KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)

KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)
BAB 80


__ADS_3

"Pagi, Sayang," sapa Keenan saat sang istri, Dira, membuka matanya.


"Kamu sudah bangun, Kee?" tanya Dira sembari mengucek matanya yang terlihat masih mengantuk.


"Maafkan aku sayang, karena semalam sudah membuatmu terjaga dan kelelahan," ucap Keenan yang berbaring di samping Dira dalam posisi miring menghadap sang istri.


"Tidak apa-apa, Kee. Ini sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang istri," jawab Dira sambil memiringkan tubuhnya menghadap sang suami.


"Kamu mandilah, setelah itu kita sarapan!" seru Keenan.


"Memang kamu sudah mandi?"


"Sudah dari tadi, aku mau membangunkanmu rasanya tidak tega karena kamu terlihat kelelahan," jelas Keenan.


Dira mengambil ponsel miliknya yang berada di atas meja untuk melihat jam. Ternyata masih jam 5 pagi, setidaknya dia masih ada waktu untuk menjalankan sholat subuh sehabis mandi nanti.


"Kamu mau apa Kee?" tanya Dira saat tiba-tiba Keenan mengangkat tubuhnya.


"Membawamu ke kamar mandi," jawab Keenan.


"Kee, turunkan aku! Aku bisa ke kamar mandi sendiri!"


"Aku akan menurunkanmu saat kamu sudah berada di dalam kamar mandi," jawab Keenan yang masih bersikeras membopong tubuh sang istri.


"Tapi, aku malu." Dira berusaha menutupi tubuhnya yang memang masih polos.


"Kenapa harus malu? Aku sudah melihat semua bagian tubuhmu, aku bahkan sudah hapal tiap jengkalnya." Jawaban Keenan membuat wajah Dira semakin merah karena malu.


"Dasar mesum!"


"Mesum sama istri sendiri tidak dosa, sayang." Sekali lagi jawabn Keenan semakin membuat Dira salah tingkah.


Begitu tiba di dalam kamar mandi, Keenan menurunkan tubuh istrinya. "Maafkan aku, karena aku tidak bisa membantumu untuk mandi. Karena jika aku melakukan itu, kamu akan kehilangan waktu untukmu menjalankan sholat subuh."


Keenan mencium bibir istrinya sekilas kemudian meninggalkannya di kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah selesai dengan ritual mandinya, Dira segera melaksanakan kewajibannya kepada Sang Pencipta.


Pukul 06.00 WIB, Keenan dan Dira memulai sarapan pagi mereka. Usai sarapan Keenan mengantarkan istrinya untuk berangkat ke perusahaan milik kakeknya.


"Stop! Stop!" Mendadak Dira menyuruh suaminya itu untuk berhenti.


"Ada apa, Sayang?" tanya Keenan.

__ADS_1


"Kee, kamu lihat wanita itu?" tunjuk Dira kepada wanita yang berada tidak jauh di depannya. "Sepertinya dia memerlukan bantuan kita."


Benar saja, tidak jauh dari pandangan mereka ada seorang wanita berkaca mata sedang di ganggu beberapa berandalan.


"Kee, kamu tolong dia ya. Aku paling benci kalau ada laki-laki yang beraninya main keroyokan untuk mengganggu wanita." Dira berujar.


"Baiklah, kamu di sini! Aku akan menolongnya." Keenan segera turun dari mobil yang dia kendarai.


"Hati-hati," teriak Dira.


Keenan membantu wanita berkaca mata yang tidak di kenalnya. Setelah mengalahkan para preman yang mengganggu tadi, dia segera membantu wanita tersebut memasukkan barang-barangnya ke dalam koper yang sempat di buang tadi.


"Terimakasih," ucap wanita itu.


Dira turun dari mobil menghampiri suaminya. Dia ikut membantu Keenan memasukkan barang-barang wanita tadi ke dalam koper.


"Anda tidak apa-apakan?" tanya Dira.


"Ti ... ti ... tidak," jawab wanita itu agak terbata. Sepertinya dia masih ketakutan karena kejadian yang baru saja menimpa dirinya.


"Kamu Riska kan?" tanya Dira saat melihat wajah perempuan yang mereka tolong. Wanita itu tampak bingung menatap Dira.


