
Setelah dari ruang control cctv di rumah sakit, Keenan juga ikut berkeliling mencari istrinya dengan sesekali dia menanyakan hasil pencarian Arya dan Erik. Tiba-tiba saat berkendara bayangan cctv yang menangkap gambar perawat yang selama ini merawat papanya muncul di otaknya.
"Shit! Kenapa aku tidak kepikiran sebelumnya!" umpat Keenan. Dia segera mengambil ponsel dari saku celananya dan menghubungi pembantu rumah Dira.
"Bi, bagaimana keadaan papa di rumah? Dia baik-baik saja kan?" tanyanya pada sang pembantu.
"Kata susternya, bapak sakit, Tuan. Makanya sekarang sister sedang ke luar untuk mencari obat," jawab asisten rumah tangga tersebut dari ujung sana.
"Bi, cepat lihat kamar papa sekarang!"suruh Keenan dia mulai mencurigai perawat itu setelah mengawasi ekspresinya saat menemukan ponsel Dira di cctv.
"Baik, Tuan. Memang kenapa?" tanya pembantu itu bingung.
"Lakukan sekarang cepat, sebelum suster itu kembali!" titih Keenan.
"Baik, baik, Tuan." Terdengar langkah kaki dari asisten itu menaiki anak tangga karena memang letak kamar papa mertuanya juga berada di lantai dua.
"Tuan, Tuan, apa saya boleh masuk?" tanya ART tersebut dari balik pintu. Setelah beberapa saat tidak ada jawaban, ART itu mencoba membuka pintu yang ada di depannya. Tapi, ternyata pintu itu sudah di kunci.
"Tuan Kee, pintunya terkunci. Bapak juga tidak menyahut panggilan saya," ART itu memberitahu.
"Bibi, cari duplikat kuncinya, aku akan menyuruh Erik ke sana," ucap Keenan mengakhiri panggilannya.
***
__ADS_1
Keenan segera menghubungi Erik.
"Kee, kebetulan kamu menelponku. Ada yang ingin aku laporkan padamu," kata Erik saat dia menerima panggilan dari Keenan.
"Lapor tentang apa, Rik?"
"Barusan aku dapat informasi kalau ada pemesan tiket pesawat ke luar negeri atas nama Anita dan Riska. Cuma yang menjadi pertanyaan kenapa yang memesan tiket itu bernama Susi. Aku merasa kalau Susi ini juga termasuk orang suruhan Anita."
"Itulah yang barusan aku ingin katakan padamu. Kamu segera ke rumah Dira sekarang, papa Hendrawan terkurung di dalam kamar!" suruh Keenan.
"Memangnya kamu mau kemana?" tanya Erik lagi.
"Aku harus memastikan sesuatu. Sudah dulu ya, Rik. Kamu ke tempat papa Hendrawan sekarang juga. Kabari aku begitu kamu sampai di sana!" suruh Keenan sebelum mengakhiri panggilannya.
***
"Aku tidak peduli dengan ucapanmu. Nyonya Anita adalah orang yang berjasa dalam hidupku, dia memungutku dari jalan dan menyekolahkan aku hingga aku menjadi seorang perawat. Jadi, saat dia membutuhkan aku untuk membantunya bukankah sebagai orang yang tahu balas budi, aku harus bersedia membantunya." Jawab Susi. "Apa lagi nyonya Anita berjanji akan memberiku sepertiga bagian dari harta yang dia dapat. Jadi, aku dengan senang hati membantunya."
"Wah, Wah, ternyata kamu orang yang pandai berbalas budi juga ya rupanya. Aku benar-benar salut padamu," ucap Dira sinis. Dia sengaja ingin membuat ketiga orang di depannya sedikit lengah.
"Nyonya tidak akan lupa dengan janji Nyonya itukan?" tanya Susi kepada Anita.
"Tentu saja tidak, saat kita berhasil kabur dari sini dan mendapat uang itu kita akan membaginya rata," jawab Anita.
__ADS_1
"Sus, kapan pesawat kita akan berangkat?" tanya Riska.
"Besok, jam 9. Jadi, setelah dari bank, kita akan langsung meninggalkan kota ini," jawab Susi.
"Nyonya, memangnya tidak masalah kita bersembunyi di sini?" tanya Susi pada Anita.
"Tidak masalah, karena sudah lama aku mematikan cctv di ruangan ini." Jawab Anita.
"Pantas, tidak ada yang tahu kalau kami ada di sini." batin Dira.
"Sus, cepat kamu kembali ke rumah itu sebelum ada yang tahu tentang keadaan Hendrawan!" suruh Anita.
"Baik, Nyonya. Aku akan pulang sekarang," jawab Susi. Wanita yang sehari-harinya bekerja merawat Hendrawan itu berniat meninggalkan ruangan itu. Namun, tanpa di duga. Dira dengan cepat mendorong tubuhnya ke arah Anita. Dan dia sendiri lari ke luar dari ruangan itu. Walau sedikit sulit karena tangannya dalam keadaan terikat.
Riska, Anita dan Susi berusaha untuk mengejar Dira.
"Kita harus mendapatkan dia sebelum dia berhasil menghubungi security," seru Anita.
Namun, semuanya terlambat. Dira sudah berhasil kabur dan berbalik mengunci mereka di dalam ruangan itu.
"Dira, buka pintunya! Atau kami akan membunuhmu saat kami bisa ke luar nanti!" teriak Anita sambil terus menggedor pintu.
"Aku yang akan menjebloskan kalian ke dalam penjara," jawab Dira dari luar.
__ADS_1
Dengan tangan yang masih terikat, Dira segera pergi menjauhi ruangan itu. Saat itulah matanya melihat kearah lift, dia pun berajalan mendekati lift itu dan berusaha untuk membuka pintunya. Akhirnya, setelah berkali-kali berusaha pintu itu pun terbuka. Dira segera masuk ke dalam lift itu dan pada saat itulah tanpa sengaja dia menabrak tubuh seseorang.