KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)

KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)
BAB 57


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju ke sekolah Qilla, Dira terus saja menggerutu. Dia begitu kesal karena saat dia berteriak karena melihat wajahnya yang di penuhi dengan coretan lipstik, Keenan malah menertawakannya. Bahkan tawanya semakin renyah saat melihat Dira menatap hasil karyanya di depan cermin.


Awalnya Keenan membantu Dira mengahapus lukisan di wajahnya. Namun, setelah semua itu selesai dia bukannya keluar dari kamar mandi malah melakukan hal lain di sana. Dan membuat ritual mandi yang tadinya hanya 10-20 menit berubah menjadi satu jam.


"Dira, sudah selesai belum?" tanya Keenan yang sudah berdiri di depan pintu kamar hotel tempat dia dan istrinya menginap dan menghabiskan malam pertama mereka. Beberapa kali dia melihat ke arah jam tangan yang sedang dia pakai saat ini.


"Sebenatar," jawab Dira dari dalam kamar.


"Ayo cepetan. Kak Mikha sudah menelpon kita berkali-kali hanya untuk menanyakan apa kita sudah menjemput Qilla dari sekolahnya."


Tidak lama kemudian Dira ke luar dari kamarnya. "Ayo! ajaknya.


Keenan dan Dira segera menuju ke meja resepsionis untuk mengembalikan kunci dan membayar sewa kamar mereka. Kemudian keduanya kembali melanjutkan langkah mereka menuju ke tempat parkir. Keenan membuk-kan pintu mobil untuk istrinya terlebih dulu, setelah itu barulah dia ikut masuk ke dalam mobil melalui pintu yang ada di sisi kemudi. Setelah memastikan Dira memakai seatbelt dengan benar, Keenan segera menyalakan mesin mobil dan melajukan mobil tersebut dengan kecepatan tinggi. Keenan takut keponakannya itu hilang sama seperti ketika kakaknya terlambat menjemput mereka.


"Semoga kejadian yang sama tidak menimpa Qilla lagi." Keenan sangat mengkhawatirkan keponakannya tersebut.


"Jangan khawatir Qilla pasti akan baik-baik saja. Diakan anak yang sangat cerdas," Dira berusaha membuat suaminya itu untuk tetap bersikap tenang.


Keenan mulai mengurangi laju kecepatan mobilnya saat memasuki area parkir tempat Qilla menimba ilmu. Dengan terburu-buru, Keenan segera masuk ke dalam sekolah dan mencari wali kelas Qilla untuk menanyakan keberadaan keponakannya.


"Kami minta maaf, Bu. Karena terlambat datang menjemput Qilla. Oiya, di mana ya Qilla sekarang?' tanya Keenan kepada wali kelas Qilla.


Wali kelas Dira tampak terkejut mendengar pertanyaan dari Keenan. "Maaf, Pak Keenan. Bukannya tadi Bapak menyuruh orang untuk menjemput Qilla?"


"Maksud Ibu apa ya?" Keenan menjawab pertanyaan wali kelas Qilla dengan pertanyaan.

__ADS_1


"Iya, tadi seorang wanita cantik datang menjemput Qilla. Dan karena Qilla juga mengenal orang itu makanya saya ijinkan dia membawa Qilla pulang," jelas wali kelas Qilla tersebut.


"Saya tidak menyuruh siapa pun. Tapi sebentar, mungkin Kak Mikha atau Kak Dion yang menyuruhnya untuk menjemput Qilla. Aku akan menghubungi Kakak dan kakak iparku sebentar," ucap Keenan. Dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi kedua orang yang di maksud. Wajah Keenan berubah panik setelah menghubungi kedua kakaknya, dia segera menutup sambungan telponnya dan kembali berbicara dengan wali kelas keponakannya tersebut.


"Bagaimana Pak Kee?" tanya wali kelas Qilla.


"Baik Kak Mikha atau pun Kak Dion, tidak menyuruh siapa pun untuk menjemput Qilla. Mereka hanya menyuruhku untuk menjemputnya," jawab Keenan.


"Lalu siapa orang yang menjemputnya? Jika itu penculik sepertinya tidak mungkin karena tadi Qilla terlihat sudah mengenalnya dan bahkan terlihat akrab."


"Akrab?"


"Iya, Pak Kee. Qilla terlihat sangat akrab dengannya," sahut wali kelas Qilla. "Qilla juga memanggilnya aunty."


"Pak Kee, apa Bapak kenal dengan orang yang dipanggil Qilla dengan sebutan Aunty?"


"Iya, saya mengenalnya."


"Syukurlah kalau Pak Kee mengenalnya artinya saya tidak salah orang karena mengijinkannya membawa Qilla dari sekolah." Wali kelas Qilla itu tampak lega setelah sebelumnya sempat cemas.


"Tapi lain kali, sebagai wali kelas yang bertanggung jawab atas keselamatan muridnya ketika berada di lingkungan sekolah, Anda harus bisa memastikan apakah orang yang menjemput murid Anda itu adalah wali atau kerabay dari murid yang di jemput." Keenan mengungkapkan keluhannya kepada wali kelas itu.


"Iya, Pak Kee, lain kali kami akan lebih berhati-hati," jawab wali kelas Qilla yang duduk di depan Keenan dan Dira.


"Kami permisi ya, Bu. Maaf kalau tadi kami sempat membuat ibu merasa tidak nyaman," ucap Keenan.

__ADS_1


"Iya sama-sama, Pak Kee."


Keenan dan Dira keluar dari ruang wali kelas Qilla. Keenan kembali mengambil ponselnya dan menghubungi Anjani, karena dialah satu-satunya wanita yang mendapat sebutan Aunty dari Qilla.


"Jani, apa Qilla bersamamu?" tanya Keenan pada orang di ujung telpon sana.


"Iya, Kee. Dia sedang bermain bersamaku. Sekarang kami sedang bermain di taman dekat sekolah Qilla. Kamu bisa menyusul kami ke sini," jawab Anjani.


"Kamu tetap di situ. Aku akan langsung menjemput Qilla di sana," ucap Keenan sebelum mengakhiri panggilannya. Dia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana.


"Jani, ada di taman yang tidak jauh dari sini. Ayo kita susul dia ke sana!" ajak Keenan sembari menarik tangan Dira.


"Kamu saja yang jemput dia." Dira melepaskan genggaman tangan Keenan dari tangannya.


"Ra, tapi__"


"Aku tidak mau jadi obat nyamuk buat kalian," potong Dira sebelum Keenan menyelesaikan ucapannya. "Siapa tahu kalian ingin mengenang masa-masa indah kalian dulu."


"Ya sudah kamu tunggu di sini. Biar aku jemput Qilla di sana kemudian baru aku kembali lagi ke sini! Ingat jangan kemana-mana dan tetap di sini!"


Dengan sedikit berlari Keenan meninggalkan Dira dan menuju ke taman yang memang letaknya tidak jauh dari tempat itu.


☘️☘️☘️


Yuk like, komen dan giftnya untuk Bang Kee dan Mbak Dira.

__ADS_1


__ADS_2