"Aku Dira, kita pernah satu kelas waktu SMA," jelas Dira. Wanita menatap Dira dengan seksama sambil mencoba memutar kembali memorinya beberapa tahun yang lalu.


"Iya," jawab Dira. "Ris, kenapa kamu bisa seperti ini? Bukannya dulu kamu bilang orang tuamu orang kaya? Kok bisa kamu jadi seperti ini?" tanya Dira yang penasaran dengan nasib teman sekolahnya.


"Orang tuaku bangkrut dan mereka bunuh diri."


"Maafkan aku ya, Ris."


"Tidak apa-apa," jawab Riska yang tampak sedih. "Sejak orang tuaku meninggal, aku hidup luntang lantung di jalan. Tiap melamar pekerjaan selalu di tolak karena alasan penampilan." keluh Riska.


"Sabar ya, Ris. Aku yakin, kamu bisa melewati ini semua." Dira mengusap bahu Riska sebagai bentuk dukungan terhadap temannya itu.


"Kalau tidak ada yang perlu di bicarakan lagi. Aku pergi ya, aku harus segera menacari tempat baru untuk tinggal," ucap Riska. Dia segera menyeret kopernya dan mulai melangkah meninggalkan Keenan dan Dira.


"Tunggu!" cegah Dira.


"Kee, aku bolehkan mempekerjakan dia di perusahaanku?" Dira meminta pendapat kepada suaminya.


Keenan menatap wanita di depannya dengan seksama. Sebenarnya dia merasa enggan untuk menyetujui istrinya mempekerjakan dia di perusahaan yang belum sah menjadi milik istrinya tersebut. Tapi, dia juga tidak bisa melarang karena tidak memiliki alasan yang kuat.


"Terserah kamu, sayang." Keenan menjawab sambil mengusap rambut istrinya. Namun, pandangannya tak luput dari wanita yang bernama Riska. Entah kenapa Keenan merasa ada sesuatu yang tidak beres dari teman istrinya tersebut.

__ADS_1


"Ris, kamu bisa bekerja di perusahaan milik kakekku jika kamu mau. Kamu juga bisa tinggal bersamaku." Ajak Dira.


"Tapi ...."


"Ikut saja."


Akhirnya Riska bersedia ikut bersama Dira.


"Kee, antar aku ke rumah dulu. Biar hari ini Riska bisa beristirahat, biar besok dia baru mulai bekerja bersamaku!" pinta Dira.


"Baiklah," jawab Keenan.


"Ayo, Ris. Kamu ikut kami!" ajak Dira.


Wanita bernama Riska itu awalnya agak ragu untuk ikut, tetapi setelah di paksa oleh Dira, dia pun akhirnya setuju. Akhirnya Keenan mengantarkan istri dan teman istrinya itu pulang ke rumah.


"Sayang, aku langsung ke kantor ya," pamit Keenan sembari mencium kening istrinya.


"Hati-hati," jawab Dira.


Setelah mobil yang Keenan kendarai sudah tidaj terlihat, Dira membawa temannya itu masuk ke dalam rumah.


"Dari mana kamu semalaman nggak pulang?" tanya Anita ketus.


"Semalam suamiku mengajak aku dinner dan kami langsung menginap di hotel," jawab Dira.


"Apa kamu tidak khawatir kalau suatu saat Keenan akan meninggalkanmu karena status ibumu itu?" tanya Anita dengan nada sedikit merendahkan.


Dira lebih memilih untuk tidak menjawab. "Oiya, Ma. Di rumah ini masih ada kamar yang kosongkan?" tanya Dira.


"Untuk apa kamu menanyakan kamar kosong?"


"Aku membawa teman untuk menginap di sini, dia akan bekerja di kantor untuk membantuku," jawab Dira.


"Rumah ini bukan panti sosial, jadi untuk apa kamu membawa orang untuk tinggal bersama kita?" tanya Anita.


"Dia hanya sementara tinggal di sini. Setelah dia mulai bekerja di perusahaan, dia akan mencari tempat tinggal yang baru."


"Baguslah, aku tidak suka rumahku dihuni oleh orang-orang yang tidak jelas," desis Anita.


"Ris, kenalkan dia ibuku. Ma, dia Riska, temanku yang akan tinggal sementara di sini." Dira mengenalkan temannya kepada Anita.


Anita terperangah saat mengetahui teman yang di ajak oleh putri tirinya, Dira.

__ADS_1


__ADS_2