terperanjat ketika ada orang yang menepuk bahunya.
"Kee, sedang apa kamu di sini?" tanya orang itu yang ternyata adalah Dira.
"Tidak ada," jawab Keenan berbohong. "Sudah selesai belanjanya?"
"Sudah, sepertinya tidak ada lagi yang aku butuhkan," jawab Dira sembari meneliti barang belanjaannya.
Kedatangan Keenan ke kafe itu bukan tanpa sebab, Dira meminta Keenan untuk menjemputnya yang sedang berbelanja bulanan.
"Kamu lihat apaan sih, Kee? Sepertinya gelisah banget?" tanya Dira ketika melihat Keenan yang lagi-lagi menoleh ke belakang.
"Ti_ tidak ada apa-apa, Sayang. Kalau tidak ada yang ingin kamu beli lagi, kita pulang sekarang yuk!" ajak Keenan. Dia berusaha membuat Dira agar segera menjauh dari tempat itu.
"Tapi, Kee ...."
"Ayo, aku capek dan ingin cepat istirahat di rumah!" ajak Keenan, kali ini dia lebih memaksa. Akhirnya Dira menuruti permintaan suaminya. Dira sedikit melirik ke tempat yang dari tadi di lihat oleh suaminya.
"Itu kan Anjani dan laki-laki itu adalah laki-laki yang waktu itu pernah aku lihat keluar dari rumah." Dira membatin.
__ADS_1
Setelah Keenan dan Dira meninggalkan kafe, seorang wanita yang memakai kaca mata berwarna hitam, mendekati tempat duduk Anjani dan ayahnya.
"Akting kalian cukup bagus, semoga setelah mendengar pernyataanmu barusan Keenan akan meninggalkan putri tiriku itu," puji wanita itu sambil melepas kaca mata yang dia pakai.
"Nyonya, apa sekarang hutangku bisa di anggap lunas?" tanya ayah Anjani.
"Itu semua tergantung seberapa kuat usaha putrimu untuk memisahkan Keenan dari istrinya. Saat putrimu berhasil membuat Keenan meninggalkan Dira, maka saat itulah hutangmu lunas. Bahkan aku akan memberikan bonus 1 milyar untukmu," jawab wanita itu angkuh.
"Tapi Nyonya, bukankah tadi Anda bilang kalau aku dan ayahku cukup melakukan sandiwara itu di depan Keenan. Aku dan ayahku sudah melakukannya. Jadi, seharusnya kan hutang ayahku bisa di anggap lunas." protes Anjani yang merasa kalau ibu tiri Dira itu sudah mengingkari kesepakatan mereka sebelumnya.
"Dengar, Nona!" Anita mencengkeram dagu Anjani kuat. "Kamu pikir 10 milyar itu sedikit? Aku tidak sudi membayar akting kalian semahal itu." Anita melepaskan cengkeramannya dengan kasar.
"Tapi bukankah tadi Anda yang mengatakan itu kepada kami? Kenapa Anda secepat itu berubah pikiran?" tanya Anjani.
"Jangan Nyonya, saya mohon! Saya tidak mau di penjara?" Ayah Anjani mengatupkan kedua tangannya memohon. "Jani, anakku. Jangan mengatakan apa pun lagi. Cukup kamu dengarkan perintah Nyonya Anita. Apa kamu tega melihat ayahmu yang renta ini meringkuk di penjara?"
"Tapi ayah, aku tidak mau merusak kebahagiaan Keenan dan istrinya," Anjani berusaha untuk menolak. "Nyonya. Biar aku yang menggantikan ayahku di penjara. Aku rela menggantikan posisinya asal aku tidak di suruh untuk merusak kebahagiaan Keenan!" pinta Jani.
"Ingat! Kamu tidak dalam posisi untuk bisa menawar! Lakukan saja perintahku atau aku akan memasukkan ayahmu ini ke penjara sekarang juga."
__ADS_1
"Putriku ayah mohon, jangan biarkan ayah di penjara! Ayah mohon Nak, ayah tidak mau di penjara," pinta ayah Anjani lagi.
Anjani mengepalkan tangannya dengan sangat kuat. Dia merasa menjadi manusia yang sangat bodoh karena harus rela menjadi boneka yang menuruti perintah Anita demi sang ayah. Tapi, apa daya hal itulah yang bisa dia lakukan saat ini.
"Katakan padaku apa yang harus aku lakukan sekarang!" ucap Anjani.
"Anak pintar, begitukan lebih baik." Anita mengatakan itu sambil tersenyum. "Untuk hari ini cukup. Sekarang, kalian boleh pergi!" lanjut Anita.
"Terimakasih Nyonya. Ayo Jani kita pergi!" ajak ayah Anjani sambil menarik putrinya itu meninggalkan kafe.
Anita tersenyum puas, dia yakin cepat atau lambat Keenan pasti akan meninggalkan putri tirinya itu. Apalagi, dari raut wajah yang bisa Anita tangkap kalau putra bungsu dari Rangga Wijaya itu masih menyimpan perasaan terhadap Anjani.
"Dira, Dira, anak ingusan sepertimu mana mungkin bisa melawanku. Lihat saja, sebentar lagi Keenan akan mencampakkanmu sama seperti ayahmu yang mencampakkan ibumu," ucap Anita disertai senyum smirknya.
🍂🍂🍂
Yuk, tetap kasih like, komen dan giftnya untuk Babang Kee dan Mbak Dira. Love you ❤️❤️
Oiya, baca juga yuk karyaku yang lain di bawah ini. Kalian gak perlu takut di gantung karena sudah tamat alias end.
__ADS_1
Salam sayang dari otor ter--KECEH🌹