
Dira terhenyak dari lamunannya saat ponsel di depannya berdering.
"Iya, hallo," sapa Dira.
"Maaf, Bu Dira. Ini di lobi tiba-tiba banyak wartawan yang datang," jawab seseorang dari ujung sana yang ternyata adalah pegawai yang bertugas di meja resepsionis.
"Wartawan? Untuk apa wartawan ke perusahaan kita?" tanya Dira heran.
"Tidak tahu, Bu. Tapi, mereka bilang ingin meminta klarifikasi sesuatu kepada Ibu."
"Mengklarifikasi? Perasaan tidak ada harus saya klarifikasi," gumam Dira. "Kamu usir saja mereka dan katakan kalau aku sedang sibuk!" suruh Dira. Saat ini Dira sedang tidak ingin ingin di ganggu. "Kalau perlu suruh satpam untuk membantu mengusir mereka!" Dira langsung menutup sambungan ponselnya. Dia melempar ponselnya ke atas meja dan kembali menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
Sementara itu, setelah mengantar Qilla ke sekolah Keenan langsung berangkat ke perusahaannya. Tidak seperti biasanya, hari ini Keenan tampak bersikap lebih dingin dari biasanya. Bahkan saat meeting pun hampir semua kena semprot olehnya.
"Kalau kalian tidak bisa bekerja dengan becus silakan resign dari perusahaan ini!" bentak Keenan.
"Tapi, Pak. Bukannya konsep ini sudah di setujui oleh Bapak kemarin," salah satu karyawan yang mencoba untuk membela diri.
"Aku bilang ganti ya ganti! Atau kamu mau aku pecat?" hardik Keenan kepada orang itu. Karyawan tersebut hanya menunduk karena takut.
Arya dan Erik saling tatap, keduanya merasa aneh dengan sikap Keenan pagi ini. Erik memberikan kode kepada Arya agar dia mengambil alih meeting ini, sebelum keadaan semakin runyam.
"Maaf semuanya, meetingnya kita tunda. Silakan kalian ke luar dari ruangan ini!" seru Arya kepada semua karyawan yang ada di ruangan tersebut.
"Ar, siapa yang menyuruhmu membubarkan meeting ini?"
Arya tidak menjawab dan hanya menyuruh semua orang yang ikut meeting untuk keluar.
"Ar, kamu jangan lancang ya!" Keenan menarik kerah Arya dan melayangkan tinjuannya ke wajah asistennya tersebut.
"Kamu tuh yang kenapa?!" teriak Arya, dia membalas dengan melayangkan tinjunya ke wajah tampan Keenan.
__ADS_1
Erik yang melihat perkelahian mereka pun segera memisahkan keduanya. "Stop! Stop!" teriak Erik dengan merentangkan kedua tangannya di tengah-tengah keudanya.
"Kenapa kalian malah berantem, sih?" tanya Erik kepada dua orang dewasa yang baru saja saling tinju.
"Ar, aku memintamu untuk mengambil alih meeting. Bukan malah berantem seperti ini? Dan kamu Kee, aku tidak tahu apa yang terjadi padamu hari ini. Tapi, kamu tidak pantas menjadi pemimpin jika sikapmu se-arrogan tadi."
Keenan dan Arya keduanya terdiam dan memalingkan wajah mereka masing-masing. "Kompres dulu wajah kalian dengan air es di pantri, tidak baik jika sampai di lihat oleh karyawan lain!" seru Erik pada keduanya.
Keenan dan Arya, sama-sama menuju pentri. Keduanya meminta air es kepada OB dan mulai mengompres wajah masing-masing. Cukup lama keduanya sama-sama diam.
"Maaf," ucap Arya memulai pembicaraan. "Harusnya aku tidak ikut emosi saat menegurmu."
"Aku juga minta maaf, seharusnya aku tidak mencampur adukkan masalah pribadi saat sedang memimpin meeting," balas Keenan.
Arya merubah posisi duduknya menghadap Keenan. "Ada apa Kee? Kamu tidak biasanya seperti ini? Kamu selalu bisa memisahkan antara persoalan pribadi dan persoalan pekerjaan? Apa ini ada hubungannya dengan Dira, istrimu?" tebak Arya.
Keenan menghela napas berat. Laki-laki tampan itu meletakkan sapu tangan yang dia gunakan untuk mengompres wajah memarnya di atas meja.
"Ada apa dengan Dira? Kenapa sampai kamu tidak bisa mengendalikan dirimu seperti ini?" tanya Arya lagi.
Belum sempat Keenan menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Alea masuk ke pentri itu dengan wajah cemas.
"Kee, kamu harus ke perusahaan istrimu sekarang juga! Aku tidak tahu berita itu benar atau tidak, tapi kamu harus segera ke sana!" ucap Alea tanpa jeda.
"Al, apa maksudmu?" tanya Arya pada wanita yang baru datang barusan.
Alea hanya menunjukkan layar ponselnya kepada dua lelaki di hadapannya.
"Jadi ini yang membuatmu kehilangan kendali?" kini tatapan Arya beralih ke wajah sahabatnya.
"Kamu harus segera mengklarifikasi ini, jika tidak perusahaan istrimu bisa dalam masalah!" suruh Arya.
__ADS_1
"Aku tidak peduli," jawab Keenan.
"Kee, aku tidak tahu masalah kalian apa. Tapi, jika berita itu sampai tersebar aku yakin bukan hanya perusahaannya saja yang dalam masalah. Tapi, istrimu juga akan ikut bermasalah."
"Bodo," jawab Keenan. Dia malah meninggalkan Arya dan kembali ke ruangannya.
Erik yang mendengar Dira dalam masalah segera ke luar meninggalkan perusahaan.
***
"Bu, apa benar orang yang ada di dalam video itu adalah Ibu?"
"Apa orang-orang itu adalah orang suruhan ibu?"
"Jadi pernikahan Ibu dan Pak Keenan hanya sebuah kesepakatan agar Anda bisa mengambil alih perusahaan ini?"
Cecar para wartawan itu saat melihat Dira ke luar dari perusahaan.
"Maaf, saya belum bisa menjelaskan tentang semua ini. Permisi!" Dira berusaha agar dirinya bisa menerobos keluar dari kerumunan para wartawan tersebut. Namun, dirinya terkejut saat ada orang yang melemparnya dengan plastik berisi air.
Dari kejauhan Anita begitu puas melihat kejadian itu. "Kamu lihat saja, setelah ini para pemegang saham dan investor pasti akan menarik investasinya dari perusahaan ini. Dan saat itulah aku akan muncul sebagai penyelamat," gumam Anita.
"Anda tidak apa-apa kan, Bu?" tanya salah seorang karyawan yang berdiri tepat di sebelah Dira. "Hei, kenapa kamu melempar ibu Dira dengan air? Apa kamu mau kami tuntut?!" sentaknya.
"Sudah, aku tidak apa-apa." Dira tetap berusaha untuk bersikap tenang.
"Wanita seperti dia pantas diperlakukan seperti itu." Dia bahkan memprovokasi wartawan yang lain agar melakukan hal yang sama.
Dan dari arah yang lain, ada orang yang kembali melemper Dira dengan plastik yang berisi air comberan. Tepat saat itulah, seseorang datang dan menjadi tameng untuk Dira. Dia menyelematkan Dira dari tumpahan air comberan itu.
🍂🍂🍂
__ADS_1
Sorry ya Gaes, otor semalam ketiduran jadi baru bisa up😅🙏. Tetap berikan like, komen dan giftnya untuk Mbak Dira dan Babang Kee.
Salam sayang dari otor ter--KECEH 🌹🌹