
"Oke, Uncle." Qilla menyatukan jari telunjuk dengan jari jempol hingga membentuk huruf 'O'.
Qilla dan Keenan turun dari dalam mobil yang baru saja mereka tumpangi dan berjalan menuju ke kantor Dira. Namun, tiba-tiba Qilla menghentikan langkahnya, sehingga otomatis membuat langkah Keenan juga berhenti.
"Ada apa, Sayang?" tanya Keenan kepada keponakannya.
Qilla tidak bersuara, dia hanya menunjuk sesuatu di depannya. Di sana terlihat Dira sedang berbicara dengan beberapa orang pria.
"Qilla kenal dengan orang-orang itu?"
Qilla mengangguk takut.
"Siapa?"
"Uncle, mereka preman yang waktu itu mau nyelakain Qilla."
Mendengar jawaban dari keponakannya, membuat Keenan terkejut. "Qilla tidak salah mengenali orang kan?" tanya Keenan memastikan.
"Qilla yakin, Uncle."
Tiba-tiba sebuah prasangka buruk hinggap di hati Keenan. Dia menyuruh keponakannya untuk kembali kedalam mobil dan mendengarkan musik. Dia juga melarang keponakannya itu melihat ke arahnya.
__ADS_1
Qilla mengangguk, gadis kecil itu melakukan semua perintah dari pamannya tanpa banyak berbicara.
Keenan melangkah mendekati mereka dan pada saat itulah dia mendengar sebuah fakta yang tidak bisa dia terima dengan akal sehatnya. Dia berharap kalau apa yang dia dengar saat ini tidaklah nyata. Ternyata preman yang waktu itu hendak mencelakai Qilla adalah orang suruhan dari istrinya, Dira.
"Jelaskan padaku apa maksud semua ini!"
Dira dan ketiga preman di depannya tampak gelagapan.
"Kee, kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Dira sambil berjalan ke arah suaminya.
"Cepat jelaskan padaku, maksud dari semua ini!" titah Keenan penuh emosi.
"Kee, aku... aku bisa jelaskan ini. Kamu... kamu tenang dulu." Dira hendak menyentuh bahu Keenan, tetapi di tepis dengan kasar oleh salah satu ahli waris keluarga Wijaya tersebut.
"Kee, itu... itu.... "
"Jawab!" Sentak Keenan.
"Maafkan aku, Kee," ucap Dira sambil menunduk.
"Kenapa disaat aku sudah mencintaimu. Justru aku baru tahu kebusukanmu." Keenan mengatakan itu dengan suara bergetar menahan emosi yang membuncah di dalam dadanya.
__ADS_1
"Maafkan aku Kee," ucap Dira. "Maafkan aku, karena terlalu banyak dusta yang aku sembunyikan darimu."
"Kamu benar-benar hebat, Dira. Kamu seorang penulis skenario dan pemain yang sangat handal dalam memainkan peran. Aku tidak menyangka kalau demi ambisimu, kamu rela menghalalkan segala cara. Termasuk berpura-pura memberikan pertolongan kepada Qilla."
Dira hanya diam dan tidak menyanggah semua perkataan yang terucap dari mulut sang suami.
Diam adalah cara terbaik yang dia bisa lakukan saat ini.
"Aku kecewa padamu." Setelah mengatakan itu, Keenan kembali masuk ke dalam mobilnya.
Melihat sang paman sudah kembali masuk ke dalam mobil, Qilla segera membuka earphone yang dia pakai.
"Apa Uncle sudah berbicara dengan mereka? Lalu dimana Tante baiknya?" cerocos Qilla.
"Tante baiknya sedang sibuk. Lain kali ya, Qilla ketemu sama Tante baiknya."
"Tapi, tadi kan.... " Qilla langsung diam saat Keenan menatapnya. "Baiklah," jawab Qilla pasrah.
Keenan kembali menyalakan mesin mobilnya, dia segera mengendarainya meninggalkan tempat itu.
Dira menatap kepergian Keenan dengan nanar. "Maafkan aku, Kee. Aku terpaksa melakukan ini." Dira menghapus air matanya yang mengalir dari kedua sudut matanya.
__ADS_1
🍂🍂🍂
Tetap berikan like, komen, giftnya ya, biar otor makin semangat buat update. Salam sayang dari otor-KECEH🌹