
Mata Keenan langsung terbuka saat menyadari sesuatu, demikian juga Dira, matanya membeliak sempurna karena ada yang dia rasakan.
"Aaaaa," teriak Dira seraya menyingkirkan tangan Keenan yang menyentuh gundukan kembar miliknya. Begitu juga Keenan, dia langsung bangun dan menjauhkan tangannya dari hal yang tidak ingin dia sentuh.
"Apa yang barusan kamu lakukan? Dasar mesum!" omel Dira dengan menyilangkan kedua tangannya.
"Hei, harusnya aku yang bertanya, apa yang sedang kamu lakukan disini? Kamukan harusnya tidur di sofa, kenapa kamu bisa sampai disini? O ... jangan-jangan kamu sengaja ingin memperkosaku ya?"
"Heh, dasar sinting! Mana ada perempuan yang memperkosa laki-laki, kamu tuh yang barusan ingin berbuat tak senonoh padaku," sahut Dira.
"Siapa juga yang ingin berbuat tak senonoh padamu. Kamu sendiri yang naik ke atas tempat tidurku dan lihat kamu bahkan sengaja menggodaku dengan berpakaian seperti itu," cibir Keenan.
"Aku ...."
"Apa?!?" Keenan melotot menatap Dira.
"Percuma juga berdebat dengan dia. Tetap saja aku yang kalah, apalagi pakaianku memang seperti ini," batin Dira.
"Sana, palingkan wajahmu! Aku tidak mau kamu melihat tubuhku!" suruh Dira.
"Siapa juga yang ingin melihat tubuhmu. Najis, tahu nggak." Ketus Keenan. Dia mendengkus seraya memalingkan wajahnya dari Dira.
Dira menarik selimut yang menjadi sumber keapesannya barusan. Dan mungkin hari itu benar-benar hari apes untuk Dira, gara-gara dia memaksa untuk menarik selimut yang ujungnya masih tertindih tubuh Keenan membuat tubuhnya terjungkal dilantai dan lebih apesnya lagi Keenan ikut terjatuh di atas tubuhnya. Beruntung Keenan memiliki refleks yang bagus, tangan kanannya berhasil menyangga kepala Dira agar tidak membentur lantai.
Bak sebuah magnet mata keduanya bertaut dan menimbulkan getaran aneh pada diri sepasang suami istri yang tidak saling memcintai tersebut. Dira kembali mendorong tubuh Keenan saat bagian sensitif dari pria itu menegang.
"Dasar mesum, sana menyingkir dari tubuhku!" seru Dira.
Keenan yang sudah sepenuhnya sadar segera bangun dari posisinya.
__ADS_1
"Heh, aku ini pria normal, walau bagaimanapun bagian itu pasti akan sensitif saat bertemu dengan hal yang memancingnya," jawab Keenan.
Kini Dira juga sudah dalam posisi berdiri tepat didepan pria ketus yang sekarang sudah sah menjadi suaminya.
"Bukannya tadi kamu bilang, kalau tubuhku ini najis untuk kamu sentuh? Terus kenapa bisa kamu terpancing?" Dira sengaja mengingatkan Keenan akan ucapannya. Dia mencoba memberitahu Keenan, kalau tubuhnya tidak senajis yang pria itu pikirkan.
Gleg. Kini Keenan yang bersusah payah menelan ludahnya sendiri. Hem yang dipakai Dira memang tidak tipis, tapi juga tidak terlalu tebal untuk bisa menutupi tubuh sintalnya. Bahkan gundukan kembar yang berada dibalik itu tampak jelas terlihat.
"Sial! Jika aku masih tetap disini, aku pasti tidak akan bisa mengendalikan diriku," batin Keenan.
Keenan lebih memilih keluar dari kamarnya, daripada harus meladeni hal yang menurutnya tidak penting. Dan sebelum keluar, Keenan menyuruh Dira untuk mengunci pintu kamarnya.
Setelah Keenan keluar dari dalam kamar, Dira membaringkan tubuhnya di atas sofa. Tidak lupa dia menutup tubuhnya dengan selimut yang sejak tadi menjadi biang keributan dirinya dengan Keenan.
"Apa yang sedang aku pikirkan kenapa sentuhan itu masih terasa dan benda itu ...."
Dira menggeleng dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, dia berusaha menghilangkan pikiran aneh dari kepalanya.
"Dasar cowok mesum." Kembali Dira mengumpat agar bisa melupakan hal yang dia rasakan beberapa menit yang lalu.
Di tempat lain, Keenan memilih menghabiskan waktunya dengan berdiri di atap gedung hotel sambil menikmati indahnya malam.
"Shit, kenapa aku harus menyentuhnya," umpat Keenan. Dia menatap telapak tangan yang tanpa sengaja menyentuh benda kenyal milik Dira tersebut. Bahkan bayangan tubuh Dira yang berada dibalik hem juga ikut muncul di kepalanya.
"Kalau begini, cara satu-satunya untuk menghilangkan bayangan itu, aku harus menyibukkan diriku dengan bekerja." batin Keenan.
Saat Keenan hendak meninggalkan atap gedung, saat itu pula Arya datang.
"Pengantin baru kenapa diluar?" goda Arya. "Harusnya malam inikan waktu untuk kalian bermesraan."
__ADS_1
"Apaan sih, Ar."
Arya tertawa melihat ekspresi kesal sahabatnya.
"Ohya, bagaimana hasil penyelidikannya? Apa kamu menemukan sesuatu?" tanya Keenan.
Arya mengambil sesuatu dari dalam sakunya. "Ini," ucapnya sembari memberikan sebuah USB kepada Keenan.
"Terimakasih," ucap Keenan.
Arya hanya menjawabnya dengan acungan jempol.
"Aku mau lihat ini sekarang." Keenan melangkah meninggalkan tempat itu. Tapi, baru beberapa langkah dia kembali lagi.
"Ada apa, Kee?" tanya Arya yang heran melihat tingkah sahabatnya.
"Aku pinjam laptopmu ya," jawab Keenan.
"Kenapa?"
"Aku hanya malas kembali ke kamar," jawab Keenan.
"Aku makin yakin, kalau terjadi sesuatu barusan dan itu mengganggu pikiranmu." Arya menatap Keenan penuh selidik. "Apa? Ceritakan saja padaku!"
"Mana mungkin aku menceritakan hal konyol yang terjadi di kamar barusan? Apalagi sampai bilang kalau gara-gara itu aku jadi menginginkannya," batin Keenan.
"Hei, kok malah melamun." Arya menepuk bahu sahabatnya itu.
"Tidak apa-apa. Ayo ke kamarmu, aku sudah tidak sabar ingin melihat ini."
__ADS_1
"Baiklah," jawab Arya. "Ayo!"
Akhirnya Arya dan Keenan meninggalkan tempat tersebut.